Tampilkan postingan dengan label Tharifah al-Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tharifah al-Qur'an. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 November 2015

Naktal Nama Saudara Nabi Yusuf

Naktal Nama Saudara Nabi Yusuf

Oleh; H. Rizqi Dzulqornain al-Batawiy

بسم الله الرحمن الرحيم

 حمدا له أظهر في الوجود *** نور حقيقة النبي المحمود
وصل يا رب على محمد *** الفاتح الخاتم طه الأمجد
وناصر الحق وهادينا الى *** صراطك القويم نهج الفضلا
وآله بحق قدره الفخيم *** وجاه مقدار مقامه العظيم.

أما بعد:

Syaikh Muhammad Bin Shalih al-Ustaimin (Lahir 1928-2001 Masehi) mendengar ada seorang tetangganya yang istrinya baru saja melahirkan. Syekh Muhammad al-Ustaimin bertanya: Siapa nama anakmu? Tetangganya menjawab: Saya akan beri nama anakku dengan nama naktal !! Syekh Muhammad Al-Ustaimin bertanya lagi: Apa yang kau ketahui tentang nama itu? Tetangganya menjawab: Naktal adalah nama saudara Nabi Yusuf alaihis salam, saya ingin bertabarruk dengan nama itu. Syekh Muhammad al-Ustaimin: "Dari mana kau tahu bahwa Naktal adalah nama Saudara Nabi Yusuf Alaihis Salam?
Tetangganya menjawab: Dari surat Yusuf ayat; 63.

فَلَمَّا رَجَعُوا إِلَى أَبِيهِمْ قَالُوا يَا أَبَانَا مُنِعَ مِنَّا الْكَيْلُ فَأَرْسِلْ مَعَنَا أَخَانَا نَكْتَلْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ .

Maka ketika mereka telah kembali kepada ayahnya (Yakub) mereka berkata, “Wahai ayah kami! Kami tidak akan mendapat jatah (gandum) lagi, (jika tidak membawa saudara kami), sebab itu biarkanlah saudara kami pergi bersama kami agar kami mendapat jatah, dan kami benar-benar akan menjaganya.”

Tetangganya: Pada ayat itu jelas sekali disebut kata ( أَخَانَا نَكْتَلْ  ) saudara kami Naktal.

Mendengar hal itu, Syekh Muhammad al-Ustaimin akhirnya mesem-mesem ketawa sorak habis-habisan dalam hatinya.

Kisah di atas dikutip dari kitab Ittihaful Amajid Binafaisil Fawaid jilid 2 halaman; 98 karya Abu Mun'yah as-Sakunjiy.

Dalam kitab tafsir Anwarut Tanzil Wa Asrarut Ta'wil jilid 1 halaman: 477, karya Imam Abdullah Bin Umar al-Baidhawiy (wafat 791 Hijriyah) disebutkan bahwa anak-anak Nabi Ya'qub Alaihis Salam ada 12 sebagai berikut:

1.Ruwaibil
2. Syam’un
3. Lawi
4. Yahudza
5. Yasyakhar
6. Zabalun
7. Bunyamin
8. Asyir
9. Dan
10. Naftali
11. Jad
12. Yusuf

Jadi itu orang salah memahami ayat al-Qur'an surat Yusuf ayat 63. Kesimpulannya, biar kata ada orang hafal al-Qur'an bisa dia baca dari belakang bolak balik, dan ia coba-coba memahami ayat-ayat al-Qur'an dengan pendapatnya sendiri tanpa memahami penjelasan para ulama ahli tafsir, maka sudah dipastikan ia akan terjerumus dalam kesalahan yang sangat fatal.

Seorang penyair berkata:


وكم من عائب قولا صحيحا ** وآفاته من الفهم السقيم

“Betapa banyak orang mencela satu ucapan yang benar dan terbukti latar belakangnya adalah adanya kesalahan dalam memberikan pemahaman ."

Biar tidak salah, ayo ngaji kepada para ulama yang benar-benar berkompeten dalam bidangnya. Kalau mengakaji al-Qur'an dan hadis kepada ahli uka-uka pasti dapet pemahaman samba wera yang kaga karu-karuan.

Para pembaca jangan salah faham juga dengan saya, ketika saya menyebut tokoh wahhabi blongkotan dengan nama Syekh Muhammad Ustaimin. Sebenarnya saya kurang suka membaca kitab-kitab ulama wahhabiy lantaran terlalu ekstrem dan sangat tasahul (gampang) menggunakan term Bid'ah, kafir, musyrik dan sesat kepada muslim lain yang berbeda pandangan dengannya. Tapi untuk sosok Muhamad al-Ustaimin ini menurut saya pribadi, beliau lebih banyak mengerti tentang hadis ketimbang al_Albaniy. Sekali lagi saya nyatakan ini hanya pendapat pribadi, saya tidak ngajak-ngajak sodara untuk mengamininya.

Dalam hal ini saya hanya mengamalkan perkataan ahli ma'rifah: "Ambillah hikmah walaupun keluar dari mulut orang gila."






Khadimul Majlis al-Mu'afah
H. Rizqi Dzulqornain al-Batawiy M.A

Ikuti Kajian Islam:

instagram.com/rizkialbatawi

@rizkialbatawi

https://www.facebook.com/Rizqi-Zulqornain-Albatawi

 ********* ******** ********

يا فالق الحب والنوى، أعط كل واحد من الخير ما نوى، وارفع عنا كل شكوى، واكشف عنا كل بلوى، وتقبل منا كل نجوى، وألبسنا لباس التقوى، واجعل الجنة لنا مأوى .

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ، وَعَلىَ آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْمِ.
صلاةً تَجْعَلُنَا مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيْرًا، وَرِزْقًا كَثِيْرًا، وَقَلْبًا قَرِيْرًا، وَعِلْمًا غَزِيْرًا، وَعَمَلاً بَرِيْرًا، وَقَبْرًا مُنِيْرًا، وَحِسَابًا يَسِيْرًا، وَمُلْكًا فِي الْفِرْدَوْسِ كَبِيْرًا
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Alamat Yayasan al-Muafah

Jalan Tipar Cakung Rt: 05 Rw 08 NO: 5 Kampung Baru, Cakung Barat, Jakarta Timur 13910


فَأَكْرِمِ اللَّهُمَّ مَنْ أَكْرَمَنَا .:. وَكَثِّرِ الْخَيْرَ لَدَيْهِ وَالْغِنَا
وَأَعْطِهِ مِمَّا رَجَى فَوْقَ الرَّجَا .:. وَاجْعَلْ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجَا
وَافْعَلْ كَذَلِكَ بِكُلِّ مُحْسِنِ .:. اِلَى ذَوِي الْعِلْمِ بِظَنٍّ حَسَنِ
وَاهْدِ جَمِيْعَنَا اِلَى الرَّشَادِ .:. وَلِطَرِيْقِ الْخَيْرِ وَالسَّدَادِ
وَابْسُطْ بِفَضْلِكَ عَلَيْنَا نِعْمَتَكْ .:. وَانْشُرْ عَلَيْنَا فِي الدَّارَيْنِ رَحْمَتَكْ
وَاخْتِمْ لَنَا عِنْدَ حُضُوْرِ الْأَجَلِ .:. بِالْعَفْوِ مِنْكَ وَالرِّضَى الْمُعَجَّلِ
أَمِيْنَ أَمِيْنَ اسْتَجِبْ دُعَانَا .:. وَلاَ تُخَيِّبْ رَبَّـــــنَا رَجَـــــــــــــــــانَا




 ********* ******** ********

اللَّهُــــــــــــــمَّ صَلِّ عَلَى سيِّــــــــدِنَا محمدٍ الفاتِـــــــــحِ لِمَا أُغْلِــــــــــــــقَ والخَـاتِــــــــــــــــمِ لِمَا سَبَــــــــــقَ، نَاصِـــــــــرِ الحَقِّ بالحـــــــــــــــــقِّ، والهـــــــــــــــــادِي إلى صِرَاطِـــــــــكَ الْمُسْتَقِيـــــــــــــــــــمِ، وَعَلَى آلِهِ حـــــــــقَّ قَدْرِهِ ومِقْــــــــــــدَارِهِ العَظِيــــــــــــــمِ.

(لَيْسَ لَهَا مِن دُونِ اللَّـهِ كَاشِفَةٌ)

اللَّهـُمَّ بِـحَقِّ هَذِهِ الْآيَةِ الشَّرِيفَةِ وَمَا بِـهَا مِنْ أَسْرَارٍ أَنْ تَكْشِفَ ضُرَّنَا وَتَصْرِفَ عَنَّا كَيْدَ مَنْ كَادَنَا وَشَرَّ مَنْ أَرَادَ بِنَا شَرَّاً وَرُدَّ كَيْدَهُ فِي نَحْرِهِ وَاَشْغِلْهُ عَنَّا بِشَاغِلٍ لَا يَسْتَطِيعُ رَدَّهُ  يَا اللَّـه .


Alamat Yayasan al-Muafah
Jalan Tipar Cakung Rt: 05 Rw 08 NO: 5 Kampung Baru, Cakung Barat Jakarta Timur 13910




Selasa, 15 September 2015

Penghapal Al-Qur'an Tapi Bodoh Ilmu Nahwu

Kisah Penghapal al-Qur'an Yang Egois

Oleh; H. Rizqi Dzulqornain al-Batawiy

بسم الله الرحمن الرحيم

 حمدا له أظهر في الوجود *** نور حقيقة النبي المحمود
وصل يا رب على محمد *** الفاتح الخاتم طه الأمجد
وناصر الحق وهادينا الى *** صراطك القويم نهج الفضلا
وآله بحق قدره الفخيم *** وجاه مقدار مقامه العظيم.

أما بعد:

Ilmu Nahwu dan sharaf (gramatika bahasa Arab) memiliki posisi yang sangat penting dalam mempelajari Bahasa Arab. Nahwu merupakan ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa jabatan kata dalam kalimat Bahasa Arab. Sedangkan sharaf adalah ilmu yang mempelajari perubahan bentuk kata untuk mendapatkan ma’na yang dikehendaki.

Dalam kedudukannya, ilmu agama merupakan anak dari ilmu nahwu dan sharaf. Nahwu memiliki peran sebagai ayahnya dan sharaf sebagai ibunya, oleh karena itu, tidak mungkin ada seorang anak tanpa adanya ayah dan ibu. Dapat dikatakan nahwu dan sharaf merupakangerbang dari segala pintu agama.

Orang yang tidak menguasai ilmu Nahwu dan Sharaf, maka dipastikan bahasa arabnya rusak secara mutlak. Berapa banyak orang yang coba-coba berani menjelaskan al-Qur'an padahal tidak menguasai prangkat ilmu Bahasa Arab. Bagi orang seperti ini wajib baginya tawaqquf (berdiam diri) lantaran dikhawatirkan orang tersebut memperkosa al-Qur'an dan hadist.

Dalam sebuah syair dikatakan:

النحو زين للفتى ** يكرمه حيث اتى
من لم يكن يحسنه ** فحقه ان يسكت

Artinya: ilmu Nahwu menjadi perhiasan bagi seseorang, ilmu itu akan menjadikan seseorang mulia. Siapa saja yang tidak pandai menguasainya, alangkah baiknya dia diam (jangan banyak bacot).

Berkenaan dengan ini, Al-Faqir ingat sebuah cerita yang al-Faqir dengar dari ulama Thoriqoh Tijaniyah asal kota Syinqit (Maurotania), beliau menuturkan: Ada seorang hafizh al-Qur'an yang juga menjadi imam sebuah masjid agung di sebuah desa. Sang hafizh al-Qur'an tersebut hanya pandai menghapal saja tanpa mengusai perangkat ilmu bahasa Arab (Nahwu & Sharaf). Menurut dia cukup dengan belajar al-Qur'an (tajwid dan qiroah) dan membaca kitab-kitab tafsir lantaran semua ilmu ada di dalam al-Qur'an. Alasan inilah yang menyebabkan dia konsentrasi dengan al-Qur'an saja tidak mau mempelajari ilmu-ilmu lainnya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa al-Qur'an kitab Hidayah dan ilmu. Bahkan sahabat Rasulullah shalllallahu Alaihi wa sallam bernama Sayyidina Abdullah Bin Mas'ud mengatakan: "Pelajari al-Qur'an karena di dalamnya terdapat gudang ilmu orang terdahulu dan kemudian." Akan tetapi, dalam memahami al-Qur'an yang nota benenya berbahasa Arab, maka menjadi keniscayaan bagi orang yang ingin memahami al-Qur'an secara komprehensif untuk mempelajari perangkat-perangkat ilmu Bahasa Arab.

Pada suatu hari hafizh al-Qur'an tersebut mengimami shalat jamaah dengan membaca surat an-Nur ayat; 36.

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ (٣٦)

Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang.

Si hafizh al-Qur'an membacanya lafazh "Fi Buyutin" pada ayat di atas dengan bacaan rafa' (dhommah) hingga dia baca "Fi Buyutun" tiba-tiba ada makmum yang memberikan tambih (pembetulan bacaan) mengucapkan "Fi Buyutin" dengan keras.

Sang imam kekeh dengan bacaannya sampai dia ulang lagi "Fi Buyutun". Setelah selesai shalat dan doa, banyak para jamaah bertanya kepada imam kenapa dibaca Fi Buyutun dengan merafa'kannya padahal lafaz Buyut di depannta terdapat huruf jar, dalam ilmu Nahwu duaebutkan kaedah bahwa setiap isim yang kemasukan huruf jar wajib di jarkan [dibaca kasroh] "Fi Buyutin" bukan di rafa'kan (didhommahkan) Fi Buyutun?

Sang imam menjawab: Emang kalian tidak memperhatikan secara keseluruhan dari ayat tersebut, kalian jangan menyimpulkan ayat sepotong-sepotong melainkan dipahami secara keseluruhan, bisa sesat ente-ente pada.  Coba perhatikan lanjutan kalimat ayat itu;


أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ

Artinya: Allah Taala izinkan bahwa Buyut itu dibaca Rafa (dhommah).

Siapa di antara kalian yang mau protes bahkan menyalahi Allah, ketika Allah sendiri sebagai pemilik kalam mulia yang mengizinkannya.

Mendengar jawaban sang imam, para jamaah langsung bubar, ada yang nyaut "Aduh biung" "bule kepet" begini nich kalau orang cuma mau menghapal al-Qur'an tanpa mau belajar ilmu pendukungnya secara sempurna. Sudah bodoh kaga mau menerima nasehat orang malah membela kesalahannya. Naudzu Billah ...


Kisah ini dikutip dari kitab Ittihaful Amajid Bi Nafaisil Fawaid karya Abu Munyah as-Syakunjiy al-Batawiy jilid 2 halaman 79.



Khadimul Majlis al-Mu'afah
H. Rizqi Dzulqornain al-Batawiy



 ********* ******** ********


اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَدَدَ مَا فِي عِلْمِ الله صَلاَةً دَائِمَةً بِدَوَامِ مُلْكِ الله.

صلاة تهب لنا نفوسا راضية، وصدورا من الهم خالية، وقلوبا بحبه صافية، وان تتم علينا بالصحة والعافية، وخير الذرية .


صلاة تحدقنا ببركاتها سرادقات الطافك الخفية وتحرسنا بسيوفك القهرية وتتحفنا بسوابغ نعمك الحسية والمعنوية في جميع الحركات والسكنات وتجري الطافك في سائر امورنا وامور المسلمين والمسلمات .




Khadimul Ma'had al-Muafah
H. Rizqi Dzulqornain al-Batawiy

HP: 08164856876 / 082122549831
PIN: 22580F48


Alamat Yayasan al-Muafah
Jalan Tipar Cakung Rt: 05 Rw 08 NO: 5 Kampung Baru, Cakung Barat Jakarta Timur 13910



Sabtu, 11 April 2015

Mimpi La Wa La (Surat an-Nur Ayat: 35)

JANGAN SEMBARANG CERITAKAN MIMPI

Oleh: H. Rizqi Dzulqornain al-Batawiy

Ada orang sholih yang juga merupakan seorang pengusaha besar sedang menderita penyakit keras sekian lama belum kunjung sembuh meskipun upaya berobat dilakukan kemana-mana.

Hingga pada satu malam ia bermimpi ketemu Rasulullah shallallahu Alaihi wa sallam berpesan kepadanya: "Jika engkau ingin diberikan kesembuhan yang segera dan afiat yang menyeluruh maka ambillah "La Wa La" buat obatnya.

Ketika bangun tidur, ia masih sangat jelas pesan Rasulullah, tetapi ia tidak mengerti apa yang dimaksud "La Wa La".

Setelah sholat shubuh ia langsung mengirim utusan untuk mendatangi seorang ulama besar di zamannya yang bernama Imam Sufyan as-Stauriy Radhiyallahu Anhu untuk menanyakan arti dari "La Wa La". Kedatangan utusannya bukan sekedar untuk menanyakan arti La Wa La tetapi juga ingin menyampaikan amanat majikannya yang ingin tahadduts bin ni'mah karena dapat bermimpi ketemu Rasulullah. Sehingga ia memberikan shodaqoh berupa uang sebesar 10 ribu dirham kepada Imam Sufyan as- Stauriy agar beliau membagikannya kepada faqir miskin sebagai wujud syukur atas ni'mat mimpi ketemu Rasulullah.

Setelah menyerahkan uang kepada Imam Sufyan as_Stauriy, utusan pengusaha itu pun langsung mencritakan kronologi mimpi majikannya dan menanyakan arti " La Wa La" dari pesan Rasulullah. Imam Sufyan as-Stauriy menjelaskan bahwa yang dimaksud kata "La Wa La" adalah pohon Zaitun sebagaimana Allah Taala sebutkan dalam firmannya:

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ .

Artinya: Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (sesuatu), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manuisa, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (an-Nur ayat: 35)


Imam Sufyan as-Stauriy mengatakan hendaknya majikanmu kau perintahkan untuk berobat dengan buah Zaitun.

Jadi yang disebut "La Wa La" adalah:
La Syarqiyyah Wa La Ghorbiyyah (pohon yang tidak di Timur dan Tidak juga di Barat adalah (Zaitun).

Sesampainya di rumah majikan, sang utusan menjelaskan jawaban dari Imam Sufyan as-Stauriy dan akhirnya pengusaha besar itu berobat dengan mengkonsumsi buah Zaitun, hingga Allah Taala memberikan sehat afiat kepadanya lantaran barokah mengamalkan pesan Rasulullah dan penghormatannya kepada mimpi yang agung ketemu Rasulullah.


Disarikan dari kitab : Ittihaful Amajid Bi Nafaisil Fawaid halaman 253 karya H. Rizqi Dzulqornain al-Batawiy.

Jika kita bermimpi hal yang kita tidak ketahui hendaknya jangan ditakwilkan sendiri atau bertanya kepada orang yang bukan ahlinya, khawatir jika ditakwilkan asal-asalan atau ditebak-tebak maknanya itu akan berakibat buruk buat diri kita. Bertanyalah kepada orang yang pantas mendapat cerita dari mimpi kita atau orang yang ahli dan bijak dalam memberikan takwilnya.

Pada cerita di atas pengusaha mencritakan dan minta takwil mimpi kepada orang yang tepat. Terlebih lagi orang yang mentakwilkan mimpi itu orang alim, sholeh dan mengamalkan ilmunya sehingga mejawab dengan isyarat dari ayat al-Qur'an. 

Seandainya ia bertanya kepada kahin (dukun) bisa ditakwilkan melalui ilmu uka-uka dengan bacaan mantra-mantra bakal ngemat setan. Atau juga kalau ia bertanya kepada orang bodoh sangat berbahaya. Mengapa tidak? Bisa-bisa kata La Wa La ditakwilkan dengan arti daun kentut-kentutan. NAUDZUBILLAH.


JAKARTA 11 APRIL 2015

KHADIMUL MA'HAD AL MUAFAH
H. RUZQI DZULQORNAIN AL BATAWIY