Tampilkan postingan dengan label Adab Imam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adab Imam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 November 2018

Kisah Keledai Dan Pencuri

Kisah Keledai dan pencuri

Oleh; H. Rizqi Dzulqornain al-Batawi M.A

بسم الله الرحمن الرحيم
 حمدا له أظهر في الوجود *** نور حقيقة النبي المحمود
وصل يا رب على محمد *** الفاتح الخاتم طه الأمجد
وناصر الحق وهادينا الى *** صراطك القويم نهج الفضلا
وآله بحق قدره الفخيم *** وجاه مقدار مقامه العظيم.
أما بعد

Kisah Keledai dan pencuri

Apa yang paling disukai oleh pria pekerja yang suka mencari batang pohon untuk dijadikan kayu bakar selain hewan keledai yang ia miliki untuk membawa kayu-kayu yang dikumpulkan dari hutan untuk dibawa kembali ke rumahnya. Adalah pria itu sangat cinta dan butuh pada keledai miliknya yang hanya satu itu.

Tiada hari tanpa ia berkeliling ke kota untuk mencari nafkah atau berjalan dipinggiran hutan dengan diiringi keledainya yang dia tuntun dengan tali mengikat tangannya, seakan-akan keledai itu adalah bocah yang sangat disayangnya, tak boleh lepas dari tangan dan pandangan mata.

Pada suatu pagi yang cerah, ketika si pria sedang berjalan dengan keledainya di pinggir kota menuju pasar tempatnya mencari nafkah, terlihat dirinya oleh sekelompok penyamun. Sudah beberapa hari ini, para penyamun itu mengintai si pemuda dan keledainya. Terbayang keping-keping uang yang akan mereka dapatkan kalau mereka berhasil mencuri keledai pria tersebut dan menjualnya. Seorang di antara penyamun itu berkata, “Keledai itu pasti akan sangat mahal kalau kita jual.”

Penyamun yang lainnya berkata, “Boleh mahal keledai tersebut, tapi bagaimana cara kita mendapatkannya, sedangkan pemilik keledai tersebut tidak pernah memalingkan wajahnya dari hewan tersebut, dan ikat talinya selalu dipegang pria itu…”

Lalu penyamun lain yang merupakan pemimpin mereka menjawab dengan mantab, “Kalian tenang saja, aku tahu bagaimana cara mencuri keledai tersebut.” katanya sambil menyeringai lebar. Anak buahnya hanya melihat pemimpin mereka, dan berharap pemimpinnya sudah mendapatkan ide untuk mencuri keledai tersebut.

Beberapa hari kemudian.
Sesuai dengan pengintaian para penyamun itu, pria pemilik keledai tersebut terlihat tertidur di bawah pohon rindang setelah sepagian bekerja di pasar. Ia mengikat tali keledai ke lengannya yang bersambung ke leher keledai miliknya.

Para penyamun yang sebelumnya telah menunggu sekian lama, akhirnya melaksanakan aksinya. Pemimpin penyamun memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan benda yang diperlukan untuk mencuri keledai tersebut, yaitu garam dan karung basah.

Setelah semuanya siap, ketua penyamun mendekati keledai yg sedang berdiri dekat tuannya. Dengan hati-hati ketua penyamun itu melepaskan ikatan dari leher keledai tersebut dan anak buahnya yg ada dekatnya langsung menutup mulut keledai tersebut dengan garam dan memasukkannya ke dalam karung basah yang sudah disiapkan sebelumnya, lalu mereka pun pergi kecuali ketua penyamun.

Terlihat dia mengalungkan ikatan yang tadi berada di leher keledai sekarang mengikat lehernya. Setelah berlalu waktu, akhirnya pria pemilik keledai tersebut bangun dari tidur siangnya. Dan betapa terkejut dirinya ketika melihat bahwa keledainya hilang dan ada pria yang terikat di tali yang tadi ditujukan untuk mengikat keledainya.

“hai! Siapa kamu? Dimana keledaiku? Apakah kamu mengambilnya?” pria tersebut bertanya sambil marah pada si penyamun.
“Bukan begitu wahai tuanku yang baik hati. Saya tidak mengambilnya.” Kata si penyamun berbohong.
“Lalu dimana keledaiku? Kenapa kamu ada dalam ikatan keledaiku?”
“Tuanku, duduklah sebentar, biarlah saya menceritakan bagaimana saya bisa dalam keadaan seperti ini.”

Lalu si ketua penyamun itu menyampaikan cerita bohong kepada pria itu. Dia mengatakan bahwa dirinya adalah sosok asli keledai yang senantiasa dibawanya. Dia dikutuk oleh ibunya, sehingga dirinya menjadi keledai. Tetapi, mungkin ibunya sudah memaafkannya sehingga dia berubah kembali menjadi manusia. Pemilik keledai yang mendengar ceritanya menangis merasa kasihan dengan cerita ketua penyamun itu, lalu dia membebaskan keledai yang sekarang sudah menjadi pria itu dan menyuruhnya kembali ke rumah ibunya. Akhirnya ketua penyamun tersebut berhasil kabur dan menyusul komplotannya

Menjelang sore si pemilik keledai sampai di rumahnya, lalu dia menceritakan kembali kejadian yang dialaminya hari itu pada istrinya. Istrinya yang mendengar cerita dari suaminya pun ikut menangis dan bersyukur karena keledainya sudah kembali menjadi manusia dan bisa pulang.

Keesokan harinya pemilik keledai berangkat ke pasar seperti biasa untuk mencari nafkah. Sesampainya di pasar dia tidak sengaja melewati pedagang hewan. Tiba-tiba dia melihat ada seekor keledai yang sangat mirip dengan keledainya di antara hewan yang dijajakan oleh penjual hewan. Si pria itu mendekati keledai yang sangat mirip dengan keledai miliknya yang lalu. Dia perhatikan warnanya, giginya, buntutnya dan semuanya sama persis dengan keledai miliknya.

Si pemilik keledai itupun langsung memeluk keledai di hadapannya dan langsung menangis. Si pedagang hewan aneh melihat tingkah laku pria yang baru datang tersebut dan bertanya kepadanya kenapa dia menangis. Si pria itu hanya menjawab, “Kasihan sekali kamu! Perkara apa yang telah kamu lakukan sehingga kamu dikutuk kembali oleh ibumu…?”

Kesimpulan kisah di atas adalah hendaknya kita selalu waspada dengan tipu daya para penjahat yang selalu menunggu kesempatan kita lengah. Manusia yang jauh dari tuntunan agama, jauh dari ilmu dan ulama dipastikan berani ngelakoni segala perbuatan meskipun dengan cara menghinakan dirinya sendiri.

Dikutip ulang dari kitab ittihaful amajid bi nafaisil fawaid karya al-Qadhi Abu Mun'yah as-Sakunjiy at-Tijaniy jilid 2 halaman 253.




Khadimul Majlis al-Mu'afah
H. Rizqi Dzulqornain al-Batawiy M.A

Ikuti Kajian Islam:

instagram.com/rizkialbatawi

@rizkialbatawi

https://www.facebook.com/Rizqi-Zulqornain-Albatawi

 ********* ******** ********

يا فالق الحب والنوى، وبحق قلب النبي صلى الله عليه وسلم وما حوى، أعط كل واحد من الخير ما نوى، وارفع عنا كل شكوى، واكشف عنا كل بلوى، وتقبل منا كل نجوى، وألبسنا لباس التقوى، واجعل الجنة لنا مأوى .

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ، وَعَلىَ آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْمِ.
صلاةً تَجْعَلُنَا مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيْرًا، وَرِزْقًا كَثِيْرًا، وَقَلْبًا قَرِيْرًا، وَعِلْمًا غَزِيْرًا، وَعَمَلاً بَرِيْرًا، وَقَبْرًا مُنِيْرًا، وَحِسَابًا يَسِيْرًا، وَمُلْكًا فِي الْفِرْدَوْسِ كَبِيْرًا
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Alamat Yayasan al-Muafah

Jalan Tipar Cakung Rt: 05 Rw 08 NO: 5 Kampung Baru, Cakung Barat, Jakarta Timur 13910


فَأَكْرِمِ اللَّهُمَّ مَنْ أَكْرَمَنَا .:. وَكَثِّرِ الْخَيْرَ لَدَيْهِ وَالْغِنَا
وَأَعْطِهِ مِمَّا رَجَى فَوْقَ الرَّجَا .:. وَاجْعَلْ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجَا
وَافْعَلْ كَذَلِكَ بِكُلِّ مُحْسِنِ .:. اِلَى ذَوِي الْعِلْمِ بِظَنٍّ حَسَنِ
وَاهْدِ جَمِيْعَنَا اِلَى الرَّشَادِ .:. وَلِطَرِيْقِ الْخَيْرِ وَالسَّدَادِ
وَابْسُطْ بِفَضْلِكَ عَلَيْنَا نِعْمَتَكْ .:. وَانْشُرْ عَلَيْنَا فِي الدَّارَيْنِ رَحْمَتَكْ
وَاخْتِمْ لَنَا عِنْدَ حُضُوْرِ الْأَجَلِ .:. بِالْعَفْوِ مِنْكَ وَالرِّضَى الْمُعَجَّلِ
أَمِيْنَ أَمِيْنَ اسْتَجِبْ دُعَانَا .:. وَلاَ تُخَيِّبْ رَبَّـــــنَا رَجَـــــــــــــــــانَا


Kamis, 30 Maret 2017

Salam Dalam Shalat (Imam Ahsan Ba'qiliy)

Salam Dalam Shalat (Imam Ahasan Ba'qiliy)

Oleh; H. Rizqi Dzulqornain al-Batawiy


بسم الله الرحمن الرحيم
حمدا له أظهر في الوجود *** نور حقيقة النبي المحمود

وصل يا رب على محمد *** الفاتح الخاتم طه الأمجد

وناصر الحق وهادينا الى *** صراطك القويم نهج الفضلا

وآله بحق قدره الفخيم *** وجاه مقدار مقامه العظيم.


أما بعد:


Imam al-Quthb Maulana al-Ahsan bin Muhammad al-Ba'qiliy (dilahirkan pada tahun 1301 Hijriyah. Wafat tahun 1368 Hijriyah) radhiyallahu anhu menyebutkan dalam kitab Ira-ah Arais Syumus Falakil Haqaiq al-Irfaniyah jilid pertama halaman; 131;

Ucapkan salam minimal as-Salamilaikum secara jahr (bersuara keras). Salam pertama ini niatkan sebagai bentuk aktifitas mengakhiri shalat dan niatkan ucapan salam tersebut kepada para ma'mum lainnya jika kau menjadi imam shalat dan niatkan juga salam itu buat para malaikat yang sedang mengelilingi orang-orang yang shalat bersamamu.

Maksud salam pertama ini adalah satu pernyataan dirimu; aku ini saudara kalian, aku cinta kalian karena Allah Taala, aku memberikan kalian manfaat dan tidak merugikan kalian juga jangan ada rasa takut dalam diri kalian kepadaku.

Salam pertama ini disyariatkan untuk dibaca jahr untuk keluar dari kondisi hams was shimat (lintasan dan diam).

Bila kau shalat sendirian maka ucapkan salam pertama ke arah kanan, kau nengok (menolehkan) kepalamu ketika kau sebut ujung huruf khitab (audiens) yaitu kata "Kum" dari alaikum. Niatkan salam tersebut khuruj (keluar) dari shalatmu, niatkan juga buat para malaikat yang ada bersamamu dan menjagamu.

Apabila dirimu sebagai ma'mum maka ucapkan salam pertamamu secara jahr dengan menolehkan kepalamu ke arah kanan sertakan niat khuruj shalat dalam hatimu dan niatkan salam tersebut untuk makhluq yang ada di sebelah kananmu dari kelompok mu'min di kalangan manusia dan malaikat. Kemudian kau hadhirkan salam kedua secara sir (dalam hatimu) dengan posisi mukamu memandang lurus ke depan niatin jawab salam imammu dalam hati saja mengucap assalamulaikum. Lalu ucapkan salam ketiga dengan jahr ke arah kirimu niatkan salam tersebut buat seada-adanya orang beriman yang ada di sebelah kirimu.

Maka 3 salam tersebut di atas, yang pertama salam yang wajib sebagai fardhu shalat. Sedangkan yang kedua dan ketiga hukumnya sunnah.

Adab duduk tahiyyat akhir atau tawarruk disebutkan oleh Imam syarafuddin Yahya Bin Musa Bin Ramadhan Bin Umairah al-Imrithiy rahimahullah yang diperkirakan wafat setelah tahun 988 Hijriyah dalam nazham at-Tahrir;

كل بقرب ركبة وقد نشر** اصابع اليسرى بضم معتبر

Setiap jari-jari tangan bebatian dengan lutut dalam posisi tangan kiri jari-jarinya terhampar (tidak mengepal) tapi dengan merapatkan jari_jari tangan yang dianggap keberadaannya.

ويقبض اليمنى سوى المسبحة ** فليبقها مبسوطة مسبحة

Jari-jari tangan kanan digenggam kecuali jari telunjuk, biarkan dia dalam keadaan terhampar.

يرفعها مع قول الا الله ** محنية لم تعدها عيناه

Seseorang disunnahkan memberikan isyarat dengan mengangkat jari telunjuk kanannya ketika mengucapkan "illallah" . Telunjuk itu tidak ke arah atas tetapi nunjuk kedepan dengan sederhana dan kedua mata hendaknya fokus meihat jari tersebut.

ومن عذاب النار يستجير ** اذا انقضى التشهد الاخير

Disunnahkan pula ketika sekesai membaca redaksi tasyahhud ialah membaca doa perlindungan dari 4 hal (azab neraka, azab kubur, fitnah hidup dan mati serta fitnah dajjal).

Adapun sanad bersambung kepada imam al-Quthb Sayyidi Al-Ahsan al-Ba'qiliy radhiyalllahu anhu sebagai berikut:

الحاج رزقي ذو القرنين اصمت البتاوي عن سيدي الفقيه محمد العربي بن المهدي اكدير الحاحي المغربي عن القطب مولانا الحاج الاحسن البعقيلي رضي الله عنه 

Sanad muttashil kepada Imam Syarafuddin Yahya al-Imrithiy rahimahullah;

الحاج رزقي ذو القرنين اصمت البتاوي عن فضيلة الدكتور الاستاذ المسند سيدي يوسف بن عبد الرحمن المرعشلي عن الشيخ المعمر احمد العجوز البيروتي عن الشيخ بدر الدين بن يوسف الحسني عن والده عن السيد زين العابدين بن علوي جمال الليل عن الشيخ محمد بن محمد عبد الله السجلماسي المغربي عن الشيخ عبد الله بن سالم البصري عن الشمس محمد بن علي بن سعد الدين بن رجب المكتبي الشافعي عن الشيخ الفقيه احمد بن محمد البقاعي العرعاني عن الامام شرف الدين يحي بن موسى العمريطي رحمه الله تعالى


Dikutip ulang dari kitab ittihaful amajid bi nafaisil fawaid karya Abu Mun'yah as-Sakunjiy at-Tijaniy jilid 2 halaman 75.



Khadimul Majlis al-Mu'afah

H. Rizqi Dzulqornain al-Batawiy


instagram.com/Zulqornain_Muafiy
@rizkialbatawi




 ********* ******** ********

Shalawat Fatih (Raja Shalawat)

اللَّهُــــــــــــــمَّ صَلِّ عَلَى سيِّــــــــدِنَا محمدٍ الفاتِـــــــــحِ لِمَا أُغْلِــــــــــــــقَ والخَـاتِــــــــــــــــمِ لِمَا سَبَــــــــــقَ، نَاصِـــــــــرِ الحَقِّ بالحـــــــــــــــــقِّ، والهـــــــــــــــــادِي إلى صِرَاطِـــــــــكَ الْمُسْتَقِيـــــــــــــــــــمِ، وَعَلَى آلِهِ حـــــــــقَّ قَدْرِهِ ومِقْــــــــــــدَارِهِ العَظِيــــــــــــــمِ.

اللهمَّ صلَّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَولاَنَا مُحَمَّدِنِ الفَاتِحِ لِمُغْلَقَاتِ خَزَائِنِ العَوالِمِ الوجُودِيَّةِ الَّتِي برَزَتْ مِنْ حَيْزِ بُطُونِ العَدمِ الأَزَلِيِّ الْمَقْهُوْرِ. إِلَى سَاحَاتِ مَيَادِينِ الظُّهُورِ. والَخاتِمِ لِمَا سَبَقَ فِي عِلمِ اللهِ بُروزُ سرِّهِ مِن أَوامِرِ مَظَاهِرِ الْمَمْلَكَةِ الإلهِيةِ الذِي هُوَ قُطبُ رَحَاهَا وشُؤونُهَا عَلَيهِ تَدُورُ. نَاصِرِ أَعْلاَمِ دَولَةِ الْحَقِّ بِجَحَافِلِ جُيُوشِ الصِّدْقِ الْمُبِيدَةِ بِبَوَارِقِ أَسِنَّتِهَا الْمُحَمَّدِيةِ الأَحْمديةِ طَوَاغِيتَ الإِجْحَافِ وَالظُّلَمِ وَالْجُورِ. وَالْهَادِي إِلَى الصِّرَاطِ الْمُستَقِيمِ والْمَنهَجِ الرَّبَّانِي القَوِيْمِ بِالسِّيَاسَةِ الْحَقَّانِيةِ وَالْمَعرِفَةِ التَامةِ الإيقَانِيَةِ وَالْحِكمَةِ البَالِغَةِ وَالْحُجةِ الدّامِغَةِ السَّاطِعَةِ النُّور. اللهمَّ صلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيهِ وَعَلَى آلِهِ الأَفْرَادِ البُدُورِ. وَصحَابَتِهِ الأمْجَادِ الصُّدُور. حَقَّ قَدرِهِ الفَخِيمِ فِي سَائِرِ الْحَضرَات والْخطَرَاتِ، وَمِقدَارِهِ العَظِيمِ عِندَ رَبِّ البَرِيَّاتِ، صَلاَةً جَامِعَةً لامِعَةً نَافعةً رَافِعَةً مَانِعَةً يَانِعَةً تَتَوَالَى ما قُرِئَتِ السُّطُورُ. وتفتقَ رتقُ الدهُورِ بِتَعَاقُبِ أَدْوَارِ الأمُور. نَجِدُهَا يَا أللهُ ذَخِيْرةً وَعُمدَةً، وزَادًا وَعُدَّةً يَوْمَ الْعَرَضِ وَالنُّشُوْرِ.

) من كتاب نشوة راح الوصل في الصلاة على مظهر الفضل للسيد الفاضل قرة الأماثل الشريف عبد الكريم بقاش الادريسي الحسني حفظه الله ورعاه )

يا ربنا يا دائم المعروف * ويا مغيث عبده الملهوف
ويا عظيم المن يا رجائي * يا باسطا موائد الألاء
نرجوك يا ذا الجود والإتحاف * وناشرا مواهب الألطاف
أنل لـ (رزقي) ربي فيض رزق * وأيدن به جيوش الحق
واسعد به البلاد والعباد * وحققن بسعيه المراد
وارزقه يا رب تمام المعرفة * بك وجمله بأحسن صفة
واصلح إلهي زوجه تفضلا * (ريحانة القدوس) زهرة العلى
وارفع إلهي قدره بين الأنام * تلقى المسرة على طول الدوام
وخصه بمنح وهبية * واخلع عليه حللا سنية
واسقه من كوثر العرفان * شراب قدس طاهر حقاني


Alamat Yayasan al-Muafah
Jalan Tipar Cakung Rt: 05 Rw 08 NO: 5 Kampung Baru, Cakung Barat Jakarta Timur 13910



Selasa, 19 April 2016

Imamah Dan Umamah (Imam Syaukaniy)

Imamah Dan Umamah

Oleh; H. Rizqi Dzulqornain al-Batawiy

بسم الله الرحمن الرحيم

 حمدا له أظهر في الوجود *** نور حقيقة النبي المحمود
وصل يا رب على محمد *** الفاتح الخاتم طه الأمجد
وناصر الحق وهادينا الى *** صراطك القويم نهج الفضلا
وآله بحق قدره الفخيم *** وجاه مقدار مقامه العظيم.

أما بعد:

Dikisahkan pada suatu hari imam Muhammad Bin Ali as-Saukaniy rahimahullah mengimami shalat berjamaah. Di pertengahan shalat, imamah (udeng-udeng) beliau jatuh lalu beliau mengambilnya dan memaikan imamah itu di kepalanya. Peristiwa tersebut mengundang respon negatif dari salah satu jamaah yang kemudian setelah selesai shalat langsung saja ia mengintrogasi imam Syaukaniy sekaligus menanyakan dalil dari perbuatan beliau; Ya syekh, shalat yang kau lakukan tadi seperti orang main-main! Dari mana dalilnya? Imam Muhammad Bin Ali as-Syaukani menjawab:

حمل العمامة أهونُ من حمل أُمامة...،

Membawa Imamah (udeng-udeng) lebih ringan dari pada membawa orang yang bernama Umamah.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat sambil menggendong cucu beliau yang bernama Umamah bint Zainab bint Rasulillah. Ketika itu Rasulullah mengimami shalat dalam keadaan menggendong umamah. Bila berdiri, beliau menggendong Umamah dan di saat sujud beliau meletakkannya. Apabila seorang yang sedang shalat melakukan hal tersebut maka tidak apa-apa dengan syarat bocah yang digendong dalam keadaan tidak ada najis dan sudah dikhitan.


Hadis dari Abu Qotadah al-Anshari mengatakan
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يصلي وهو حامل أمامة بنت زينب بنت رسول الله صلى الله عليه وسلم ولأبي العاص بن ربيعة بن عبد شمس، فإذا سجد وضعها وإذا قام حملها
“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat sambil menggendong Umamah binti Zainab binti Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam, putri dari Abul ‘Ash bin Rabi’ah. Apabila beliau sujud, beliau letakkan Umamah dan jika beliau berdiri, beliau menggendongnya.”
Dalam lafadz yang lain:
رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يؤم الناس، وأمامة بنت أبي العاص على عاتقه
“Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami jamaah, sementara Umamah binti Abil ‘Ash (cucu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) berada di gendongan beliau” (HR. Bukhari & Muslim)

Kalau ngendong anak dalam shalat ulama sepakat menyatakan kebolehannya dengan persyaratan yang tersebut di atas. Adapun menggendong istri bisa batal shalatnya soalnya bisa kaga jadi shalat lantaran telah terjadi gerakan radikal di bawah sarung dan berlanjut pada kegiatan seterusnya.

Dikutip dari kitab Ittihaful Amajid Bi Nafaisil Fawaid karya Abu Munyah as-Sakunjiy at-Tijaniy jilid 2 halaman 55.


Khadimul Majlis al-Mu'afah
H. Rizqi Dzulqornain al-Batawiy

HP: 08164856876 / 082122549831
PIN: 22580F48
instagram.com/Zulqornain_Muafiy



 ********* ******** ********

اللَّهُــــــــــــــمَّ صَلِّ عَلَى سيِّــــــــدِنَا محمدٍ الفاتِـــــــــحِ لِمَا أُغْلِــــــــــــــقَ والخَـاتِــــــــــــــــمِ لِمَا سَبَــــــــــقَ، نَاصِـــــــــرِ الحَقِّ بالحـــــــــــــــــقِّ، والهـــــــــــــــــادِي إلى صِرَاطِـــــــــكَ الْمُسْتَقِيـــــــــــــــــــمِ، وَعَلَى آلِهِ حـــــــــقَّ قَدْرِهِ ومِقْــــــــــــدَارِهِ العَظِيــــــــــــــمِ.

(لَيْسَ لَهَا مِن دُونِ اللَّـهِ كَاشِفَةٌ)

اللَّهـُمَّ بِـحَقِّ هَذِهِ الْآيَةِ الشَّرِيفَةِ وَمَا بِـهَا مِنْ أَسْرَارٍ أَنْ تَكْشِفَ ضُرَّنَا وَتَصْرِفَ عَنَّا كَيْدَ مَنْ كَادَنَا وَشَرَّ مَنْ أَرَادَ بِنَا شَرَّاً وَرُدَّ كَيْدَهُ فِي نَحْرِهِ وَاَشْغِلْهُ عَنَّا بِشَاغِلٍ لَا يَسْتَطِيعُ رَدَّهُ  يَا اللَّـه .


Alamat Yayasan al-Muafah
Jalan Tipar Cakung Rt: 05 Rw 08 NO: 5 Kampung Baru, Cakung Barat Jakarta Timur 13910