Senin, 28 Agustus 2017

Kisah Budak Shalihah

Kisah Budak Shalihah

Oleh; H. Rizqi Dzulqornain al-Batawiy

بسم الله الرحمن الرحيم

 حمدا له أظهر في الوجود *** نور حقيقة النبي المحمود
وصل يا رب على محمد *** الفاتح الخاتم طه الأمجد
وناصر الحق وهادينا الى *** صراطك القويم نهج الفضلا
وآله بحق قدره الفخيم *** وجاه مقدار مقامه العظيم.

أما بعد:


Imam Abul Hasan Ahmad Bin Abdullah Bin Shalih al-Ajliy al-Kufiy (wafat tahun 261 Hijriyah) rahimahullah dalam kitab Ma'rifatus Stiqat menyebutkan bahwa Imam al-Hasan Bin Shalih al-Hamdaniy (wafat tahun 167 Hijriyah) pada suatu hari menjual budak perempuannya di pasar. Begitu ketemu ketemu pembeli dan cocok dengan hargamya, Akhirnya budak tersebut di bawa pulang oleh pemiliknya yang baru dan saat tengah malam budak perempuan itu bangun dan berkata: Wahai penghuni rumah, bangunlah kalian, kerjakan shalat kerjakan shalat kerjakan shalat. Mendengar teriakan itu para penghuni rumah terbangun dan bertanya: apakah sudah datang waktu subuh? Budak perempuan berkata: belum, apakah kalian tidak pernah qiyamul lail (bangun malam mengerjakan ibadah). Mereka menjawab; kami hanya mengerjakan shalat-shalat wajib."

Pagi-pagi buta budak perempuan tersebut mendatangi imam al-Hasan Bin Shalih al-Hamdaniy dan berkata; ya tuan, mengapa kau jual aku kepada majikan yang tidak baik, penghuni rumahnya tidak pernah shalat malam. Tolong kembalikan aku ke rumahmu. Kemudian di siang harinya imam al-Hasan Al-Hamdaniy mendatangi rumah pembeli dan mengembalikan uangnya serta membawa pulang budak tersebut.

Dikutip ulang dari kitab ittihaful amajid bi nafaisil fawaid karya Abu Mun'yah as-Sakunjiy at-Tijaniy jilid 2 halaman 253.




Khadimul Majlis al-Mu'afah
H. Rizqi Dzulqornain al-Batawiy


instagram.com/rizkialbatawi


instagram.com/Zulqornain_Muafiy



 ********* ******** ********

يا فالق الحب والنوى، أعط كل واحد من الخير ما نوى، وارفع عنا كل شكوى، واكشف عنا كل بلوى، وتقبل منا كل نجوى، وألبسنا لباس التقوى، واجعل الجنة لنا مأوى .

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ، وَعَلىَ آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْمِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.


Alamat Yayasan al-Muafah

Jalan Tipar Cakung Rt: 05 Rw 08 NO: 5 Kampung Baru, Cakung Barat 13910



Minggu, 27 Agustus 2017

Kitab al-Muwattha Bab Mandi Junub (Hadis No 67-70)

Kitab al-Muwattha Bab Mandi Junub

Oleh; H. Rizqi Dzulqornain al-Batawiy

بسم الله الرحمن الرحيم

 حمدا له أظهر في الوجود *** نور حقيقة النبي المحمود
وصل يا رب على محمد *** الفاتح الخاتم طه الأمجد
وناصر الحق وهادينا الى *** صراطك القويم نهج الفضلا
وآله بحق قدره الفخيم *** وجاه مقدار مقامه العظيم.

أما بعد:


 بَابُ الْعَمَلِ فِي غُسْلِ الْجَنَابَةِ

Bab yang menjelaskan aktifitas Mandi Junub

67 - حَدَّثَنِي يَحْيَى، عَنْ مَالِكٍ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ، بَدَأَ «بِغَسْلِ يَدَيْهِ، ثُمَّ تَوَضَّأَ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلَاةِ، ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي الْمَاءِ، فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُولَ شَعَرِهِ، ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلَاثَ غَرَفَاتٍ بِيَدَيْهِ، ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ»

Artinya: Telah menceritakan kepadaku Yahya dari Malik dari Hisyam bin Urwah dari bapaknya dari Aisyah, Ummul Mukminin; bahwa apabila Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mandi dari junub, beliau memulai dengan membasuh kedua tangannya. Berwudlu sebagaimana wudlu untuk shalat. Memasukkan jari-jarinya ke dalam air dan menyelah-nyelahinya ke pangkal rambut, lalu beliau menuangkan air di atas kepalanya tiga gayung dengan kedua tangannya, kemudian meratakan air ke seluruh kulitnya."

Hadis ini menjelaskan sifat mandi junub Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Di dalamnya terdapat amaliah fardhu dan sunnah. Di antara amaliyah sunnah adalah membaca Basmalah sebelum mandi. Jika dilakukan di kamar mandi yang jadi satu dengan tempat yang lazim digunakan untuk buang air besar atau kecil, maka membaca Basmalah cukup di dalam hati saja karena tidak layak menyebut dengan keras nama Allah pada tempat tersebut. Bila pada tempat yang tak lazim digunakan untuk buang hajat, maka boleh dikeraskan bacaan Basmalahnya. Dan disunnahkan juga mencuci dua tangan dan melakukan wudhu sebelum mandi, meniga kalikan basuhan (bagian kanan depan, bagian kanan belakang, bagian kiri depan dan bagian kiri belakang), menyelat-nyelatkan jari tangan ke rambut atau bulu-bulu agar memudahkan air menjangkau mengenai bagian rambut, bulu-bulu dan kulitnya. Adapun yang wajib dalam mandi junub adalah meratakan air ke seluruh bagian kulit zhahir anggota badan.

68- حَدَّثَنِي عَنْ مَالِكٍ، عَنْ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ، عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ «يَغْتَسِلُ مِنْ إِنَاءٍ هُوَ الْفَرَقُ مِنَ الْجَنَابَةِ»

Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Ibnu Syihab dari Urwah bin Az Zubair dari Aisyah, Ummu Mukminin; bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mandi junub dari bejana Al Faraq.”

Imam Sufyan Ibn Uyainah, Abu Ubaid mengatakan bahwa yang dimaksud al-Faraq adalah nama bejana seukuran 3 Sha’ (16 Rithal). Pendapat ini berdasarkan riwayat Ibn Hibban dari Jalur Atha dan Siti Aisyah yang mengatakan bahwa al-Faraq adalah 6 Aqsath dan Satu Qisth adalah setengah Sha’. Sedangkan imam Nawawi dan mayoritas ulama fiqh menyatakan al-faraq itu ukuran 2 sha’.

Hadis di atas menjadi riwayat tambahan mengenai jumlah air yang digunakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam saat mandi junub. Riwayat lain masyhur menyatakan air yang beliau gunakan sebanyak satu Sha’ (4 Mud). Atau juga bisa dipahami bahwa air bejana tersebut terdiri dari al-Faraq (2 atau 3 Sha’) tetapi yang beliau habiskan Cuma satu Sha’ saja.

69 - وَحَدَّثَنِي عَنْ مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ، أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ، بَدَأَ «فَأَفْرَغَ عَلَى يَدِهِ الْيُمْنَى، فَغَسَلَهَا، ثُمَّ غَسَلَ فَرْجَهُ، ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ. ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ، وَنَضَحَ فِي عَيْنَيْهِ، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى، ثُمَّ الْيُسْرَى. ثُمَّ غَسَلَ رَأْسَهُ. ثُمَّ اغْتَسَلَ وَأَفَاضَ عَلَيْهِ الْمَاءَ»

Artinya: "Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Nafi' bahwa Abdullah bin Umar apabila mandi dari junub, memulai dengan menuangkan air di atas tangan kanannya. Dia membasuhnya, lalu membasuh kemaluannya. Dia berkumur-kumur lalu memasukkan dan menyemburkan air yang dia masukkan ke dalam hidungnya. Membasuh wajahnya dan memercikkan air ke kedua matanya, membasuh tangan kanannya lalu kirinya, kemudian dia membasuh kepalanya. Dia mandi dan meratakan air ke seluruh tubuhnya.”

Di antara sunnah mandi adalah mendahulukan membasuh bagian angota tubuh yang kanan, menggosok kemaluan dengan tangan kiri, berkekumur dengan tangan tangan, istinsyaq (memasukan air ke hidung) dengan tangan kanan, Istinstar (mengeluarkan air dari hidung) dengan tangan kiri. Mazhab Imam Abu Hanifah memandang wajib melakukan kekumur dan istinsyaq pada mandi junub, tetapi sunnah pada wudhu. Berbeda dengan imam Ahmad bin Hambal yang berpendapat wajib kekumur dan istinsyaq pada mandi junub dan berwudhu.

Ibn Abdil Bar berkomentar mengenai memercikan air ke dua mata yang dilakukan sayyiduna Abdullah Bin Umar tidak diikuti oleh seseorang sahabat lainnya ketika itu. Imam Malik pernah ditanya terkait hal tersebut, maka beliau menjawab: Itu tidak diamalkan. Sedangkan ada riwayat Abu Hurairah yang menyatakan:

أَشْرِبُوا أَعْيُنَكُمْ مِنَ الْمَاءِ عِنْدَ الْوُضُوءِ

Artinya: "Nenabkan air pada kedua mata kalian ketika berwudhu.”

Hadis itu diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan Ibn Adiy. Imam Zainuddin al-Iraqiy memberikan vonis hadis yang sanadnya lemah. Bahkan Imam Ibn Shalah dan an-Nawawiy menyatakan: “kami tidak menemukan sanad yang valid hadis tersebut.”

70 - وَحَدَّثَنِي عَنْ مَالِكٍ أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ عَائِشَةَ سُئِلَتْ عَنْ غُسْلِ الْمَرْأَةِ مِنَ الْجَنَابَةِ، فَقَالَتْ: «لِتَحْفِنْ عَلَى رَأْسِهَا ثَلَاثَ حَفَنَاتٍ مِنَ الْمَاءِ، وَلْتَضْغَثْ رَأْسَهَا بِيَدَيْهَا»

Artinya: Menceritakan kepadaku Imam Malik, sesungguhnya sampai kepada beliau bahwa siti Aisyah pernah ditanya perihal mandi junub seorang wanita. Beliau menjawab: Hendaknya para wanita mencauk air 3 caukan untuk kepalanya kemudian mereka memasukan jari-jari tangan lalu menggosok-gosokannya kepala dengan tangannya.”

Riwayat siti Aisyah di atas tidak senada dengan hadis riwayat Abdullah Bin Amr Bin al-Ash. Siti Aisyah tidak memerintahkan seorang wanita membuka ikatan rambutnya saat mandi wajib, cukup baginya hanya menyelat-nyelatkan jari-jari tangannya dan menuangkan air 3 kali.

Hal tersebut tentunya bagi wanita berkonde yang yakin bila ia selat-selatkan jari-jari tangan di kepalanya air bisa rata ke seluruh bagian rambut dan kulit kepala. Adapun bagi wanita yang tidak yakin, maka masih wajib ia membuka ikatan atau konde kepalanya bila bukan dengan cara seperti itu air tidak akan rata ke bagian rambuat dan kulit kepalanya.







Khadimul Majlis al-Mu'afah
H. Rizqi Dzulqornain al-Batawiy


instagram.com/rizkialbatawi


instagram.com/Zulqornain_Muafiy



 ********* ******** ********

يا فالق الحب والنوى، أعط كل واحد من الخير ما نوى، وارفع عنا كل شكوى، واكشف عنا كل بلوى، وتقبل منا كل نجوى، وألبسنا لباس التقوى، واجعل الجنة لنا مأوى .

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ، وَعَلىَ آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْمِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Alamat Yayasan al-Muafah

Jalan Tipar Cakung Rt: 05 Rw 08 NO: 5 Kampung Baru, Cakung Barat 13910


Sabtu, 26 Agustus 2017

Cara Bikin Istri Jejeritan (Memuaskan Seks)

Cara Bikin Istri Jejeritan (Memuaskan Seks Istri)

Oleh; H. Rizqi Dzulqornain al-Batawiy

بسم الله الرحمن الرحيم

 حمدا له أظهر في الوجود *** نور حقيقة النبي المحمود
وصل يا رب على محمد *** الفاتح الخاتم طه الأمجد
وناصر الحق وهادينا الى *** صراطك القويم نهج الفضلا
وآله بحق قدره الفخيم *** وجاه مقدار مقامه العظيم.

أما بعد:

Banyak pria mengeluh lantaran sulit memuaskan istrinya dalam hubungan seks, boro-boro sampai orgasme plus mendesah jejeritan lah wong baru masuk secelup dua celup itu batang penis sudah nguarin lahar panas. Sang istri sekonyong-konyong ngured karena batang oyong yang tadinya keras berubah menjadi lembek seperti tape.

Syekh Ahmad Bin Abdul Wahhab al-Bakriy an-Nuwairiy (wafat tahun 733 Hijriyah) dalam kitab Nihayatul Arab Fi Fununil Adab jilid 12 halaman 109 menyebutkan teknik seks membuat istri puas sampai lemas di ranjang dengan cara:

Ambil empedu (nyali) ayam jago hitam lalu letakan di sebuah bejana dan ambil satu siung jahe yang besar kemudian parut atau tumbuk sampai halus dan campurkan pada bejana tadi. Aduk sampai rata perpaduan empedu ayam jago dan ampas jahe lalu borehkan racikan tersebut di batang penis sambil diurut-urut sampai merah.

Kaifiat tersebut dilakukan pada malam hari biarkan borehan tersebut sampai subuh, sebelum eksekusi hendaknya batang dzakar yang telah gelabud ramuan itu dicuci dengan bersih.


Ramuan tersebut mempercepat rangsangan pada G-Spot wanita hingga membuat para istri merem melek kegurihan, kelojotan, bergelinjang, ketagihan bercinta dan ngosek-ngosek tak ubahnya ikan lele kekeringan di tengah rawa.


Dikutip ulang dari kitab ittihaful amajid bi nafaisil fawaid karya Abu Mun'yah as-Sakunjiy at-Tijaniy jilid 2 halaman 253.




Khadimul Majlis al-Mu'afah
H. Rizqi Dzulqornain al-Batawiy


instagram.com/rizkialbatawi


instagram.com/Zulqornain_Muafiy



 ********* ******** ********

يا فالق الحب والنوى، أعط كل واحد من الخير ما نوى، وارفع عنا كل شكوى، واكشف عنا كل بلوى، وتقبل منا كل نجوى، وألبسنا لباس التقوى، واجعل الجنة لنا مأوى .

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ، وَعَلىَ آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْمِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Alamat Yayasan al-Muafah

Jalan Tipar Cakung Rt: 05 Rw 08 NO: 5 Kampung Baru, Cakung Barat 13910



Kaffarat Dosa al-Ghamz

Kaffarat Dosa al-Ghamz

Oleh; H. Rizqi Dzulqornain al-Batawiy

بسم الله الرحمن الرحيم

 حمدا له أظهر في الوجود *** نور حقيقة النبي المحمود
وصل يا رب على محمد *** الفاتح الخاتم طه الأمجد
وناصر الحق وهادينا الى *** صراطك القويم نهج الفضلا
وآله بحق قدره الفخيم *** وجاه مقدار مقامه العظيم.

أما بعد:


Salah satu sifat tercela yang dapat merusak ukhuwwah adalah al-Ghamz. Al-Ghamz diartikan sebagai bentuk penghinaan kepada seseorang melalui isyarat alis atau kelopak mata. Dalam al-Qur’an Allah Taala berfirman:

إِنَّ ٱلَّذِينَ أَجۡرَمُواْ كَانُواْ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ يَضۡحَكُونَ  وَإِذَا مَرُّواْ بِهِمۡ يَتَغَامَزُونَ

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang berdosa adalah mereka yang menertawakan kaum beriman. Jika kaum beriman lewat di hadapan mereka, mereka saling memicingkan mata mereka. (al-Muthaffifin ayat 29-30).

Imam Ibn Saad menyebutkan dalam kitab at-Thabaqat al-Kubra Jilid 2 halaman 239 menyebutkan:

عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ: اجْتَمَعَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - نِسَاؤُهُ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ فَقَالَتْ صَفِيَّةُ زَوْجَتُهُ: أَمَا وَاللَّهِ يَا نَبِيَّ اللَّهِ لَوَدِدْتُ أَنَّ الَّذِيَ بِكَ بِي! فَغَمَزَتْهَا أَزْوَاجُ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَأَبْصَرَهُنَّ النَّبِيُّ فَقَالَ: مَضْمِضْنَ! فَقُلْنَ: مِنْ أَيِّ شَيْءٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: مِنْ تَغَامُزِكُنَّ بِصَاحِبَتِكُنَّ! وَاللَّهِ إِنَّهَا لَصَادِقَةٌ

artinya: Atha Bin Yasar meriwayatkan: “Pada suatu hari para istri Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkumpul di hari di mana beliau sakit (hari terakhir beliau wafat). Sayidutuna Shafiyah Bint Huyai radhiyallahu anha berkata: “Ya Nabiyallah, aku sangat berharap rasa sakit yang kau rasakan aku yang mengalaminya” mendengar kata-kata tersebut, istri Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang lain memandang sinis kepada Sayidatuna Shafiyah Radhiyallahu anha. Melihat kejadian itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada mereka: “Hendaknya kalian berkekumur, bersihkan mulut kalian”. Mereka bertanya: “Apa sebabnya kami diperintahkan berkekumur Ya Rasulalllah? Beliau menjawab: “Lantaran kalian memandang sinis kepada Shafiyyah. Demi Allah, apa yang ia katakan adalah hal yang benar adanya.”

Al-Hafizh Sayyid Ahmad al-Ghumariy dalam kitab Ju'natul Atthar jilid 2 halaman 189 berkata: "Kisah di atas menjelaskan larangan melakukan al-Ghamz dan hal yang wajib dilakukan oleh pelakunya yakni membersihkan mulut mereka dengan cara kekumur sebagai kaffarat (penggugur dosa).



Dikutip ulang dari kitab ittihaful amajid bi nafaisil fawaid karya Abu Mun'yah as-Sakunjiy at-Tijaniy jilid 2 halaman 253.




Khadimul Majlis al-Mu'afah
H. Rizqi Dzulqornain al-Batawiy


instagram.com/rizkialbatawi


instagram.com/Zulqornain_Muafiy



 ********* ******** ********

يا فالق الحب والنوى، أعط كل واحد من الخير ما نوى، وارفع عنا كل شكوى، واكشف عنا كل بلوى، وتقبل منا كل نجوى، وألبسنا لباس التقوى، واجعل الجنة لنا مأوى .

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ، وَعَلىَ آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْمِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.


Alamat Yayasan al-Muafah

Jalan Tipar Cakung Rt: 05 Rw 08 NO: 5 Kampung Baru, Cakung Barat 13910





Jumat, 25 Agustus 2017

Hukum Menyembelih Hewan Qurban Betina Dan Kebirian

Menyembelih Hewan Qurban Betina Dan Kebirian

Oleh; H. Rizqi Dzulqornain al-Batawiy

بسم الله الرحمن الرحيم

 حمدا له أظهر في الوجود *** نور حقيقة النبي المحمود
وصل يا رب على محمد *** الفاتح الخاتم طه الأمجد
وناصر الحق وهادينا الى *** صراطك القويم نهج الفضلا
وآله بحق قدره الفخيم *** وجاه مقدار مقامه العظيم.

أما بعد:


Pertanyaan Saudara Irwan Hendrawan at-Tijaniy

Seada-adanya tahun, saya perhatikan  orang yang melakukan ibadah qurban, sejauh pengetahuan saya kambing yang dipotong adalah lanang (jantan). Pertanyaan saya Apa hukumnya menyembelih hewan buat qurban atau aqiqah dengan kambing, sapi, kerbau atau unta wadon (perempuan)? Dan apakah sah memotong hewan kebirian buat qurban dan aqiqah, tolong sebutkan referensinya?

JAWABAN:

Menyembelih kambing, sapi, kerbau atau unta betina buat qurban dan aqiqah hukumnya boleh, lantaran tidak disyaratkan hewan qurban atau aqiqah kudu jantan, hanya saja yang jantan lebih utama.

Imam Ahmad Bin Hambal dan Imam Nasaiy meriwayatkan hadis:

عَنْ أُمِّ كُرْزٍ قَالَتْ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْحُدَيْبِيَةِ أَسْأَلُهُ عَنْ لُحُومِ الْهَدْيِ، فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ: «عَلَى الْغُلَامِ شَاتَانِ، وَعَلَى الْجَارِيَةِ شَاةٌ، لَا يَضُرُّكُمْ ذُكْرَانًا كُنَّ أَمْ إِنَاثًا»

Artinya: Dari Umu Kurzin radliallahu ‘anha, aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Hudaibiyah dan aku bertanya tentang hewan sembelihan bersabda,“Akikah untuk anak laki-laki dua kambing dan anak perempuan satu kambing. Tidak jadi masalah jantan maupun betina.” (Musnad Ahmad Bin Hambal hadis no: 27900 dan Sunan An Nasa’iy hadis no: 4218).

Imam an-Nawawi ad-Dimasyqiy menyebutkan dalam kitab al-Minhaj:

وَيَجُوزُ ذَكَرٌ وَأُنْثَى.

Artinya: Boleh motong hewan qurban baik jantan maupun betina.

Dalam kitab Raudhatut Thalibin Imam Nawawi ad-Dimasyqiy jilid 3 halaman 197 menyatakan:

التَّضْحِيَةُ بِالذَّكَرِ أَفْضَلُ مِنَ الْأُنْثَى عَلَى الْمَذْهَبِ، وَهُوَ نَصُّهُ فِي الْبُوَيْطِيُّ.

Menyembelih hewan qurban lebih utama dengan yang jantan ketimbang betina menurut pegangan mazhab imam Syafiiy dan hal itu telah dinashkan oleh imam al-Buwaithiy.”

Adapun pendapat imam Syafiiy yang mengatakan bahwa hewan betina lebih afdhal itu difahami bila memang yang betina lebih mahal harganya ketika dijadikan kurs dalam bab mengeluarkan makanan yang seharga dengannya. Atau pertimbangan bahwa hewan betina tersebut majir (mandul) atau sudah tidak produktif sedangkan hewan yang jantan yang ada dijadikan pacek (indukan untuk diambil keturunannya).

Dikatakan afdhol dengan hewan jantan, pertimbangannya adalah bahwa sapi betina itu masih punya anak dan buat produksi bibit pada tahun selanjutnya. Sehingga pemilihan sapi jantan adalah sebagai pertimbangan nilai ekonomisnya saja, di samping kualitas dagingnya lebih bagus dan tidak terlalu banyak gajihnya.

Imam Muhammad as-Syarbini al-Khatib mengatakan dalam kitab Mughnil Muhtaj jilid 6 halaman 126 (Dar al-Kutub 1994):

(وَيَجُوزُ ذَكَرٌ وَأُنْثَى) أَيْ التَّضْحِيَةُ بِكُلٍّ مِنْهُمَا بِالْإِجْمَاعِ، وَإِنْ كَثُرَ نَزَوَانُ الذَّكَرِ وَوِلَادَةُ الْأُنْثَى. نَعَمْ التَّضْحِيَةُ بِالذَّكَرِ أَفْضَلُ عَلَى الْأَصَحِّ الْمَنْصُوصِ؛ لِأَنَّ لَحْمَهُ أَطْيَبُ

Boleh hukumnya memotong hewan qurban jantan dan betina, artinya menyembelih baik hewan lanang maupun wadon menurut konsensus ulama hukumnya sah. Sekalipun yang jantan menjadi pacek dan yang wadon masih produktif, tetapi menyembelih hewan qurban jantan lebih utama menurut pendapat yang paling shahih karena dagingnya lebih berkualitas."

Adapun kambing kebirian dijadikan qurban dan aqiqah hukumnya boleh. Berdasarkan hadis:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُضَحِّيَ اشْتَرَى كَبْشَيْنِ عَظِيمَيْنِ سَمِينَيْنِ أَقْرَنَيْنِ أَمْلَحَيْنِ مَوْجُوءَيْنِ، فَذَبَحَ أَحَدَهُمَا عَنْ أُمَّتِهِ، لِمَنْ شَهِدَ لِلَّهِ بِالتَّوْحِيدِ، وَشَهِدَ لَهُ بِالْبَلَاغِ، وَذَبَحَ الْآخَرَ عَنْ مُحَمَّدٍ وَعَنْ آلِ مُحَمَّدٍ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

dari Abu Hurairah, bahwa apabila Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam hendak melaksanakan kurban, maka beliau membeli dua ekor domba yang besar, gemuk, bertanduk dan berwarna belang (hitam dan putih) dan kambing yang dari kecil dikebiri. Kemudian beliau menyembelih salah satunya untuk umatnya yang telah bersaksi akan keesaan Allah dan bersaksi atas risalah beliau, lalu menyembelih yang satunya untuk Muhammad dan keluarga Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam." (sunan Ibn Majah hadis no: 3122).

Kata ( موجوءين ) pada hadis di atas diartikan oleh para pensyarh hadis dengan (الخصيين) binatang yang dikebiri. Penjelasan tersebut kita dapat lihat pada kitab-kitab syarh hadis di antaranya: Syarh al-Mashabihis Sunnah karya Imam Muhammad Izzuddin al-Kirmaniy jilid 2 halaman 265, Kasyful Listam Syarh Umdatul Ahkam karya Abul Uyun Muhammad as-Safariniy al-Hambaliy jilid 7 halaman 48, al-Kaustarul Jari Ila riyadh Ahadist al-Bukhariy karya Syekh Ahmad al-Kuraniy jilid 9 halaman 168, al-Fathur Rabbani Li Tartib Musnad Ahmad Bin Hambal as-Syaibaniy karya Syekh Ahmad Bin Abdurrahman al-Banna as-Saatiy jilid 13 halaman 61, Mirqatul Mafatih Syarh Misykat al-Mashabih karya Mula Ali al-Qari jilid 3 halaman 1082 dan lain-lain.

Imam Kamaluddin ad-Damiriy memberikan komentar seputar khilafiah kambing kebirian buat qurban dan aqiqah dalam kitab an-Najmul Wahhaj Syarh al-Minhaj jilid 9 halaman 504:

لأن الخصي يزيد في اللحم طيبًا، وقال الجاحظ: إنه تبقى معه زهرة الصبا وإن أسن، ولأن الخصية غير مقصودة بالأكل فلا يضر عدمها. وفي قول حكاه ابن كج: يضر ذلك؛ لفوات عضو مأكول، وضعفه في (شرح المهذب) بأنه منابذ للحديث الصحيح.

Artinya: Karena hewan kebirian itu kualitasnya bagus. Al-Jahizh berkata: “Hewan kebirian sekalipun udah masuk usia manula masih gagah. Alasan lain menyebutkan bahwa biji pler yang dikebiri umumnya tidak dijadikan konsumsi sehingga hilangnya biji klonengan tersebut tidak berdampak apa-apa. Pendapat yang disebutkan Ibn Kajj, hewan kebirian tidak boleh dijadikan qurban dan aqiqah karena ada anggota yang bisa dimakan hilang. Tetapi pendapat ibn Kajj dianggap lemah oleh Imam an-Nawawiy dalam kitab Syarh al-Muhaddzab lantaran tertolak dengan adanya hadis shahih yang menyatakan Rasulullah pernah menyembelih hewan kebirian.”

Sampai ada cerita yang al-Faqir dapatkan dari Abuya KH Saifuddin Amsir mengenai kelompok orang yang ngotot bahwa kambing kebirian kaga sah bila dijadikan hewan qurban dan aqiqah. Orang tersebut marah-marah dan mendatangi kiayi yang membolehkan kebirian bakal qurban dan aqiqah. Boleh jadi tu orang sampe drapon karena ilmu yang dia dapat dari gurunya kambing kebirian kaga sah buat qurban dan aqiqah. Pak kiayi, kata guru saya, yang saya yakin bangat itu pendapat yang bener bahwa kaga ada dalilnya bila kambing kebirian sah buat qurban dan aqiqah !!! Kiayi menjawab: Elu bilangin ama guru luh, dalilnya bukan kaga ada, tapi dia belum nemu. Sangat bedanya antara kaga ada ama kaga ketemu. Itu guru luh, suruh belajar lagi kitab hadis dan fiqh, belajar sama guru yang punya sanad. Kalau dia pelajarin secara benar, ngaji induk kitab hadis dengan guru yang punya sanad sampe khatam pasti bakal nemu tu dalil. Kalau emang, guru luh belum nemu juga nich gua bikinin dalil suplemen:
ان كنتم بالبر متقربا
In kuntum bil birri mutaqorriban

Itu orang nanya, “Artinya apa tuh kiayi? Kiayi menjawab: Biar kata tu kambing buntung dikebiri masih boleh buat qurban.”


Dikutip ulang dari kitab ittihaful amajid bi nafaisil fawaid karya Abu Mun'yah as-Sakunjiy at-Tijaniy jilid 2 halaman 253.




Khadimul Majlis al-Mu'afah
H. Rizqi Dzulqornain al-Batawiy


instagram.com/rizkialbatawi


instagram.com/Zulqornain_Muafiy



 ********* ******** ********

يا فالق الحب والنوى، أعط كل واحد من الخير ما نوى، وارفع عنا كل شكوى، واكشف عنا كل بلوى، وتقبل منا كل نجوى، وألبسنا لباس التقوى، واجعل الجنة لنا مأوى .

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ، وَعَلىَ آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْمِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Alamat Yayasan al-Muafah

Jalan Tipar Cakung Rt: 05 Rw 08 NO: 5 Kampung Baru, Cakung Barat 13910