Senin, 09 Maret 2015

Pelajari Sesuatu Dengan Danta

Ada seorang wanita ingin sekali belajar memasak kepada kawannya yang ahli memasak ikan dengan berbagai olahan. Konon menurut cerita ikan masakkannya sangat lezat seandainya pak bondan wisata kuliner yang mencicipinya akan berkata maknyosss. Wanita tersebut ingin tau rahasia memasak ikan dari kawannya itu, kebetulan suaminya penggemar kelas berat makan ikan.  Si wanita memang sudah nawaitu ingin belajar bagaimana cara memasak ikan karenanya dia membeli ikan segar di pasar. Sesampainya di rumah ahli masak, dia menceritakan tujuan kedatangannya. Akhirnya si ahli masak langsung mengajarkannya tehnik memasak berawal dari cara menyiangi (membersihkan) dari sisik hingga angsan dan kotoran ikan. Wanita itu memperhatikan dengan khusyu dan ada sesuatu yang menarik campur aneh, si ahli masak tiba-tiba memotong kepala dan buntut ikan dan membuangnya. Kemudian ahli masak mencuci ikan dan membuat bumbu racikannya. Setelah ikan itu matang dan siap saji, wanita itu bertanya kepada ahli masak kenapa bagian kepala dan buntut ikan itu kudu dibuang. Si ahli masak itu menjawab: "itu memang dari sononya sejak aku belajar masak dari ibuku, mungkin ini rahasia yang bikin gurih olahan ikannya." Wanita itu bertanya lagi coba kau tanya ibumu. Si ahli masak langsung menelpon ibunya dan menanyakan hal tersebut. Sang ibu menjawab; "Lah tau dach, waktu saya belajar sama nenekmu juga kudu begitu caranya." Masih penasaran, Selanjutnya si ahli masak menelpon neneknya dan menanyakan hal yang sama. Sang nenek menjawab: " Oh, masalah masak ikan buntut ama kepalanya kudu dipotong. Lah boleh jadi dipotong sebab kuali yang nenek punya ukurannya kecil, sedangkan ikannya besat. jadi kepala dan buntutnya kudu dipotong kalo tidak, bakalan tidak muat di kuali. Kaga pantes banget ngeliat ikan baplang di kuali udah kaya orang goreng kayu kaso."

*****
Pelajaran dari kisah di atas: Jangan ikut-ikutan mengerjakan sesuatu yang belum jelas. Jika ingin mencontoh sesuatu kudu benar-benar danta (jelas) sumbernya. Terutama jika ingin belajar agama kudu jelas sanad keguruan orang yang kita ambil ilmunya. Ingin mencangkok ilmu benar-benar kudu jelas refrensinya agar bisa dipertanggungjawabkan.
Berapa banyak hal-hal yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari dari orang-orang tua kita dahulu sampai kita jadikan petuah dan menyalahinya merupakan pantangan sekaligus kehinaan yang padahal kita sendiri tidak mengetahui secara jelas bagaimana kronologi mereka orang-orang terdahulu melakukannya.

Disarikan dari kitab ittihaful Amajid bi nafaisil Fawaid karya Haji Rizqi Zulqornain al-Batawiy halaman: 275.

pentingnya sanad keguruan, kisah unik mengenai belajar secara talaqqi (langsung) dengan guru yang kredibel


Khadim Ma'had al-Muafah 
H. Rizqi Zulqornain al-Batawiy



Rabu, 04 Maret 2015

Mengenal Para Wali Lebih sulit Dari Mengenal Allah

Mengenal Para Wali Lebih sulit Dari Mengenal Allah
Dihikayatkan imam Malik Bin Dinar Radhiyallahu Anhu berjalan di sebuah pasar kota Bashrah, beliau melihat ada penjual buah Tin hingga beliau berselera dan ingin sekali membelinya. Tetapi apa mau dikata beliau tidak punya uang sama sekali maklum dompet lagi bapet alias keuangan cekak. Beliau berpikir empel-empel alus-alus untuk melakukan barter dengan sandal beliau agar mendapatkan buah Tin dari penjualnya. Beliau berkata: Wahai penjual buah Tin, aku ingin sekali membeli buah Tin, tetapi aku tak punya uang kira-kira boleh tidak aku membelinya dengan sepasang sendalku ini? Si penjual langsung melemparkan sandal beliau sambil berkata: “Sendal model begini sih kaga ada harganya, ente tinggal di masjid 2 bulan juga kaga ada yang mau ngambil !!! tanpa respon apa-apa Imam Malik Bin Dinar mengambil sandal beliau yang dilempar oleh si tukang buah Tin dan meninggalkan pasar. Kemudian salah seorang di pasar itu ada yang mengenal Imam Malik Bin Dinar berkata kepada penjual buah Tin: “Tahukah engkau siapa orang yang barusan kau cela? Penjual menjawab: Aku tidak kenal. Dia adalah seorang ulama besar, wali Allah yang sangat disegani beliau adalah Malik Bin Dinar, seru salah seorang tadi. Langsung saja si penjual salah tingkah merasa bersalah besar ia menyuruh salah seorang budaknya untuk memberikan hadiah kepada Malik Bin Dinar satu baskom besar berisi buah Tin dan ia berkata kepada budaknya; Jika Malik Bin Dinar menerima hadiah tersebut engkau akan aku merdekakan.” Sang budakpun berlari dengan penuh semangat mengejar Malik Bin Dinar untuk menjalankan perintah tuannya. Ketika si budak mendapati Malik Bin Dinar ia berkata: “Wahai Malik, terimalah hadiah dari tuanku penjual buah Tin karena dengan engkau menerima ini aku akan dibebaskan dari perbudakkan!! Malik Bin Dinar menjawab: “Jika menerimanya menjadi penyebab kebahagianmu, maka dengan menerima itu akan menjadi siksaan pedih buatku.” Sang budak nga ngasoh-ngasoh memaksa agar Malik Bin Dinar menerimanya, Malik Bin Dinar menolaknya. Seribu kali budak itu memaksa seribu kali pula beliau menolak. Hingga Malik bin Dinar berkata berkata; “Aku tidak akan pernah menjual agama dengan buah Tin dan mulai sekarang sampai hari qiyamat aku tak akan lagi pernah memakannya.”
Kisah di atas dikutip dari kitab “ Ittihaful Amajid Bi Nafaisil Fawaid “ karya H. Rizqi Zulqornain al-Batawiy, halaman 225.
Menyakiti dan mencela para wali Allah menjadi salah satu penyebab datangnya petaka dunia akherat. Jika menyakiti seorang muslim saja di larang tentunya terlebih lagi menghina para kekasih Allah. Bukan hanya keberkahan yang akan Allah cabut tetapi juga musibah yang akan mengenai fisik, harta, bahkan iman seseorang yang menghina para wali Allah. Karna pada hakekatnya orang-orang yang menghina para wali adalah musuh Allah dan musuh Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wa sallam.
Di dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman:
(من عادي لي وليا فقد اذنته بالحرب)
Siapa saja yang memusuhi waliku sungguh telah Ku umumkan peperangan dengannya".
Inilah derajat para wali wali Allah yang bila ia disakiti oleh ummat tidak akan meminta pembalasan kepada Allah, tapi Allah sendiri yang akan menjadi penolongnya, maka kita berlindung kepada Allah dari memusuhi wali wali'Nya.

Berkata Imam Abu Abas Ahmad al-Mursiy Radhiyallahu Anhu: " Aku mengamati keadaan suatu kaum, dan tidaklah aku melihat seorangpun dari mereka yang mengingkari kewalian kecuali meninggal dalam Suul Khatimah (keadaan yang buruk).
Sebagai pedagang kudu memiliki dan mengamalkan akhlaq karimah, lantaran mengamalkan akhlaq karimah merupakan kewajiban umat Islam. Dengan mengamalkan akhlaq karimah pada hakikatnya kita sedang berdakwah. Berdakwah dengan akhlaq memiliki pengaruh yang sangat besar dalam tersebarnya Islam di alam ini. Bobot terbesar tema-tema agama adalah berkisar tentang akhlaq. Ingin mengetahui orang itu baik atau tidak barometernya adalah akhlaq. Boleh jadi Rasulullah sampai memberikan doa buat para pedagang, pembeli dan siapa saja yang memiliki sifat toleransi yang merupakan bagian dari akhlaq karimah:
Dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah bersabda:
رَحِمَ اللهُ رَجُلاً سَمْحًا إِذَا بَاعَ ، وَإِذَا اشْتَرَى ، وَإِذَا اقْتَضَى
“Semoga Allah mencurahkan rahmatNya kepada seorang yang memiliki sikap toleransi ketika menjual, membeli dan menagih hutang” (HR Bukhari no 1970).



KHADIMUL MA'HAD AL-MUAFAH
H. RIZQI ZULQORNAIN AL-BATAWIY

Selasa, 03 Maret 2015

Siksa Seorang Gay (Homo Seksual)

Siksa Seorang Gay (Homo Seksual)
Dikisahkan pada suatu hari Nabi Isa Alaihis Salam melewati sebuah komplek perkuburan, betapa terkejutnya beliau melihat ada seorang lelaki yang berteriak kekaukkan lantaran terbakar api. Nabi Isa tergere-gere (terburu-buru) mencari air untuk memadamkan api, ketika air telah didapatkan langsung saja beliau mengobrok api tersebut. Ternyata beliau makin terheran-heran karena api tersebut berubah menjadi seorang bocah ABG ganteng dan lelaki yang terbakar tadi menjadi api. Kemudian beliau berdoa kepada Allah Taala agar keduanya dikembalikan dalam wujud aslinya sekaligus beliau memohon penjelasan tentang kronologi peristiwa yang beliau lihat. Akhirnya lelaki yang terbakar itu menjadi manusia dan bocah menjadi api. Lalu Allah Taala memerintahkan Nabi Isa Alaihis Salam untuk bertanya langsung kepada lelaki itu. Nabi Isa: Siapa kamu? Lelaki itu menjawab: Aku adalah seorang lelaki Gay yang memiliki kelainan seksual (homo), waktu hidup di dunia aku melakukan hubungan seks dengan bocah itu atas dasar suka sama suka. Tatkala aku meninggal dan bocah itu meninggal padahal kami belum sempat bertaubat, satu saat bocah itu menjadi api yang membakar diriku dan di kesempatan lain aku menjadi api yang membakar dirinya. Dengan cara seperti ini, Allah Taala telah mengazab kami sampai hari kiamat.” Kemudian Nabi Isa Alaihis Salam meninggalkan keduanya.”
Azab yang Allah Taala sediakan untuk para gay sangat tragis, sampai Nabi Isa Alaihis salam memilih dirinya untuk meninggalkannya. Semoga saudara-saudara kita yang terjebak dalam lembah homo seksual mendapat hidayah dari Allah untuk hijrah kepada kehidupan normal. Lantaran jika perbuatan tersebut dilakukan sampai mati belum juga bertaubat, maka siksa Allah sangatlah pedih bagi mereka.
Homo seks perbuatan yang sangat hina dan lebih besar dosanya dari pada perzinahan dan pelakunya lebih hina dari binatang. Lantaran perbutan tersebut sampai-sampai binatangpun tidak ada yang melakukannya. Sampai gini hari, belom pernah kita dengar apalagi melihat ada ayam jago belaki (kawin) dengan ayam jago lainnya. Bahkan ayam biang belom pernah nyeredeng kepada ayam biang lain apalagi pak belaki.
Homo seks juga merupakan penyakit yang sangat bahaya bagi keberlangsungan hidup manusia. Seandainya para lelaki hanya tertarik libidonya dengan lelaki dan wanita hanya kepada wanita, maka kehidupan manusia bakal bures. Bayangkan yang lelaki pada ngadu anggar dan wanitanya pada ngadu baskom. Naudzu Billah.
Boleh jadi Allah Taala kirimin siksa sedahsyat-dahsyatnya kepada kaum Nabi Luth Alaihis Salam.
Bagi para dai dituntut untuk melakukan dakwah super ekstra kepada mereka, agar mereka kembali mendapat petunjuk. Mari kita rangkul jangan kita pukul merka menuju hidup yang penuh redho Allah. masih banyak diantara mereka terjerumus lantaran keawaman mereka dan kedangkalan mereka tentang agama.


Disarikan dari kitab Ittihaful Amajid Bi Nafaisil Fawaid karya H. Rizqi Zulqornain al-Batawiy halaman: 99.


Khadimul Ma'had al-Muafah
H. Rizqi zulqornain al-Batawiy

Jumat, 27 Februari 2015

Malaikat Tangan Seribu

Al-Qadhiy al-Adib Sayyidi Ahmad as-Sukairij Radhiyallahu Anhu seorang ulama besar dari negri Maroko menyebutkan dalam kitabnya: Kasyful Hijab Amman Talaqa Maas Syekh at-Tijaniy Minal Ashab (ensiklopedia ulama Thoriqoh Tijaniyah yang bertalaqqi langsung kepada Sayyidi Syekh Ahmad Tijani Radhiyallahu Anhu) menyebutkan kumpulan redaksi shalawat yang sangat indah dengan gubahan sajak huruf-huruf Hijaiyah karya al-Imam Sayidi Muhammad al-Arobiy at-Taziy ad-Damrawiy at-Tijaniy Radhiyallahu Anhu yang beliau beri nama Yaqutatul Muhtaj (Batu Yaqut yang diburu banyak orang). Di dalam salah satu redaksinya disebutkan nama malaikat yang memiliki tugas menghitung dan mengkoordinir jumlah shalawat-shalawat yang ada di alam untuk dilaporkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Malaikat itu bernama “Shalshayayil” Alaihis Salam. Begitulah keterangan dari ahli ma'rifah Radhiyallahu Anhum.

Adapun riwayat hadis yang menyatakan bahwa ada malaikat yang memiliki seribu tangan, di setiap tangan ada seribu jari. Walaupun malaikat itu memiliki seribu tangan dan sejuta jari dan diberikan kepandaian untuk menghitung tetesan air hujan yang yang turun dari langit ke bumi, tapi ia tidak mampu menghitung jika ada kelompok manusia berkumpul di satu tempat, mereka menyebut nama Rasulullah shallallahu Alaihi Wa sallam lalu bershalawat kepada beliau. Riwayat ini maudhu (palsu) tida memiliki sanad yang bisa dipertanggung jawabkan sehingga boleh jadi tidak ditemukan dalam kitab-kitab hadis yang mu’tabar (diakui) oleh para ulama ahli hadis di kalangan ahli sunnah. Riwayat tersebut banyak disebutkan dalam kitab-kitab ulama syiah ekstrim.

Dikutip dari kitab “Ittihaf al-Amajid Bi Nafais al-Fawaid” karya H. Rizqi Zulqornain al-Batawiy Hafizhahullah Wa Lathafa Bihi.



Kamis, 26 Februari 2015

Nazhom Syekh Muhammad Sami' (Kritik Terhadap Wahabi)




Ketahuilah aqidah sekte Wahhabi berkutat pada empat hal:

1.     Merendahkan pangkat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
2.     Menghina para wali Allah Taala.
3.     Hobi mengkafirkan ahli qiblat (orang muslim)
4.     Memiliki keyakinan tajsim (Allah berbentuk seperti makhluq).
Di bawah ini ada nazhom yang menyimpulkan empat hal di atas:

بسم الله الرحمن الرحيم

أمة الإسلام اعلموا أن عقائد الوهابية منحصرة في أربعة أشياء 
.(1  إهانة الرسول صلى الله عليه وسلم وأنه طار من
(2 إهانة أولياء الله الكرام رضي الله عنهم أجمعين
(3 تكفير السواد الأعظم الموحدين
(4 تجسيم الله سبحانه وتعالى



وقد جمعها في الأبيات الشيخ محمد السميع جرا
 بن محمد العربي جرا جمهورية مالي:


إني نصيح لكم يا أفضل الأمم=والنصح فرض على الإخوان في الحِكَمِ
أن الوهَابيَّةَ الملعونةَ المِلَلِ=قد شاع إتلافُها في الحِلِّ والحَرَم
يقول سالكها : النبيُّ ليس له=فضل على سائر الأشياء كالرِّمَمِ
وأنه لا يُطيق النفع للبشَر=وأنه طارشٌ لا فاتح النِّعَم
يقول سالكُها : إن زُرتَ ذا كرَمٍ=مُلتمِسَ الخير أنتَ عابدُ الصَّنَمِ
يقول سالكها الرحمانُ مُنجَلِسٌ=على سماء فكيف كان في القِدَم؟
عَمَتْ بصيرتُهم عن مسلك الرَّشَد=من النفاق وضُعف العقل والهِمَم
يا ليتهم يعلمون ما أُعِدَّ لمن=يَرمِي المُوَحِّدَ بالإشراك والوَصَم
صلى الإله على خير الورى وعلى=ساداتنا آله وال
صحب كلِّهِم

Nazhom tersebut dikutip dari kitab ittihaful Amajid Bi Nafaisil Fawaid karya al-Haj Rizqi Dzulqornain al-Batawi jilid 2 halaman 340 . 




اللهم صل على صاحب الفيوض والمدد سيدنا محمد خير العباد





Senin, 23 Februari 2015

Doa Bertemu Rasulullah Dalam Mimpi (Sanad Imam al-Hafizh Muhammad al-Hajujiy)

Seorang ahli hadis ternama dari daratan negri Maroko yang juga merupakan arkan (pembesar ulama) dalam Thoriqoh Tijaniyah, Imam al-Hafizh al-Musnid Sayyidi Muhammad Bin Muhammad al-Hajujiy al-Hasaniy at-Tijaniy Radhiyallahu Anhu (1297-1370 Hijriyah) dalam kitab al-Minahul Wahbiyyah Ala Talhish Syamail Muhammadiyyah menyebutkan: “Siapa saja secara konsisten dan yakin membaca doa di bawah ini pada setiap selesai mengerjakan shalat fardhu sebanyak 99 kali, maka ia akan menjadi orang yang sangat sering berjumpa dengan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa ala alihi wa sallam dalam tidurnya.”
يا غياثي عند كل كربة، ومجيبي عند كل دعوة، ومعادي عند كل شدة، ويا رجائي حين تنقطع حيلتي، يا غياثي
YA GHIYATSI INDA KULLI KURBAH, WA MUJIBI INDA KULLI DA’WAH, WA MA’DI INDA KULLI SYIDDAH, WA YA ROJAI HINA TANQOTHIU HILATIY, YA GHIYATSI..
Artinya: Wahai penolongku di setiap kesulitan, pengqabul segala doa-doaku, tempat mengadu di setiap kepelikkan, wahai yang menjadi tempat bersimpuh segala harapanku ketika pupus harapan, wahai penolongku.”
Adapun sanad muttashil (bersambung) kepada Imam al-Hafizh Sayyidi Muhammad Bin Muhammad al-Hajujiy yang al-Faqir dapatkan sebagai berikut:
-        الحاج رزقي ذو القرنين البتاوي عن استاذنا الأديب الشاعر سيدي الشريف عبد الكريم بقاش الادريسي الحسني وفضيلة الدكتور سيدي عدنان زهار المغربي كلاهما عن العلامة الفقيه سيدي محمد الحجوجي عن والده الحافظ المسند المحدث سيدي محمد بن محمد الحجوجي الحسني رضي الله عنه .
-        الحاج رزقي ذو القرنين البتاوي عن فضيلة الدكتور يوسف عبد الرحمن المرعشلي عن سيدي محمد الشاذلي بن محمد الصادق النيفر التونيسي عن الحافظ المسند المحدث سيدي محمد بن محمد الحجوجي الحسني رضي الله عنه .


Khadimul Ma'had al-Muafah
H. Rizqi Dzulqornain al-Batawiy


Keutamaan Shalawat Jauharatul Kamal (al-Hafizh Muhammad al-Hajujiy)

Imam al-Hafizh al-Musnid Sayyidi Muhammad Bin Muhammad al-Hajujiy al-Hasaniy at-Tijaniy Radhiyallahu Anhu dalam kitab al-Minahul Wahbiyyah menyebutkan: “Bahwa factor terbesar yang menjadi penyebab seseorang dapat bertemu Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dalam mimpi adalah dengan istiqomah mengamalkan sunnah-sunnah dan mengikuti tuntunan dan memperbanyak membaca shalawat kepada beliau.
Di antara redaksi shalawat yang diyakini ahli ma’rifah jika diamalkan dengan istiqomah memiliki keutamaan bertemu Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah shalawat Jauharatul Kamal Fi Madhi Khoirir Rijal. Salah satu redaksi shalawat agung yang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam talqinkan kepada seorang wali besar Sayyidi Syekh Ahmad Bin Muhammad at-Tijaniy al-Hasaniy Radhiyallahu Anhu. Adapun kaifiatnya dibaca 7 kali sebelum tidur dengan persyaratan yang disebutkan oleh para ulama Thoriqoh Tijaniyyah seperti: berwudhu secara sempurna dengan air (bukan tayammum), suci tempat, pakaian dan badan serta tidak boleh dibaca diatas kendaraan darat, laut maupun udara, di tempat yang luas sekira leluasa 6 orang dan mendapat izin (ijazah) dari orang yang memang memiliki legitimasi shohih untuk mengijazahkan .  
Shalawat Jauharatul Kamal sebagai berikut:

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَيْنِ الرَّحْمَةِ الرَّبَّانِيَّةِ وَالْيَاقُوْتَةِ الْمُتَحَقِّقَةِ الْحَائِطَةِ بِمَرْكَزِ الْفُهُوْمِ وَالْمَعَانِي . وَنُوْرِ اْلأَكْـوَانِ الْمُتَكَوِّنَةِ اْلآدَمِيِّ صَاحِبِ اْلحَقِّ اْلرَّبَّانِي . اَلْبَرْقِ اْلأَسْطَعِ بِمُزُوْنِ اْلأَرْبَاحِ الْمَالِـئَةِ لِكُلِّ مُتَعَرِّضٍ مِنَ اْلبُحُوْرِ وَاْلأَوَانِى . وَنُوْرِكَ اللاَّمِـعِ الَّذِيْ مَلأْتَ بِهِ كَوْنَكَ اْلحَائِطَ بِأَمْكِنَةِ الْمَكَانِي . اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى عَيْنِ اْلحَقِّ الَّتِى تَتَجَلّى مِنْهَا عُرُوْشُ اْلحَقَائِقِ عَيْنِ اْلمَعَارْفِ اْلأَقْـوَمِ . صِرَاطِكَ التَّآمِّ اْلاَسْقَمِ . اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى طَلْعَةِ اْلحَقِّ بِالْحَقِّ اْلكَنْزِ اْلأَعْظَمِ . إِفَاضَتِكَ مِنْكَ اِلَيْكَ إِحَاطَةِ النُّوْرِ 
الْمُطَلْسَمِ . صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ صَلاَةً تُعَرِّفُنَا بِهَا إِيَّاهُ


Selasa, 17 Februari 2015

Mujarrabat Surat al-Mu’minun

Mujarrabat Surat al-Mu’minun
Di antara rahasia yang sudah teruji coba oleh para ahli ma’rifah dari keberkahan surat al-Mu’minun, surat urutan ke-23 dalam urutan surat-surat al-Qur’an terdiri 118 ayat adalah jika surat tersebut ditulis dikertas dan kertas tersebut selalu dibawa oleh seseorang dan ia sering membacanya, maka ia akan mendapat kekuatan, keistiqamahan dalam melakukan kebaikan serta diberikan kesanggupan untuk menjauhi ma’shiat.”


Mudir Ma’had al-Mu’afah

H. Rizqi Dzulqornain al-Batawiy


Sanad Ijazah Shalawat Thibbul Qulub (Syekh Ahmad ad-Dardir)

Shalawat Thibbul Qulub Syaikh Ahmad al-Dardir al-Khalwatiy

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ الْقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا . وَعَافِيَةِ اْلأَبْدَانِ وَشِفَائِهَا . وَنُوْرِ اْلأَبْصَارِ وَضِيَائِهَا . وَقُوْتِ اْلأَرْوَاحِ وَغِذَائِهَا . وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ .

Artinya:”Ya Allah, limpahkanlah rahmat yang disertai ta’zhim kepada Nabi Muhammad sebagai penyembuh semua hati dan menjadi obatnya, keafiatan badan dan kesembuhannya, cahaya segala penglihatan dan menjadi sinarnya, menjadi makanan jiwa santapannya. Dan semoga terlimpahkan pula shalawat dan salam kepada keluarga  dan sahabat beliau.”

Dalam kitab Saadah al-Darain Fi Shalat Ala sayyid al-kaunain, syaikh Yusuf Ibn Ismail al-Nabhani menisbahkan shalawat ini kepada Syaikh Abu al-Barakat Ahmad al-Dardir.[1]

Ada sedikit perbedaan redaksi dari shalawat Thibb al-Qulub atau yang disebut juga shalawat al-Thibbiyyah ini, dalam redaksi Syaikh Ahmad al-Shawiy tidak ada tambahan (وَقُوْتِ اْلأَرْوَاحِ وَغِذَائِهَا). Tambahan tersebut disebutkan oleh Syaikh Yusuf Ibn Ismail al-Nabhaniy dalam kitab Saadah al-Darain Fi Shalat Ala Sayyid al-Kaunain. Kemudian Sayyid Muhammad Ibn Alawiy al-Maliky mengukuhkan kembali dalam kitab Abwab al-Faraj dan Sawariq al-Anwar Min Ad’iyah al-Sadah al-Akhyar.

Habib Abu Bakar Ibn Abdullah Ibn Alawiy al-Atthas pengarang kitab Risalah al-Kautsar, menamakan shalawat Thibb al-Qulub dengan sebutan shalawat Nur al-Abshar.

Syaikh al-Hasan ad-Daymainiy at-Tijaniy membuat gubahan nazham dari redaksi shalawat Thibbul Qulub sebagai berikut:

^ صلاة طب القلوب ^
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ الْقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا . وَعَافِيَةِ اْلأَبْدَانِ وَشِفَائِهَا . وَنُوْرِ اْلأَبْصَارِ وَضِيَائِهَا . وَقُوْتِ اْلأَرْوَاحِ وَغِذَائِهَا . وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ :
اللـهمّ صلينْ وســلمن على * سيدنا محــــمد الذي علا
طب القلوب ودوا عــلتها       * شفاء الابـــدان وعافيتها
ونور الابصار الذي أيضا به * ضــياؤها وآله وصحبه

Biografi Syaikh Ahmad al-Dardir
Imam Abu al-Barakat Ahmad Ibn Muhammad Ibn Ahmad al-Adawiy al-Malikiy al-Khalwatiy yang dikenal dengan Syaikh al-Dardir, seorang ulama shufi, pakar fiqh, teologi, tafsir, hadis, gramatika dan lain-lain. Pendidikannya dimulai sejak beliau menghafal al-Qur’an pada masa kecilnya. Kemudian melanjutkan ke al-Azhar dengan mengikuti perkuliahan para ulama terkemuka di sana seperti Syaikh Muhammad al-Dafariy dan lain-lain.

            Dalam studi hadis, Syaikh al-Dardir banyak belajar kepada Imam al-Shabbagh dan Syamsuddin al-Hifniy. Dalam studi fiqh, beliau belajar kepada Imam Ali al-Shaidi yang merupakan ulama terkemuka dalam mazhab Maliki. Lalu beliau menjalani kehidupan shufi di bawah bimbingan Imam al-Hifniy. Setelah Imam Ali al-Shaidi meninggal, Syaikh al-Dardir menggantikan posisinya sebagai mufti dan guru besar dalam mazhab Maliki di Mesir, baik ilmu-ilmu zhahir maupun ilmu bathin (tashawuf).

            Syaikh al-Dardir dilahirkan  pada tahun 1127 H/1715 M. Beliau wafat pada tahun 1201 H/1786 M. beliau termasuk ulama produktif, meninggalkan sejumlah karangan yang populer hingga kini. Karangannya meliputi bidang studi fiqh, gramatika, tashawuf, teologi, tafsir dan lain-lain. Diantara karangannya dalam bidang fiqh adalah Aqrab al-Masalik Li Mazhab al-Imam Malik, Syarh Mukhtashar Khalil dan lain-lain. Dalam bidang gramatika beliau menulis Tuhfah al-Ikhwan Fi ilm al-bayan. Dalam bidang teologi, karyanya yang popular dan menjadi kajian para pelajar adalah al-Kharidah al-Bahiyyah, sebuah kitab yang menguraikan teologi al-Asy’ariyah dalam bentuk Nazham.[2]

Karamah Syaikh Ahmad al-Dardir
Syaikh Hasan al-Adawiy pernah mengalami ujian berat yang dilakukan oleh penguasa Mesir. Kemudian beliau teringat akan pesan gurunya, Syaikh Muhammad al-Siba’iy yang pernah mengabarkan kepada beliau, bahwa engkau akan mendapatkan Futuh dari Syaikh al-Dardir. Sejak saat itu Syaikh Hasan al-Adawiy melakukan ziarah ke maqam Syaikh al-Dardir dan selalu bertawassul kepadanya. Sehingga pertolongan dan kemenangan, Allah berikan kepada Syaikh Hasan al-Adawiy.[3]

Keutamaan Shalawat Thibb al-Qulub
Syaikh Ahmad Ibn Muhammad al-Shawiy al-Malikiy berkata; “Apabila shalawat Thib al-Qulub dibaca sebanyak 400 kali atau 2000 kali, diniatkan buat orang sakit, maka dengan izin Allah, penyakit apapun akan sembuh.”[4]

            Dihikayatkan ada orang mendatangi Habib Ahmad Ibn Hasan al-Atthas di kota Huraidhah, ia mengadukan perihal matanya yang telah mengalami gangguan penglihatannya. Kemudian Habib Ahmad mengusap kedua mata orang tersebut dan beliau memerintahkan agar ia memperbanyak membaca shalawat Thibb al-Qulub. Habib Ahmad lalu berkata: “Habib Muhammad Ibn Zain Baabud telah mengabarkan diriku bahwa ia berkata; mataku pernah mengalami ganguan penglihatan sehingga aku minta solusi kepada Habib Shalih Ibn Abdullah al-Atthas kemudian beliau mengusap kedua mataku dan beliau memerintahkan agar aku membaca shalawat Thibb al-Qulub setiap hari sebanyak 300 kali, maka aku amalkan shalawat itu sehingga aku diberikan kesembuhan yang segera.[5]

            Selain shalawat Thibb al-Qulub, syaikh Ahmad al-Dardir memilki beberapa kumpulan shalawat diantaranya;

Shalawat al-Ridhaiyyah
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلاَةً الرِّضَا وَارْضَ عَنْ أَصْحَابِهِ رِضَاءَ الرِّضَا .
Artinya: “Ya Allah, berikan rahmat yang disertai Ta’zhim kepada Nabi Muhammad, sebenar-benar shalawat sempurna yang Engkau ridha dan Engkau berikan keridhaan kepadanya, dan berikanlah keridhaan yang tinggi kepada para sahabatnya.”

            Para ulama mengatakan; “Keutamaan shalawat al-Ridhaiyyah, apabila dibaca 70 kali, akan mengabulkan segala doa kebaikan.”[6]

Shalawat al-Wishal
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ صَلاَةً تَلِيْقُ بِجَمَالِهِ وَجَلاَلِهِ وَكَمَالِهِ وَصَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَذِقْنَا بِالصَّلاَةِ عَلَيْهِ لَذَّةَ وِصَالِهِ .

Artinya: “Ya Allah, berikan rahmat yang disertai Ta’zhim kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebenar-benar shalawat yang pantas dengan keagungan, kebesaran dan kesempurnaannya. Berikanlah pula shalawat dan salam kepada beliau dan keluarganya. Anugrahkanlah kami kelezatan bertemu dengan beliau dengan keberkahan bershalawat kepadanya.”

Dinamakan shalawat al-Wishal lantaran menurut keterangan para ulama, siapa saja yang lazim membacanya, akan Allah sampaikan dirinya bertemu dengan makhluk yang paling mulia yakni Nabi Muhammad.[7]

Untuk mendapat informasi lebih luas tentang shalawat Thibbul Qulub, para pembaca saya persilahkan untuk merujuk kitab ensiklopedia shalawat yang saya tulis dengan judul "Dzakhiratul Muhtaj Fi shalawat Ala Shahibil Liwa Wa at-Taj" dicetak 3 jilid besar dan telah diberikan sambutan oleh 23 ulama timur tengah. 

Sanad muttashil kepada Imam Ahmad ad-Dardir al-Malikiy al-Khalwatiy yang penulis dapatkan sebagai berikut:

الحاج رزقي ذو القرنين أصمت البتاوي عن المعمر العلامة السيد أحمد بن أبي بكر الحبشي عن الشيخ عمر حمدان المحرسي عن الشيخ فالح الظاهري عن الشريف محمد بن علي السنوسي عن الشيخ احمد بن محمد الصاوي المالكي عن الشيخ الامام الهمام العالم العامل واللوزعي الكامل العارف بالله احمد بن محمد الدردير المالكي الخلوتي العدوي رضي الله عنه.

KHADIMUL MA'HAD AL-MUAFAH
H. RIZQI DZULQORNAIN AL-BATAWIY



Khadimul Majlis al-Mu'afah
H. Rizqi Dzulqornain al-Batawiy

Ikuti Kajian Islam:

instagram.com/rizkialbatawi

@rizkialbatawi


https://www.facebook.com/Rizqi-Zulqornain-Albatawi





[1] Syaikh Yusuf Ibn Ismail al-Nabhaniy, Saadah al-Darain Fi Shalat Ala sayyid al-kaunain (Beirut: Dar al-Fikr) h. 13.
[2] Syaikh Abdurrazaq Ibn Hasan al-Baithar, Hilyah al-Basyar Fi Tarikh al-Qarn al-Tsalits Asyar vol. 1 (Beirut: Dar al-Shadir 1993) h. 177.
[3] Syaikh Yusuf Ibn Ismail al-Nabhaniy, Jami’ Karamah al-Auliya vol. 1 (Beirut: Dar al-Fikr 1993) h. 564.
[4] Syaikh Ahmad Ibn Muhammad al-Shawiy, al-Asrar al-Rabbaniyyah Wa al-Fuyudh al-Rahmaniyyah Ala Shalawat al-Dardiriyyah (Surabaya: Bungkul Indah) h. 46.
[5] Habib Abu Bakar  Ibn Abdullah al-Atthas, Mafatih al-Sa’adat Fi al-shalawat Ala Sayyid al-Sadat h. 23.
[6] Syaikh Yusuf Ibn Ismail al-Nabhaniy, Saadah al-Darain Fi Shalat Ala sayyid al-kaunain (Beirut: Dar al-Fikr) h. 14; Syaikh Ahmad Ibn Muhammad al-Shawiy, al-Asrar al-Rabbaniyyah Wa al-Fuyudh al-Rahmaniyyah Ala Shalawat al-Dardiriyyah (Surabaya: Bungkul Indah) h. 40.
[7] Syaikh Yusuf Ibn Ismail al-Nabhaniy, Saadah al-Darain Fi Shalat Ala sayyid al-kaunain (Beirut: Dar al-Fikr) h. 14.