Jumat, 05 Juli 2013

Kisah Hikmah Syekh Ibrahim Bin Adham (Bekal Hidup Di Dunia)

Imam Muhammad Fakhruddin ar-Raziy (Wafat 604 Hijriyah) dalam kitab tafsirnya Mafatihul Ghaib jilid pertama halaman 259, beliau menceritakan kisah ahli sufi kenamaan dari kota Balkh, Khurasan yakni Imam Abu ishaq Ibrahim Bin Adham Bin manshur (wafat 161 Hijriyah), dalam literatur sufi beliau dikenal dengan nama Ibrahim Bin Adham, pada suatu hari Ibrahim Bin Adham radhiyallahu anhu melakukan perjalanan dengan berjalan kaki menuju kota Makkah untuk megerjakan ibadah haji, dalam perjalanannya beliau kepapagan dengan seorang arab dusun yang sedang mengendari unta.
Orang arab dusun bertanya: "Wahai tuan Syekh, hendak kemana kamu pergi"?

 Ibrahim Bin Adham menjawab: Aku ingin ke Makkah.

Orang arab dusun berkata: Apakah pikiran kamu sudah kaga jangkep, pergi ke Makkah tidak menggunakan kendaraan dan tidak membawa bekal, sedangkan perjalanan ke Makkah sangat jauh? 

Ibrahim Bin Adham menjawab: Ketahuilah olehmu, bahwa aku pergi dengan menggunakan kendaraan dan membawa bekal yang kamu tidak bisa lihat.

 Mendengar jawaban itu orang arab dusun sampai tekelap terheran-heran, seraya berkata: mana Kendaraan dan bekalnya? Apaan tuh?

Ibrahim Bin Adham menjawab: Apabila aku temukan mushibah dalam perjalanan ini, maka sabar yang menjadi kendaraanku. Jika aku yang aku dapati ni'mat, maka rasa syukur yang menjadi kendaraanku. Seandainya apapun yang terjadi, maka ridho yang menjadi kendaraanku. Jikalau hawa nafsu mengajakku untuk melakukan sesuatu, maka aku yaqin umurku yang tersisisa lebih sedikit dari yang telah aku lalui. 

Mendengar hal itu orang arab dusun berkata: Teruskan perjalananmu ya Syekh dengan izin Allah taala, kalau begitu adanya walaupun nyatanya engkau berjalan kaki, pada hakekatnya dalam perjalanan ini engkau yang telah naik berkendaraan, walaupun aku telah naik kendaraan pada hakikatnya aku sedang berjalan kaki dan tidak membawa bekal apa-apa.

Khadimul Janabin Nabawiy
H. Rizqi Zulqornain al-Batawiy


Tidak ada komentar: