Minggu, 26 September 2021

Ruqyah dengan Ayat-ayat Kesembuhan

Sakit adalah hal manusiawi yang setiap orang pasti merasakannya. Sakit merupakan sebuah musibah yang tidak bisa kita tolak. Tetapi kita harus berusaha mencegah datangnya penyakit dengan memperhatikan kesehatan diri sendiri baik itu dilakukan dengan melaksanakan puasa, olah raga, makan makanan sehat, atau istirahat yang cukup dan sebagainya. Tetapi kalau Allah sudah berkehendak untuk kita terkena suatu penyakit, tentu tidaklah kita sebagai seorang hamba dapat menolaknya.

Ketika Allah menurunkan suatu penyakit, pastilah pula Allah akan menurunkan obat atau penawarnya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah:

مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَل لَهُ شِفَاءً

Artinya: “Tidaklah Allah Ta’ala menurukan suatu penyakit, kecuali Allah Ta’ala juga menurunkan obatnya. [HR. Bukhari]

 

Dalam riwayat yang lain Rasulullah juga bersabda,

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أُصِيْبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ

Artinya: “Semua penyakit ada obatnya. Jika cocok antara penyakit dan obatnya, maka akan sembuh dengan izin Allah. [HR. Muslim]

Hadits di atas mengisyaratkan diizinkannya seseorang muslim mengobati penyakit yang dideritanya. Sebab, setiap penyakit pasti ada obatnya. Cara mengobati penyakit yang diderita bisa dengan cara ke berobat ke dokter, ataupun ruqyah (thibbun Nabi) ataupun dengan herbal dan cara lainnya yang dibenarkan dalam agama, bukan mendatangi dukun apalagi tukang santet. Setelah kita ikhtiar, sisanya kita serahkan kepada Allah dengan keyakinan bahwa Allah akan menyembuhkan diri kita.

Terkait ikhtiar dalam berobat, terkadang ada di tengah masyarakat kita yang mendatangi ustadz atau orang soleh atau kiai untuk meminta air doa (air yang sudah dibacakan doa atau ayat Al-Qur’an), dengan alasan mereka adalah orang-orang yang lebih mengetahui ayat-ayat syifa yang bisa dipakai untuk mengobati, atau hafal doa-doa kesembuhan yang diajarkan oleh ulama-ulama terdahulu dan sudah terbukti, dengan izin Allah dapat membantu dalam kesembuhan.

Selain itu, permintaan air doa kepada ustadz dan lainnya, menjadi sangkaan positif dari masyarakat terhadap ustadz ataupun kiai, bahwa mereka adalah orang-orang soleh yang senantiasa beribadah kepada Allah, selalu melakukan kebaikan sehingga lebih dekat kepada Allah, dan berharap doa yang dipanjatkan lebih cepat diterima.

Dalam sebuah hadits yang diriwatkan oleh Imam Muslim disebutkan,

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانُوا فى سَفَرٍ فَمَرُّوا بِحَىٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَاسْتَضَافُوهُمْ فَلَمْ يُضِيفُوهُمْ. فَقَالُوا لَهُمْ هَلْ فِيكُمْ رَاقٍ فَإِنَّ سَيِّدَ الْحَىِّ لَدِيغٌ أَوْ مُصَابٌ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ نَعَمْ فَأَتَاهُ فَرَقَاهُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَبَرَأَ الرَّجُلُ فَأُعْطِىَ قَطِيعًا مِنْ غَنَمٍ فَأَبَى أَنْ يَقْبَلَهَا. وَقَالَ حَتَّى أَذْكُرَ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم-. فَأَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ. فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَاللَّهِ مَا رَقَيْتُ إِلاَّ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ. فَتَبَسَّمَ وَقَالَ « وَمَا أَدْرَاكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ ». ثُمَّ قَالَ « خُذُوا مِنْهُمْ وَاضْرِبُوا لِى بِسَهْمٍ مَعَكُمْ » .

Artinya: Dari Abu Sa’id Al Khudri bahwa beberapa orang sahabat melakukan perjalanan jauh dan berhenti untuk istirahat pada salah satu perkampungan ‘Arab, lalu mereka minta dijamu oleh penduduk kampung itu. Tetapi penduduk enggan menjamu mereka. Penduduk bertanya kepada para sahabat; ‘Adakah di antara tuan-tuan yang pandai mantera? Kepala kampung kami digigit serangga.’ Menjawab seorang sahabat; ‘Ya, ada! Kemudian dia mendatangi kepala kampung itu dan memanterainya dengan membaca surat Al Fatihah. Maka kepala kampung itu pun sembuh. Kemudian dia diberi upah kurang lebih tiga puluh ekor kambing. Tetapi dia enggan menerima seraya mengatakan; ‘Tunggu! Aku akan menanyakannya lebih dahulu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, apakah aku boleh menerimanya.’ Lalu dia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menanyakannya hal itu, katanya; ‘Ya, Rasulullah! Demi Allah, aku telah memanterai seseorang dengan membacakan surat Al Fatihah.’ Beliau tersenyum mendengar cerita sahabatnya dan bertanya: ‘Bagaimana engkau tahu Al Fatihah itu mantera? ‘ Kemudian sabda beliau pula: ‘Terimalah pemberian mereka itu, dan berilah aku bagian bersama-sama denganmu.

Selain surat al-Fatihah yang dipakai sebagai washilah oleh Sahabat Said al-Khudri untuk menyembuhkan orang yang tergigit ular tadi, ada surat lain yang juga dipakai untuk ayat kesembuhan, seperti surat an-Naas dan al-Falaq yang masyhur dalam sejarah, Nabi menggunakannya agar terhindar dari sihir yang menyerang tubuhnya, bukan hati dan pikirannya.

Syaikh Sayyid Muhammad ibn Alwi al-Maliki menyebutkan dalam bukunya Abwabul Faraj (hal. 109) ayat-ayat kesembuhan yang bisa dipakai untuk meruqyah seseorang. Ayat-ayat tersebut beliau kutip dari Imam Syaikh Abu al-Qasim al-Qusyairi.

Diceritakan pada suatu hari anak Imam Syaikh Abu al-Qasim al-Qusyairi menderita sakit parah, sehingga dirinya berputus asa akan kesembuhan anaknya karean kian parah penyakitnya dari hari ke hari. Lalu satu waktu, beliapun tertidur hingga bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad dalam tidur tersebut, lalu beliapun mengadukan kondisi putranya kepada Nabi. Lalu Nabi-pun bersabda kepada beliau, “Manakah kamu dari ayat-ayat kesembuhan?” lalu beliaupun terbangun dan memikirkan hal tersebut. ternyata ayat-ayat kesembuhan itu ada di enam tempat dalam Al-Qur’an, yaitu Firman Allah:

1.   وَ يَشْفِ صُدُوْرَ قَوْمٍ مُؤْمِنِيْنَ (التوبة : 14)

Artinya: “Serta melegakan hati orang-orang yang beriman.

2.   وَ شِفَاءً لِمَا فِي الصُّدُوْرِ (يونس : 57)

Artinya: “Dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada.”

3.   يَخْرُجُ مِنْ بُطُوْنِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ اَلْوَانُهُ فِيْهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ (النحل : 69)

Artinya: “Di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.

4.   وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُوْمِنِيْنَ (الإسراء : 82)

Artinya: “Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

5.   وَ اِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ (الشعراء : 80)

Artinya: “Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku.”

6.   قُلْ هُوَ لِلَّذِيْنَ اَمَنُوْا هُدًى وَشِفَآءٌ (فصلت : 44)

Artinya: “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin.

Setelahnya beliau berkata, “ Maka, aku menulisnya pada suatu lembaran, kemudian aku larutkan dengan air dan aku minumkan kepadanya, diapun seolah-olah terlepas dari ikatan.”

Semoga Allah memberikan kita kesehatan yang menyeluruh dan memberikan kesembuhan bagi hamba-hambanya yang saat ini sedang sakit. Amin


Ummu Munyah

Raihana Quddus



Kamis, 23 September 2021

Rabu Terakhir di Bulan Shafar

Sebelum Islam menyebar di tengah masyarakat jahiliyyah, orang-orang Arab Jahiliyyah mempunyai sebuah pemikiran bahwa bulan shafar merupakan bulan yang tidak baik, bulan yang banyak bencana serta musibah, sehingga pada waktu tersebut mereka menunda melakukan banyak kegiatan karena takut terkena bencana.

Ada seorang A’roby (penduduk pedalaman Arab) bertanya kepada Rasulullah mengenai hal ini, “Wahai Rasulullah, lalu bagaimana dengan onta yang semula sehat kemudian berkumpul dengan onta yang kudisan kulitnya, sehingga onta tersebut menjadi kudisan pula?” Rasulullah menjawab dengan sebuah pertanyaan, “Lalu, siapa yang menularkan kudisan pada onta yang pertama?”

Maksud dari hadits di atas dijelaskan bahwa suatu penyakit tidak akan menular dengan kekuatannya sendiri, melainkan atas kehendak Allah. Sakit atau sehat, celaka atau selamat, semua kembali kepada kehendak Allah, akan tetapi walaupun semuanya kembali kepada Allah, bukan berarti manusia tidak bisa berikhtiar, manusia tetap dianjurkan untuk berusaha agar terhindar dari segala musibah. (Ahza, Hidayah, hal. 28-29)

Rasulullah bersabda:

فِرَّ مِنَ الْمَجْذُوْمِ فِرَاَركَ مِنَ اْلاَسَدِ

Artinya: “Larilah (hindarilah) dari orang-orang yang sakit lepra, seperti kamu lari dari singa.

Dalam ajaran Islam, semua bulan dan hari itu baik, masing-masing mempunyai sejarahnya sendiri. Selain itu juga mempunyai keistimewaan dan peristiwa masing-masing. Jika suatu bulan mempunyai sisi nilai keutamaan yang lebih, bukan berarti bulan yang lain merupakan bulan yang buruk. Sedangkan andaikata ada kejadian tragis atau peristiwa yang memilukan dalam bulan tertentu, hal itu bukan berarti bahwa bulan tersebut merupakan bulan musibah atau bulan yang membawa sial. (Ahza, Hidayah, hal. 31).

Walaupun demikian, terkait dengan bulan shafar, para ulama memperingatkan tentang rabu terakhir di bulan Shafar, atau disini terkenal dengan rabu wekasan. Rabu Wekasan adalah Sebuah tradisi yang berisi ritual atau amalan terdiri dari doa dan sedekah atau amalan lainnya yang dilakukan pada hari Rabu terakhir bulan Shafar bertujuan untuk Daf’ul Bala (tolak bala). Dalam istilah ahli shufi disebut ‘Amaliyah Arbia Akhir Min as-Shafar’, sehingga para ulama meganjurkan untuk banyak membaca doa-doa penolak bala pada hari rabu terakhir di bulan Shafar.

Syekh Abdul Hamid Qudus berkata Syekh al-Kamil Fariduddin Sakar Kan dalam kitab Awrad al-Khawajah Mughniddin, seperti yang disebutkan pula dalam kitab Al-Jawahir al-Khams karya Imam Muhammad Khatiruddin al-Atthar, mengatakan Asy-Syaikh Al-Buniy di dalam kitab Al-Firdaus menyebutkan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan bala pada hari Rabu terakhir bulan Shafar antara langit dan bumi. Lalu diterima oleh Malaikat Quthbul Gauts yang menyebarkannya ke penjuru alam. Apapun yang terjadi berupa kematian, bala atau musibah itu adalah yang disebarkan oleh Quthbul-Gauts. Berdasarkan kasyaf (terbukanya hijab) mereka para wali menyaksikan dengan kasat mata saban tahun di bulan tersebut bagaimana bala turun dalam jumlah besar-besaran. Oleh karenanya mereka menghimbau pada hari dan bulan tersebut untuk memperbanyak doa dan amal shalih sebagai tolak bala. 

Dalam Kitab Min Fadhail asy-Syuhur al-Hijriyah (hal. 34-35), disebutkan sebuah amalan yang bisa dibaca pada hari rabu terakhir di bulan Shafar, dengan tujuan agar Allah melindungi kita pada tahun tersebut dari segala macam penyakit, fitnah, bala dan musibah.

Amalan tersebut adalah menulis di atas kertas putih beberapa ayat al-Qur’an yang diawali dengan lafadz بسلام ، dengan menggunakan air mawar, minyak misk dan minyak Za'faron, lalu dihapus itu semua dengan air lalu diminum, adapun khasiatnya adalah Allah akan menjaga orang yang meminumnya dengan sir (rahasia) dan barokah ayat-ayat sampai sepanjang tahun. Ayat-ayat yang dimaksud adalah sebagai berikut;

1.              سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رِّبِّ رَّحِيْمٍ

2.              سَلَامٌ عَلَى نُوْحٍ فِيْ الْعَالَمِيْنَ ، اِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِيْنَ

3.              سَلَامٌ عَلَى ابراهيم ، اِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِيْنَ

4.              سَلَامٌ عَلَى موسى وهارون ، اِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِيْنَ

5.              سَلَامٌ عَلَى الياسين ، اِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِيْنَ

6.              سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوْهَا خَالِدِيْنَ

7.              سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

 Kemudian, setelah itu dilanjutkan dengan membaca doa sebagai berikut:

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ، اَللّٰهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هٰذَا الشَّهْرِ. وَمِنْ كُلِّ شِدَّةٍ وَبَلاَءٍ وَبَلِيَّةٍ الَّتِي قَدَّرْتَها فِيهِ. يَا دَهْرُ يَا دَيْهُورُ يَا دَيْهَارُ . يَا كَانُ يَا كَيْنُونُ يَا كَيْنَانُ. يَا أَزَلِيُّ يَا أَبَدِيُّ يَا مُبْدِئُ يَا مُعِيدُ . يَا فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ . يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالْإِكْرَامِ . يَا ذَا الْعَرْشِ الْمَجِيدِ . وأَنْتَ تَفْعَلُ مَا تُرِيدُ ، اَللّٰهُمَّ احْرُسْ بِعَيْنِكَ الَّتِي لاَ تَنَامُ نَفْسِي وَمَالِي وَأَهْلِي وَأَوْلاَدِي وَدِينِي ودُنْيَايَ الَّتِي ابْتَلَيْتَنِي بِصُحْبَتِهَا. بِحُرْمَةِ الْأَبْرَارِ وَالْأَخْيَارِ . بِرَحْمَتِكَ يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ . يَا كَرِيمُ يَا سَتَّارُ . بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ ، اَللّٰهُمَّ يَا شَدِيدَ الْقُوٰى . وَيَا شَدِيدَ الْمِحَالِ . يَا عَزِيزُ يَا كَرِيمُ . يَا كَبِيرُ يَا مُتَعَالُ، ذَلَّلْتَ بِعِزَّتِكَ جَمِيعَ خَلْقِكَ، اَللّٰهُمَّ اكْفِنِي شَرَّ جَمِيعِ خَلْقِكَ . يَا مُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ . لاَ إِلٰهَ اِلاَّ أَنْتَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ .

Selain amalan di atas, kita juga sangat dianjurkan untuk memperbanyak shadaqah kepada faqir miskin dan kaum dhuafa sebagai penajam tolak bala.

Ayahnya Munyah juga mengajarkan sebuah amalan yang digunakan oleh para ulama Tarekat Tijani yaitu dengan mengamalkan pada malam Rabunya setelah mengerjakan shalat Isya dengan membaca, Hasbunallahu Wa Ni'mal Wakil sebanyak 450 kali kemudian membaca Audzu billahi minas Syaithonir rojim  dan Bismillahirrahmanir rohim, setelah itu, membaca Shalawat Fatih 50 kali dan dilanjutkan "Ya Lathifu sebanyak 129 kali ditutup dengan Shalawat Fatih 20 kali.



Ummu Munyah

Raihana Quddus



Yayasan al-Mu'afah
Jl. Tipar Cakung No. 5 Cakung Jakarta 13910

Jadwal Taklim dan Dirasat:
1. Majelis Taklim dan Dzikir kaum Lelaki: Malam Senin ba'da Maghrib
Pengampu: Habib Hud al-Aththas, KH. Muhammad Soleh, Ustadz H. Hadi dan Ustadz Wawan Nur Fauzi

2. Majelis Taklim Lil Ummahat: Jum'at Siang (Ba'da Jum'at)
Pengampu: Ummu Munyah, Ustadz H. Hadi dan Ustadz Asep Samsudin, MA

3. Majelis Taklim MahMud (Calon Pengantin/Mamah Muda):
Minggu ke 1 dan ke 3 jam 6 pagi s/d jam 7
Pengampu: Ummu Munyah

4. Madrasah Diniyah (MD) al-Mu'afah
Senin s/d Jum'at ba'da ashar dan ba'da maghrib (Untuk anak mulai dari 4 tahun s/d SMA)


Jumat, 10 September 2021

Hukum Ikan Berwujud Anjing

Ikan dalam wujud anjing

Pertanyaan: Bila ada ikan yang berbentuk anjing, maka apakah secara hukum disamakan dengan ikan?

Jawab: Iya, sama dengan ikan.

Keterangan:

(قَوْلُهُ اِلاَّ السَمَكَ) – اِلَى اَن قَالَ – وَالْمُرَاُد بِهِ كُلُّ مَا لَا يَعِيْشُ اِلاَّ فِي الْبَحْرِ بِحَيْثُ يَكُوْنُ عَيْشُهُ فِي الْبَرِّ كَعَيْشِ مَزْبُوْحٍ وَلَوْ عَلَى صُوْرَةِ الْكَلْبِ .

Artinya: “(ungkapan: kecuali ikan)… yang dimaksud dengan ikan adalah tiap hewan yang tidak bisa hidup kecuali di air, sekira hidupnya di darat seperti hidupnya hewan yang disembelih, meskipun memiliki bentuk anjing.”

 

Sumber: al-Bajuri dan Tausyekh, hal. 142

Kamis, 09 September 2021

KIsah Qadi, Nashrani dan Lelaki Miskin (Hikmah Muharram)

 Kisah Di Hari Asyura

Oleh Ummu Munyah


Ada sebuah kisah yang diceritakan oleh Syaikh al-Yafi’i. Kisah ini terjadi di sebuah daerah bernama Royya, yaitu daerah yang terletak di kawasan Iraq.

Di suatu yang cerah, bertepatan dengan hari Asyura atau 10 muharram, ada seorang lelaki miskin yang menjadi tulang punggung keluarganya mendatangi seorang qadli (hakim/penguasa) yang kaya raya. Kedatangan lelaki miskin ke rumah qadli tersebut adalah untuk meminta sedekah beberapa potong roti, daging beserta beberapa keping dirham, untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarganya.

Setelah si lelaki menyampaikan tujuannya dan Sang qadli menyanggupi permintaan si lelaki miskin tersebut dan berjanji untuk memberikannya nanti, lalu si lelaki miskin tadi pulang ke rumah dengan harapan dapat makan di sore hari bersama dengan keluarganya.

Ketika masuk waktu zuhur, si lelaki mendatangi si qadli untuk menagih janjinya, tetapi si qadli menunda janjinya hingga waktu ashar. Ketika ashar tiba, si lelaki kembali datang, tetapi sayang ternyata sang qadli mengingkari janjinya kepada si lelaki tersebut.

Si lelaki pulang dengan penuh rasa kecewa, hati hancur, serta kesedihan dalam hatinya, karena memikirkan keluarganya yang tengah menunggu makanan yang sekarang tidak dapat mereka makan.

Di tengah perjalanan, dia melihat seorang nashrani sedang berada di depan pintu rumahnya. Lalu dengan terpaksa, dia melangkahkan kakinya ke rumah nashrani tersebut, dan setelah sampai dia berkata, “Wahai tuan, dengan kemuliaan hari ini, berilah aku sesuatu!” Nashrani itu berkata, “Ada kemulyaan apa di hari ini?” lalu laki-laki miskin itu menuturkan sebagian sifat dan keistimewaan hari Asyura. Mendengar keistimewaan hari Asyuro tersebut, lalu si Nashrani tersebut berkata, “Aku bersumpah demi kemuliaan hari ini, sebutkanlah apa yang kau perlukan.” Lalu lelaki itupun diberi banyak barang yang diperlukan, bahkan melebihi dari kebutuhan yang dia sebutkan.

Ketika malam datang, dalam tidurnya si Qadli bermimpi melihat istana yang sangat indah dan megah. Emas dan perak serta mutiara merah melapisi istana tersebut. lalu si Qadli bertanya, untuk siapa istana indah dan megah tersebut, tiba-tiba ada suara yang menjawab memberitahukannya bahwa sesungguhnya istana itu untuk si Qadli, mendengar hal itu, sang Qadli langsung tersenyum lebar, lalu suara tersebut melanjutkan ucapannya, seandainya tadi engkau mengabulkan permintaan dari orang miskin yang datang kepadamu di hari Asyura, tetapi karena kamu menolaknya, maka istana yang megah tadi menjadi hak orang Nashrani yang memberi sedekah kepada lelaki miskin tadi.

Sang Qadli pun langsung terbangun dari mimpi tidurnya dengan rasa takut dan penuh penyesalan. Ketika pagi datang, si Qadli tadi buru-buru menemui si Nashrani, berniat menukar apa yang telah diberikan si Nashrani kepada lelaki miskin tersebut dengan nilai yang berlipat ganda. Ketika si Qadli akhirnya bertemu dengan si Nashrani, dia pun menceritakan mimpi yang dialaminya, tentang balasan dari Allah atas apa yang telah dilakukan si Nashrani tersebut kepada si lelaki miskin yang mendatanginya.

Mendengar cerita si Qadli, sang Nashrani pun menolak mentah-mentah tawaran harta berlimpah yang ditawarkan oleh si Qadli, bahkan si Nashrani itupun akhirnya mengucapkan dua kalimat Syahadat dan menjadi seorang muslim, menyisakan penyesalan yang dirasakan oleh si Qadli.

 

Diintisarikan dari Buku dengan Judul Hidayah hal 25 - 27



Raihana Quddus