Senin, 28 Mei 2018

Aqidah Sayyid Ahmad al-Ghumari


Aqidah Sayyid Ahmad Bin Muhammad Bin as-Shiddiq al-Ghumari

Oleh; H. Rizqi Dzulqornain al-Batawi M.A

بسم الله الرحمن الرحيم

 حمدا له أظهر في الوجود *** نور حقيقة النبي المحمود
وصل يا رب على محمد *** الفاتح الخاتم طه الأمجد
وناصر الحق وهادينا الى *** صراطك القويم نهج الفضلا
وآله بحق قدره الفخيم *** وجاه مقدار مقامه العظيم.

أما بعد:
Dalam akidah, Aẖmad al-Ghumârî mengikuti al-salâf al-salih yakni melakukan tafwîd dan menolak ta’wîl terhadap teks-teks mutasyabihat di dalam al-Qur’an dan hadis.[1]

Aẖmad al-Ghumârî bercerita, “Pada tahun 1356 H ketika aku menunaikan ibadah haji, aku bertemu dengan tiga orang ulama Najd di rumah ʻAbdullah al-Sâniʻ di Makkah. Dalam pembicaraan mereka bertiga, menampilkan seolah-olah mereka ahli hadis, amaliyahnya paling sesuai dengan hadis dan anti terhadap taqlîd. Tanpa terasa, pembicaraan pun masuk pada soal penetapan keberadaan Allah dan mereka berpendapat bahwa Allah itu berada di atas ‘arsy.

Mereka menyebutkan beberapa ayat al-Qur’an yang secara tekstual mengarah pada pengertian bahwa Allah itu ada di atas ‘arsy sesuai keyakinan mereka terhadap Sûrah Tâha/20: 5:
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى .
“Al-Rahmân bersemayam di atas ‘arsy.”

Dan Sûrah al-Aʽraf/7: 54
ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ .
“Kemudian Ia bersemayam di atas ‘arsy.”

Lalu aku berkata kepada mereka, “Apakah dalil-dalil yang kalian sebutkan tadi termasuk bagian dari al-Qur’an?” Mereka menjawab, “Ya.” Aku bertanya lagi, “Apakah meyakini yang dimaksud ayat-ayat tersebut hukumnya wajib?” Para ulama Najd serentak menjawab, “Ya”.  Aku bertanya balik, “Lalu bagaimana dengan firman Allah Sûrah al-Hadîd/57: 4:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَمَا كُنْتُمْ .
“Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.”

Apakah ini juga termasuk al-Qur’an?” Para ulama Najd tersebut menjawab, “Ya, tentu saja termasuk al-Qur’an. Lalu bagaimana dengan firman Allah Sûrah al-Mujâdilah/58: 7:

مَا يَكُوْنُ مِنْ نَجْوَى ثَلاَثَةٍ إِلاَّ وَهُوَ رَابِعُهُم .

“Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya.”

“Apakah ayat ini termasuk al-Qur’an juga?” Para ulama Najd menjawab, “Ya, itupun termasuk al-Qur’an.” Aku berkata, “Kedua ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidak berada di atas langit. Lalu mengapa kalian mengasumsikan ayat-ayat yang kalian sebutkan tadi lebih utama untuk diyakini dari pada kedua ayat tadi yang menunjukkan bahwa Allah tidak ada di langit? Padahal semua ayat itu juga dari Allah?”

Para ulama Najd menjawab, “Aẖmad Bin Hambal yang mengatakan demikian.”
Aku menepis jawaban mereka, “Nah, mengapa kalian kali ini malah taqlîd kepada pendapat Aẖmad Bin Hambal dan tidak mengikuti dalîl?” Tiga ulama Najd itu pun terbungkam diam seribu bahasa, tak satu kalimat pun keluar dari mulut mereka.

Aku menunggu jawaban mereka, jika mereka menganggap ayat-ayat tersebut harus dita’wîlkan, maka aku akan bertanya lagi, “Sebab apa yang mengharuskan ta’wîl?” Bila mereka menjawab, “Penyebabnya adalah ijmaʻ (kesepakatan) ulama yang mewajibkan itu.” Aku akan mengatakan, “Ketahuilah bahwa ulama salâf sepakat menolak ta’wîl, yang wajib adalah melakukan tafwîḏ.”[2]

Dari kisah di atas dapat dipahami bahwa aqîdah Aẖmad al-Ghumârî mengikuti haluan madzhab salaf, dimana mereka para ulama salaf melakukan tafwîḏ (menyerahkan sepenuh artinya kepada Allah) yang aplikasinya bersikap untuk diam, tidak membicarakannya, tidak menta’wîlkannya, tidak menafsirkannya, tidak menerjemahkannya, serta bahkan tidak menggunakan derivasinya.

Menurut Aẖmad al-Ghumârî metode salaf ini lebih hati-hati dan selamat dari tasybîh (antropomorfisme) dengan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah tanpa deskripsi makna. Adapun madzhab khalaf yang memberikan ta’wîl, merupakan upaya memalingkan lafaz dari makna zâhir. Berbeda dengan tafwîḏ sebagai bentuk tanzîh (penyucian) sifat-sifat Allah dari hal-hal yang tidak layak bagi keagunganNya. Kedua metode ini, baik tafwîḏ dan ta’wîl masih dalam lingkup aqîdah ahlu sunnah wa al-Jamaʻah. Ibrâhîm al-Laqqânî (w. 1041 H) mengatakan:

وَكُلُّ نَصٍّ أَوْهَمَ التَّشْبِيْهَا * أَوِّلْهُ أَوْ فَوِّضْ وَرُمْ تَنْزِيْهَا

“Jika ada nas (teks al-Qur’an dan hadis) yang nampaknya mengandung tasybîh (penyerupaan Allah terhadap makhluqnya), maka dilakukan ta’wîl, atau tafwîḏ namun tetap mengedepankan tanzîh.”[3]

KRITIK HADÎTS AHMAD AL-GHUMÂRÎ TERHADAP HADÎTS-HADÎTS PALSU RIWAYAT AL-QUDÂʻÎ DALAM KITAB AL-JÂMI AL-SAGHÎR

(Telaah Kitab Al-Mudâwî Li ʻIlal Al-Jâmi’ Al-Saghîr Wa Syarhai al-Munâwî)






Khadimul Majlis al-Mu'afah
H. Rizqi Dzulqornain al-Batawiy M.A

Ikuti Kajian Islam:

instagram.com/rizkialbatawi

@rizkialbatawi

https://www.facebook.com/Rizqi-Zulqornain-Albatawi

 ********* ******** ********

يا فالق الحب والنوى، أعط كل واحد من الخير ما نوى، وارفع عنا كل شكوى، واكشف عنا كل بلوى، وتقبل منا كل نجوى، وألبسنا لباس التقوى، واجعل الجنة لنا مأوى .

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ، وَعَلىَ آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْمِ.
صلاةً تَجْعَلُنَا مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيْرًا، وَرِزْقًا كَثِيْرًا، وَقَلْبًا قَرِيْرًا، وَعِلْمًا غَزِيْرًا، وَعَمَلاً بَرِيْرًا، وَقَبْرًا مُنِيْرًا، وَحِسَابًا يَسِيْرًا، وَمُلْكًا فِي الْفِرْدَوْسِ كَبِيْرًا
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Alamat Yayasan al-Muafah

Jalan Tipar Cakung Rt: 05 Rw 08 NO: 5 Kampung Baru, Cakung Barat, Jakarta Timur 13910


فَأَكْرِمِ اللَّهُمَّ مَنْ أَكْرَمَنَا .:. وَكَثِّرِ الْخَيْرَ لَدَيْهِ وَالْغِنَا
وَأَعْطِهِ مِمَّا رَجَى فَوْقَ الرَّجَا .:. وَاجْعَلْ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجَا
وَافْعَلْ كَذَلِكَ بِكُلِّ مُحْسِنِ .:. اِلَى ذَوِي الْعِلْمِ بِظَنٍّ حَسَنِ
وَاهْدِ جَمِيْعَنَا اِلَى الرَّشَادِ .:. وَلِطَرِيْقِ الْخَيْرِ وَالسَّدَادِ
وَابْسُطْ بِفَضْلِكَ عَلَيْنَا نِعْمَتَكْ .:. وَانْشُرْ عَلَيْنَا فِي الدَّارَيْنِ رَحْمَتَكْ
وَاخْتِمْ لَنَا عِنْدَ حُضُوْرِ الْأَجَلِ .:. بِالْعَفْوِ مِنْكَ وَالرِّضَى الْمُعَجَّلِ
أَمِيْنَ أَمِيْنَ اسْتَجِبْ دُعَانَا .:. وَلاَ تُخَيِّبْ رَبَّـــــنَا رَجَـــــــــــــــــانَا

Ahmad al-Ghumari, keluarga al-ghumariyah, 



[1] Mustafâ Sabrî, Muqaddimah al-Mudâwî, vol. 1 (Beirût: Dâr al-Kutub al-ʻIlmiyah, 1996), h. 41.
[2] Aẖmad al-Ghumârî, Ju’nat al-Attâr Fi Turaf al-Fawâid Wa Nawâdir al-Akhbar, vol. 1 (T.tp. T.t.), h. 36-37.
[3] Ibrâhîm al-Baijûrî, Tuẖfah al-Murîd ʻAlâ Jauharah al-Tauhîd (Cairo: Dâr al-Salâm, 2002), h. 156.

1 komentar:

Yayasan Almuafah mengatakan...

renungkanlah