Kamis, 14 Juni 2018

Hukum Shalat I'd Di Hari Jum'at (Mengonci Masjid Setelah Shalat Id)


Hukum Shalat I'd Di Hari Jum'at (Mengunci Masjid Setelah Shalat I'd)

Oleh; H. Rizqi Dzulqornain al-Batawi M.A

بسم الله الرحمن الرحيم

 حمدا له أظهر في الوجود *** نور حقيقة النبي المحمود
وصل يا رب على محمد *** الفاتح الخاتم طه الأمجد
وناصر الحق وهادينا الى *** صراطك القويم نهج الفضلا
وآله بحق قدره الفخيم *** وجاه مقدار مقامه العظيم.

أما بعد:

Pertanyaan saudara Irwan Hendrawan at-Tijani dari Kampung Baru Jakarta Timur:

Hari raya idul Fithri tahun ini bertepatan dengan hari Jum’at. Bagaimana hukum melaksanakan shalat Jum’at di hari raya tersebut? Mengingat di tempat saya ada satu masjid di mana setelah melakukan shalat id, mereka mengumumkan bahwa nanti siang shalat Jum’at diliburkan bahkan sejak bubar shalat id mereka mengonci masjid. Tolong sebutkan hadis-hadis dan penjelasan ulama mengenai hal ini?

 JAWABAN:

Adapun hadis-hadis yang dijadikan argumentasi para ulama terkait hukum shalat Jum’at di hari id sebagai berikut:


قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ ثُمَّ شَهِدْتُ مَعَ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ فَكَانَ ذَلِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، فَصَلَّى قَبْلَ الْخُطْبَةِ ثُمَّ خَطَبَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ هَذَا يَوْمٌ قَدِ اجْتَمَعَ لَكُمْ فِيهِ عِيدَانِ ، فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْتَظِرَ الْجُمُعَةَ مِنْ أَهْلِ الْعَوَالِى فَلْيَنْتَظِرْ ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْجِعَ فَقَدْ أَذِنْتُ لَهُ

“Abu ‘Ubaid berkata bahwa beliau pernah bersama ‘Utsman bin ‘Affan dan hari tersebut adalah hari Jum’at. Kemudian beliau shalat ‘ied sebelum khutbah. Lalu beliau berkhutbah dan berkata, “Wahai sekalian manusia. Sesungguhnya ini adalah hari di mana terkumpul dua hari raya (dua hari ‘ied). Siapa saja dari yang nomaden (tidak menetap) ingin menunggu shalat Jum’at, maka silakan. Namun siapa saja yang ingin pulang, maka silakan dan telah kuizinkan.” (HR. Bukhari no. 5572).

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

قَدِ اجْتَمَعَ فِى يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ

Pada hari ini terkumpul bagi kalian dua hari raya, barangsiapa yang ingin mencukupkan dengan (shalat id) dari shalat Jum’at, maka itu cukup baginya, tetapi kami tetap shalat Jum’at bersama“. HR. Abu Daud (1/647, no. 1073), Ibnu Majah (1/416, no. 1311).

Diriwayatkan dari Iyas bin Abi Romlah Asy Syamiy, ia berkata, “Aku pernah menemani Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan ia bertanya pada Zaid bin Arqom:

أَشَهِدْتَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عِيدَيْنِ اجْتَمَعَا فِى يَوْمٍ قَالَ نَعَمْ. قَالَ فَكَيْفَ صَنَعَ قَالَ صَلَّى الْعِيدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِى الْجُمُعَةِ فَقَالَ « مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّىَ فَلْيُصَلِّ ».

“Apakah engkau pernah menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu dengan dua ‘ied (hari Idul Fitri atau Idul Adha bertemu dengan hari Jum’at) dalam satu hari?” “Iya”, jawab Zaid. Kemudian Mu’awiyah bertanya lagi, “Apa yang beliau lakukan ketika itu?” “Beliau melaksanakan shalat ‘ied dan memberi keringanan untuk meninggalkan shalat Jum’at”, jawab Zaid lagi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mau shalat Jum’at, maka silakan.” (HR. Abu Daud no. 1070, An-Nasai no. 1592, dan Ibnu Majah no. 1310)

Imam at-Thabaraniy dalam kitab al-Mu’jam al-Kabir meriwayatkan dari Abdullah Bin Umar:

اجْتَمَعَ عِيدَانِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمُ فِطْرٍ، وَجُمْعَهٌ فَصَلَّى بِهِمْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الْعِيدِ , ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْهِمْ بِوَجْهِهِ فَقَالَ: «يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ قَدْ أَصَبْتُمْ خَيْرًا وَأَجْرًا، وَإِنَّا مُجْمِعُونَ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُجْمِعَ مَعَنَا فَلْيُجْمِعْ، وَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى أَهْلِهِ فَلْيَرْجِعْ»

“Pernah terkumpul dua hari raya dalam sehari di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, idul fitri dan hari jumat. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami shalat id, lalu berkhutbah di hadapan para sahabat: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian telah mendapatkan kebaikan dan pahala, namun kami akan tetap melaksanakan jumatan. Siapa yang ingin ikut jumatan bersama kami, silahkan ikut. Siapa yang ingin pulang ke keluarganya, silahkan pulang.” (hadis no: 13591)

Imam ‘Atha’ bin Abi Rabbah, ia berkata:

صَلَّى بِنَا ابْنُ الزُّبَيْرِ فِى يَوْمِ عِيدٍ فِى يَوْمِ جُمُعَةٍ أَوَّلَ النَّهَارِ ثُمَّ رُحْنَا إِلَى الْجُمُعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْنَا فَصَلَّيْنَا وُحْدَانًا وَكَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ بِالطَّائِفِ فَلَمَّا قَدِمَ ذَكَرْنَا ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ أَصَابَ السُّنَّةَ.

“Ibnu Az-Zubair ketika hari ‘ied yang jatuh pada hari Jum’at pernah shalat ‘ied bersama kami di awal siang. Kemudian ketika tiba waktu shalat Jum’at Ibnu Az-Zubair tidak keluar, beliau hanya shalat sendirian. Tatkala itu Ibnu ‘Abbas berada di Thaif. Ketika Ibnu ‘Abbas tiba, kami pun menceritakan kelakuan Ibnu Az Zubair pada Ibnu ‘Abbas. Ibnu ‘Abbas pun mengatakan, “Ia adalah orang yang menjalankan ajaran Nabi (ashobas sunnah).” (HR. Abu Daud no. 1071).

Sayyid Abdurrahman Bin Husain Ba’alawi al-Hadhrami rahimahullah menyebutkan penjelasan mengenai khilafiyah di kalangan ulama mengenai hukum shalat jum’at di hari raya dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin sebagai berikut:

فيما إذا وافق يوم الجمعة يوم العيد ففي الجمعة أربعة مذاهب ، فمذهبنا أنه إذا حضر أهل القرى والبوادي العيد وخرجوا من البلاد قبل الزوال لم تلزمهم الجمعة وأما أهل البلد فتلزمهم ، ومذهب أحمد لا تلزم أهل البلد ولا أهل القرى فيصلون ظهراً ، ومذهب عطاء لا تلزم الجمعة ولا الظهر فيصلون العصر ، ومذهب أبي حنيفة تلزم الكل مطلقاً

Apabila hari jum’at bertepatan dengan hari raya (baik idul fitri atau idul adhha), maka hukum shalat Jum’at diperselisihkan oleh para ulama menjadi empat mazhab: Pertama, menurut mazhab Imam Syafi’i yang kita ikuti, bagi penduduk kota atau yang rumahnya sekitar Masjid tempat berlangsungnya shalat Jum’at, hukumnya wajib shalat Jum’at. Sedangkan bagi penduduk desa atau pedalaman, apabila mereka menghadiri shalat hari raya dan kembali dari kota menuju pedalaman sebelum tergelincirnya Matahari, maka tidak wajib shalat Jum’at. Kedua, mazhab Imam Ahmad bin Hanbal, penduduk kota maupun penduduk desa tidak wajib shalat Jum’at, tetapi diganti dengan shalat dhuhur. Ketiga, mazhab Imam Atha’, tidak wajib shalat Jum’at dan tidak wajib shalat dhuhur. Langsung shalat ashar saja. Pendapat ini juga diriwayatkan dari Sayidina Ali dan sahabat Abdullah bin al-Zubair radhiyallaahu ‘anhum. Keempat, mazhab Imam Abu Hanifah, semua wajib shalat Jum’at secara mutlak, baik penduduk kota maupun penduduk desa. (Referensi: Sayyid Abdurrahman al-Masyhur, Bughyah al-Mustarsyidin juz 1 hlm 612 Al-Sya’rani, al-Mizan al-Kubra juz 2 hlm 166-167).

Menyimpulkan dari penjelasan para ulama di atas, al-Faqir lebih condong kepada pendapat yang mengatakan, “Bahwa Keringanan meninggalkan shalat Jum’at bagi yang telah melaksanakan shalat ‘ied adalah khusus untuk ahlul bawadiy (orang dusun wong deso) yang bila mereka melakukan shalat Ied pada pagi hari di tempat yang jauh boleh jadi stelah mereka kembali ke rumah mereka, mereka akan merasakan masyaqqah (kesulitan) untuk kembali lagi ke masjid buat shalat Jum'at bisa-bisa olok tenaga ama ongkos. Adapun zaman sekarang, bukan kaya zaman dahulu. Masjid jauh-jauh, Lah kalo sekarang masjid di depan biji mata kita aja ada.”

Imam an-Nawawi ad-Dimasyqiy dalam kitabnya Al Majmu' jilid 4 halaman : 412 ) menyebutkan;


( ﻗﺪ ﺫﻛَﺮْﻧﺎ ﺃﻥَّ ﻣَﺬﻫﺒَﻨﺎ ﻭﺟﻮﺏ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻋﻠﻰ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺒﻠﺪ، ﻭﺳُﻘﻮﻃُﻬﺎ ﻋﻦ ﺃﻫْﻞ ﺍﻟﻘُﺮﻯ )

Kami sudah nyatakan bahwa mazhab kami memandang masih wajib mengerjakan shalat Jum’at atas penduduk negri dan gugur kewajiban jum’at bagi penduduk dusun yang jauh dari masjid.

Sedangkan perbuatan mengunci masjid pada hari jum’at tidak diperbolehkan mengingat itu kena fasal melarang orang yang mau mengerjakan shalat. Bahkan sudah kita ketahui, sekalipun mazhab imam Ahmad Bin Hambal menyebutkan "Bagi orang yang pagi harinya sudah menghadiri shalat id, maka ia boleh tidak menghadiri shalat Jum’at. Adapun ketua masjid beserta pengurus, imam dan petugas jum'at masjid diwajibkan untuk mengadakan shalat Jum’at agar orang-orang yang punya keinginan menunaikan shalat Jum’at bisa hadir, begitu pula orang yang tidak shalat ‘ied bisa turut hadir..

al-Imam Ibnu Qudamah al-Hambali dalam al-Mughni jilid 2, halaman: 105 berkata :


( ﻭﺇﻥ ﺍﺗَّﻔﻖ ﻋﻴﺪ ﻓﻲ ﻳﻮﻡ ﺟﻤﻌﺔ ﺳﻘَﻂ ﺣﻀﻮﺭ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻋﻤَّﻦ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻌﻴﺪ، ﺇﻻ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻓﺈﻧﻬﺎ ﻻ ﺗَﺴﻘُﻂ ﻋﻨﻪ ﺇﻻ ﺃﻥ ﻻ ﻳﺠﺘﻤﻊ ﻟﻪ ﻣَﻦ ﻳُﺼﻠﻲ ﺑﻪ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ )

Jika hari Ied bertepatan dengan hari Jum'at, maka gugur keharusan menghadiri Jumat bagi mereka yang sudah solat Ied, kecuali bagi Imam maka tetap wajib atasnya kecuali jika jumlah jamaah jumaat nya tidak memenuhi syarat jumat), adapula yang mengatakan bahwa kewajibannya atas Imam ada dua riwayat pendapat "

 Ada kajian khusus yang dicatat oleh para ulama dalam sebuah kitab terkait masalah Hukum shalat Jum’at di hari Raya I’d di ataranya:


القول السديد في حكم اجتماع الجمعة والعيد

Karya Sayyid Abdullah Bin Muhammad as-Shiddiq al-Ghumari

التنديد بمن أسقط الجمعة عن من صلى العيد

Karya Syekh Ahmad Bin Manshur Qurtham al-Maliki

 ( ﺍﻟﻘﻮﻝ ﺍﻟﺴﺪﻳﺪ ﻋﻨﺪ ﺍﺟﺘﻤﺎﻉ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﺑﺎﻟﻌﻴﺪ )

Karya Syekh Ahmad Shalih Bafadhal.

Dipersilahkan untuk melakukan penelitian terkait dalil-dalil para ulama dengan merujuk kitab-kitab tersebut. Secara pribadi, al-Faqir tersinggung dengan perbuatan beberapa kelompok orang yang mengunci Masjid. Karena boleh jadi hal tersebut akan merusak ukhuwwah dan menjadi pemicu para jamaah korban sakit hati akan ramai-ramai bikin masjid tandingan. Lah Coba itu !!!


Dikutip ulang dari kitab ittihaful amajid bi nafaisil fawaid karya al-Qadhi Abu Mun'yah as-Sakunjiy at-Tijaniy jilid 2 halaman 253.




Khadimul Majlis al-Mu'afah
H. Rizqi Dzulqornain al-Batawiy M.A

Ikuti Kajian Islam:

instagram.com/rizkialbatawi

@rizkialbatawi

https://www.facebook.com/Rizqi-Zulqornain-Albatawi

 ********* ******** ********

يا فالق الحب والنوى، أعط كل واحد من الخير ما نوى، وارفع عنا كل شكوى، واكشف عنا كل بلوى، وتقبل منا كل نجوى، وألبسنا لباس التقوى، واجعل الجنة لنا مأوى .

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ، وَعَلىَ آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْمِ.
صلاةً تَجْعَلُنَا مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيْرًا، وَرِزْقًا كَثِيْرًا، وَقَلْبًا قَرِيْرًا، وَعِلْمًا غَزِيْرًا، وَعَمَلاً بَرِيْرًا، وَقَبْرًا مُنِيْرًا، وَحِسَابًا يَسِيْرًا، وَمُلْكًا فِي الْفِرْدَوْسِ كَبِيْرًا
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Alamat Yayasan al-Muafah

Jalan Tipar Cakung Rt: 05 Rw 08 NO: 5 Kampung Baru, Cakung Barat, Jakarta Timur 13910


فَأَكْرِمِ اللَّهُمَّ مَنْ أَكْرَمَنَا .:. وَكَثِّرِ الْخَيْرَ لَدَيْهِ وَالْغِنَا
وَأَعْطِهِ مِمَّا رَجَى فَوْقَ الرَّجَا .:. وَاجْعَلْ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجَا
وَافْعَلْ كَذَلِكَ بِكُلِّ مُحْسِنِ .:. اِلَى ذَوِي الْعِلْمِ بِظَنٍّ حَسَنِ
وَاهْدِ جَمِيْعَنَا اِلَى الرَّشَادِ .:. وَلِطَرِيْقِ الْخَيْرِ وَالسَّدَادِ
وَابْسُطْ بِفَضْلِكَ عَلَيْنَا نِعْمَتَكْ .:. وَانْشُرْ عَلَيْنَا فِي الدَّارَيْنِ رَحْمَتَكْ
وَاخْتِمْ لَنَا عِنْدَ حُضُوْرِ الْأَجَلِ .:. بِالْعَفْوِ مِنْكَ وَالرِّضَى الْمُعَجَّلِ
أَمِيْنَ أَمِيْنَ اسْتَجِبْ دُعَانَا .:. وَلاَ تُخَيِّبْ رَبَّـــــنَا رَجَـــــــــــــــــانَا

shalat I'd betepok dengan shalat Jum'at

3 komentar:

Abdul Khodir mengatakan...

Syukron kyai pendapat dan dalil2nya jadi faham.

Syaeful Bahar mengatakan...

Lah coba itu.alhamdulillah faham

rahmat hadi mengatakan...

Alhamdulillah