Senin, 28 Mei 2018

Aqidah Sayyid Ahmad al-Ghumari


Aqidah Sayyid Ahmad Bin Muhammad Bin as-Shiddiq al-Ghumari

Oleh; H. Rizqi Dzulqornain al-Batawi M.A

بسم الله الرحمن الرحيم

 حمدا له أظهر في الوجود *** نور حقيقة النبي المحمود
وصل يا رب على محمد *** الفاتح الخاتم طه الأمجد
وناصر الحق وهادينا الى *** صراطك القويم نهج الفضلا
وآله بحق قدره الفخيم *** وجاه مقدار مقامه العظيم.

أما بعد:
Dalam akidah, Aẖmad al-Ghumârî mengikuti al-salâf al-salih yakni melakukan tafwîd dan menolak ta’wîl terhadap teks-teks mutasyabihat di dalam al-Qur’an dan hadis.[1]

Aẖmad al-Ghumârî bercerita, “Pada tahun 1356 H ketika aku menunaikan ibadah haji, aku bertemu dengan tiga orang ulama Najd di rumah ʻAbdullah al-Sâniʻ di Makkah. Dalam pembicaraan mereka bertiga, menampilkan seolah-olah mereka ahli hadis, amaliyahnya paling sesuai dengan hadis dan anti terhadap taqlîd. Tanpa terasa, pembicaraan pun masuk pada soal penetapan keberadaan Allah dan mereka berpendapat bahwa Allah itu berada di atas ‘arsy.

Mereka menyebutkan beberapa ayat al-Qur’an yang secara tekstual mengarah pada pengertian bahwa Allah itu ada di atas ‘arsy sesuai keyakinan mereka terhadap Sûrah Tâha/20: 5:
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى .
“Al-Rahmân bersemayam di atas ‘arsy.”

Dan Sûrah al-Aʽraf/7: 54
ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ .
“Kemudian Ia bersemayam di atas ‘arsy.”

Lalu aku berkata kepada mereka, “Apakah dalil-dalil yang kalian sebutkan tadi termasuk bagian dari al-Qur’an?” Mereka menjawab, “Ya.” Aku bertanya lagi, “Apakah meyakini yang dimaksud ayat-ayat tersebut hukumnya wajib?” Para ulama Najd serentak menjawab, “Ya”.  Aku bertanya balik, “Lalu bagaimana dengan firman Allah Sûrah al-Hadîd/57: 4:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَمَا كُنْتُمْ .
“Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.”

Apakah ini juga termasuk al-Qur’an?” Para ulama Najd tersebut menjawab, “Ya, tentu saja termasuk al-Qur’an. Lalu bagaimana dengan firman Allah Sûrah al-Mujâdilah/58: 7:

مَا يَكُوْنُ مِنْ نَجْوَى ثَلاَثَةٍ إِلاَّ وَهُوَ رَابِعُهُم .

“Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya.”

“Apakah ayat ini termasuk al-Qur’an juga?” Para ulama Najd menjawab, “Ya, itupun termasuk al-Qur’an.” Aku berkata, “Kedua ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidak berada di atas langit. Lalu mengapa kalian mengasumsikan ayat-ayat yang kalian sebutkan tadi lebih utama untuk diyakini dari pada kedua ayat tadi yang menunjukkan bahwa Allah tidak ada di langit? Padahal semua ayat itu juga dari Allah?”

Para ulama Najd menjawab, “Aẖmad Bin Hambal yang mengatakan demikian.”
Aku menepis jawaban mereka, “Nah, mengapa kalian kali ini malah taqlîd kepada pendapat Aẖmad Bin Hambal dan tidak mengikuti dalîl?” Tiga ulama Najd itu pun terbungkam diam seribu bahasa, tak satu kalimat pun keluar dari mulut mereka.

Aku menunggu jawaban mereka, jika mereka menganggap ayat-ayat tersebut harus dita’wîlkan, maka aku akan bertanya lagi, “Sebab apa yang mengharuskan ta’wîl?” Bila mereka menjawab, “Penyebabnya adalah ijmaʻ (kesepakatan) ulama yang mewajibkan itu.” Aku akan mengatakan, “Ketahuilah bahwa ulama salâf sepakat menolak ta’wîl, yang wajib adalah melakukan tafwîḏ.”[2]

Dari kisah di atas dapat dipahami bahwa aqîdah Aẖmad al-Ghumârî mengikuti haluan madzhab salaf, dimana mereka para ulama salaf melakukan tafwîḏ (menyerahkan sepenuh artinya kepada Allah) yang aplikasinya bersikap untuk diam, tidak membicarakannya, tidak menta’wîlkannya, tidak menafsirkannya, tidak menerjemahkannya, serta bahkan tidak menggunakan derivasinya.

Menurut Aẖmad al-Ghumârî metode salaf ini lebih hati-hati dan selamat dari tasybîh (antropomorfisme) dengan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah tanpa deskripsi makna. Adapun madzhab khalaf yang memberikan ta’wîl, merupakan upaya memalingkan lafaz dari makna zâhir. Berbeda dengan tafwîḏ sebagai bentuk tanzîh (penyucian) sifat-sifat Allah dari hal-hal yang tidak layak bagi keagunganNya. Kedua metode ini, baik tafwîḏ dan ta’wîl masih dalam lingkup aqîdah ahlu sunnah wa al-Jamaʻah. Ibrâhîm al-Laqqânî (w. 1041 H) mengatakan:

وَكُلُّ نَصٍّ أَوْهَمَ التَّشْبِيْهَا * أَوِّلْهُ أَوْ فَوِّضْ وَرُمْ تَنْزِيْهَا

“Jika ada nas (teks al-Qur’an dan hadis) yang nampaknya mengandung tasybîh (penyerupaan Allah terhadap makhluqnya), maka dilakukan ta’wîl, atau tafwîḏ namun tetap mengedepankan tanzîh.”[3]

KRITIK HADÎTS AHMAD AL-GHUMÂRÎ TERHADAP HADÎTS-HADÎTS PALSU RIWAYAT AL-QUDÂʻÎ DALAM KITAB AL-JÂMI AL-SAGHÎR

(Telaah Kitab Al-Mudâwî Li ʻIlal Al-Jâmi’ Al-Saghîr Wa Syarhai al-Munâwî)






Khadimul Majlis al-Mu'afah
H. Rizqi Dzulqornain al-Batawiy M.A

Ikuti Kajian Islam:

instagram.com/rizkialbatawi

@rizkialbatawi

https://www.facebook.com/Rizqi-Zulqornain-Albatawi

 ********* ******** ********

يا فالق الحب والنوى، أعط كل واحد من الخير ما نوى، وارفع عنا كل شكوى، واكشف عنا كل بلوى، وتقبل منا كل نجوى، وألبسنا لباس التقوى، واجعل الجنة لنا مأوى .

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ، وَعَلىَ آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْمِ.
صلاةً تَجْعَلُنَا مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيْرًا، وَرِزْقًا كَثِيْرًا، وَقَلْبًا قَرِيْرًا، وَعِلْمًا غَزِيْرًا، وَعَمَلاً بَرِيْرًا، وَقَبْرًا مُنِيْرًا، وَحِسَابًا يَسِيْرًا، وَمُلْكًا فِي الْفِرْدَوْسِ كَبِيْرًا
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Alamat Yayasan al-Muafah

Jalan Tipar Cakung Rt: 05 Rw 08 NO: 5 Kampung Baru, Cakung Barat, Jakarta Timur 13910


فَأَكْرِمِ اللَّهُمَّ مَنْ أَكْرَمَنَا .:. وَكَثِّرِ الْخَيْرَ لَدَيْهِ وَالْغِنَا
وَأَعْطِهِ مِمَّا رَجَى فَوْقَ الرَّجَا .:. وَاجْعَلْ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجَا
وَافْعَلْ كَذَلِكَ بِكُلِّ مُحْسِنِ .:. اِلَى ذَوِي الْعِلْمِ بِظَنٍّ حَسَنِ
وَاهْدِ جَمِيْعَنَا اِلَى الرَّشَادِ .:. وَلِطَرِيْقِ الْخَيْرِ وَالسَّدَادِ
وَابْسُطْ بِفَضْلِكَ عَلَيْنَا نِعْمَتَكْ .:. وَانْشُرْ عَلَيْنَا فِي الدَّارَيْنِ رَحْمَتَكْ
وَاخْتِمْ لَنَا عِنْدَ حُضُوْرِ الْأَجَلِ .:. بِالْعَفْوِ مِنْكَ وَالرِّضَى الْمُعَجَّلِ
أَمِيْنَ أَمِيْنَ اسْتَجِبْ دُعَانَا .:. وَلاَ تُخَيِّبْ رَبَّـــــنَا رَجَـــــــــــــــــانَا

Ahmad al-Ghumari, keluarga al-ghumariyah, 



[1] Mustafâ Sabrî, Muqaddimah al-Mudâwî, vol. 1 (Beirût: Dâr al-Kutub al-ʻIlmiyah, 1996), h. 41.
[2] Aẖmad al-Ghumârî, Ju’nat al-Attâr Fi Turaf al-Fawâid Wa Nawâdir al-Akhbar, vol. 1 (T.tp. T.t.), h. 36-37.
[3] Ibrâhîm al-Baijûrî, Tuẖfah al-Murîd ʻAlâ Jauharah al-Tauhîd (Cairo: Dâr al-Salâm, 2002), h. 156.

Isyarat Huru-Hara Besar Di Bulan Ramadhan


Isyarat Huru-Hara Besar Di Bulan Ramadhan

Oleh; H. Rizqi Dzulqornain al-Batawi M.A

بسم الله الرحمن الرحيم

 حمدا له أظهر في الوجود *** نور حقيقة النبي المحمود
وصل يا رب على محمد *** الفاتح الخاتم طه الأمجد
وناصر الحق وهادينا الى *** صراطك القويم نهج الفضلا
وآله بحق قدره الفخيم *** وجاه مقدار مقامه العظيم.

أما بعد:

Banyak rekan-rekan di majlis taklim mendapatkan berita yang tersebar dari grup WA mengenai huru hara yang terjadi di bulan Ramadhan. Beberapa di antara mereka bertanya; “Apakah benar Mala Petaka besar di muka bumi ini akan diberikan isyarat di Pertengahan Bulan Ramadhan? Bagaimana kualitas hadis-hadis terkait hal tersebut dan apa yang harus kita lakukan?

Jawaban:

Hadis mengenai huru-hara yang terjadi pada bulan Ramadhan:

عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا كَانَتْ صَيْحَةٌ فِي رَمَضَانَ فَإِنَّهُ يَكُونُ مَعْمَعَةٌ فِي شَوَّالٍ، وَتَمْيِيزُ الْقَبَائِلِ فِي ذِيِ الْقَعْدَةِ، وَتُسْفَكُ الدِّمَاءُ فِي ذِيِ الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمِ، وَمَا الْمُحَرَّمُ» ، يَقُولُهَا ثَلَاثًا، «هَيْهَاتَ هَيْهَاتَ، يُقْتَلُ النَّاسُ فِيهَا هَرْجًا هَرْجًا» قَالَ: قُلْنَا: وَمَا الصَّيْحَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: " هَدَّةٌ فِي النِّصْفِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ جُمُعَةٍ، فَتَكُونُ هَدَّةٌ تُوقِظُ النَّائِمَ، وَتُقْعِدُ الْقَائِمَ، وَتُخْرِجُ الْعَوَاتِقَ مِنْ خُدُورِهِنَّ، فِي لَيْلَةِ جُمُعَةٍ، فِي سَنَةٍ كَثِيرَةِ الزَّلَازِلِ، فَإِذَا صَلَّيْتُمُ الْفَجْرَ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَادْخُلُوا بُيُوتَكُمْ، وَاغْلِقُوا أَبْوَابَكُمْ، وَسُدُّوا كُوَاكُمْ، وَدِثِّرُوا أَنْفُسَكُمْ، وَسُدُّوا آذَانَكُمْ، فَإِذَا حَسَسْتُمْ بِالصَّيْحَةِ فَخِرُّوا لِلَّهِ سُجَّدًا، وَقُولُوا: سُبْحَانَ الْقُدُّوسِ، سُبْحَانَ الْقُدُّوسِ، رَبُّنَا الْقُدُّوسُ، فَإِنَّ مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ نَجَا، وَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ هَلَكَ "

Dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :“Apabila ada suara dahsyat tepat di bulan Ramadhan,maka itu akan terjadi beruntun sampai di bulan Syawal-nya, banyak diantara golongan manusia lebih memisahkan diri (bergerombol) di bulan dzulhijjahnya, pertumpahan darah banyak terjadi di bulan dzulhijjah tersebut, juga semakin klimaks ketika masuk di bulan muharram, –Rasulullah menyebutkan hal itu sampai berulang tiga kali–, “apa yang harus kami lakukan di bulan muharram? sayang sungguh sayang.., mereka tidak mengetahui dan apa yang yang harus dilakukan di muharram, saat itu diantara manusia banyak yang saling membunuh” Apa suara dahsyat itu Ya Rasululkah? Sahabat bertanya kepada Rasulullah.“Suara keras itu adalah mulai terjadi di pertengahan bulan Ramadhan, yang bertepatan di malam jum’at, suara dahsyat itu mengagetkan orang-orang yang sedang tidur, menjatuhkan orang yang sedang berdiri, segala benda terhempas jauh keluar dari tempatnya atau para wanita terhempas keluar dari kamar-kamarnya, malam jum’at pertengahan Ramdhan itu terjadi goncangan dahsyat dan cuaca sangat dingin.. Apabila bulan Ramadhan itu tepat di tahun itu. Apabila kalian sedang melaksanakan shalat subuh malam jum’at di pertengahan bulan Ramadhan tersebut masukklah ke dalam rumah, kuncilah pintunya, tutuplah kepala kalian, lindungi tubuh kalian dan tutuplah telinga kalian. apabila kalian merasakan suara dahsyat, menyungkurlah sujud dan bacalah tasbih ini :


سُبْحاَنَ القُدُّوْسِ ، سُبْحاَنَ القُدُّوْسِ ، رَبَّناَ القُدُّوسُ

subhanal-Quddus, Subhanal-Quddus, Robbanal-Quddus.:“Maha suci Allah yang maha suci, maha suci Allah yang maha suci Wahai Rabb kami yang maha suci”Karena sesungguhnya apabila kalian melakukan hal itu niscaya selamat, jika tidak maka tentunya akan binasa”. Jawab Rasulullah.

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Nuaim Bin Hammad dalam kitabnya al-Fitan hadis no: 638, Abu Said as-Syasyiy dalam Musnadnya hadis no; 837, Yahya as-Syajari dalam kitab al-Amaliy hadis no; 1443, as-Suyuthi dalam Jamiul Hadits hadis no; 40110 dan al-Muttaqi al-Hindi dalam Kanzul Ummal hadis no; 39627.

Para kritikus hadis memvonis hadis di atas sebagai hadis palsu (hoax), sehingga tidak boleh dijadikan pegangan. Dari segi kajian sanad banyak ditemukan para periwayat yang eksistensinya dicurigakan dan terjerat pasal berlapis.

Imam as-Suyuthiy mengomentari hadis di atas dalam kitabnya al-Laali al-Mashnu’ah Fi al-Ahadits al-Maudhu’ah vol.2 halaman: 322, “Periwayat bernama Abdul Wahhab disebut matrukul hadits (periwayat yang ditinggalkan hadisnya). Tokoh bernama ismail adalah periwayat lemah. Abdah sanadnya terputus lantaran tidak bertemu dengan Fairuz dan Fairuz sendiri tidak berjumpa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Adapun jalur lain diriwayatkan oleh Ghulam khalil dari Muhammad Bin Ibrahim al-Bayadhi dari Yahya Bin Said al-Atthar dari Abi al-Muhajir dari al-Auzai semua periwayat tersebut adalah masuk dalam daftar periwayat sangat lemah.

Tokoh bernama Abdullah bin Lahi’ah orang yang hafalannya buruk dan tidak bisa dijadikan argumen. Sosok Muhammad Bin Tsabit al-Bunani terdaftar dalam nama periwayat lemah. Para kritikus hadis banyak memberikan nada sumbang terhadap pribadi al-Harits al-A’war al-Hamdani. As-Sya’bi, Abu Hatim dan Ibn al-Madini menyebutnya sebagai periwayat Kadzdzab (pendusta besar).

Adapun dari segi tinjaun matan (konten) hadis, Imam Hakim an-Naisaburi mengatakan, “Hadis di atas matannya gharib.” Ibn al-Jauzi dan Adz-Dzahabi memasukkannya dalam kategori hadis palsu.

Riwayat lain menyebutkan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يكون في رمضان صوت قالوا يا رسول الله في أوله أوفي وسطه أو في آخره قال لا بل في النصف من رمضان إذا كانت ليلة النصف ليلة الجمعة يكون صوت من السماء يصعق له سبعون ألفا ويصم سبعون ألفا قالوا يا رسول الله فمن السالم من أمتك قال من لزم بيته وتعوذ بالسجود وجهر بالتكبير لله ثم يتبعه صوت آخر فالصوت الأول صوت جبريل والثاني صوت الشيطان فالصوت في رمضان والمعمعة في شوال ويميز القبائل في ذي القعدة ويغار على الحاج في ذي الحجة والمحرم وما المحرم أوله بلاء على أمتي وآخره فرج لأمتي الراحلة بقتبها ينجو عليها المؤمن خير له من دسكرة تغل مائة ألف

 That the Messenger of Allah  صلى الله عليه وسلم  said: " In, Ramadan, there will be a sound. They said: O Messenger of Allah, is it in its beginning, in its middle, or in its end ? He said: No, in the middle of Ramadan. If the night of the middle is Friday, there will be a sound from the sky that causes death to 70 thousand and causes deafness to 70 thousand. They asked: 'O Messenger of Allah, who will survive from your Umma (nation)? '  He said: 'Whoever stays at home, seeks refuge (to Allah) through Sujud (prostration), and openly declares Takbir of Allah ('Allah Akbar'). Then, another sound will follow it. The first sound is the voice of (angel) Gabriel and the second sound is the voice of Satan. The sound is in Ramadan, the disturbance is in Shawwal, the tribes (or nations) form into warring groups in Zul-Qi'da, and it is feared for the pilgrim in Zul-Hijja. In Al-Muharram, what is prohibited in Muharram? Its beginning is calamity on my Umma (nation) and its end is a relief to my Umma. A Rahila (an animal or mode of transportation) that may save him is better than a fortress (castle) that shelters one thousand. 

Hadis ini diriwayatkan oleh at-Thabarani dalam Mu’jam al-Kabir hadis no; 853, Abu Bakr Abi Ashim as-Syaibani dalam kitab al-Ahad wa al-Matsani hadis no Ibn al-Jauzi mengatakan hadis ini hadis bajakan.

Kesimpulan bahwa hadits ini adalah hadits palsu. Tidak boleh diyakini sebagai kebenaran. Karena jalur periwayatan sanad hadits ini tidak ada yg dapat diterima sebagai hujjah. Di samping itu, konten hadis tidak sesuai dengan kajian empirik akal sehat. Sebab telah berlalu tahun-tahun yang banyak dan telah terjadi berulang kali hari Jum’at yang bertepatan dengan tanggal lima belas (pertengahan) bulan Ramadhan, namun kenyataannya tidak pernah terjadi sebagaimana berita yang terkandung di dalam hadits ini.

Adapun bila kita memperbanyak berdoa dan berdzikir sebagai bentuk ihtiyath (kehati-hatian) boleh-boleh saja.

Dikutip ulang dari kitab ittihaful amajid bi nafaisil fawaid karya al-Qadhi Abu Mun'yah as-Sakunjiy at-Tijaniy jilid 2 halaman 253.





Khadimul Majlis al-Mu'afah
H. Rizqi Dzulqornain al-Batawiy M.A

Ikuti Kajian Islam:

instagram.com/rizkialbatawi

@rizkialbatawi

https://www.facebook.com/Rizqi-Zulqornain-Albatawi

 ********* ******** ********

يا فالق الحب والنوى، أعط كل واحد من الخير ما نوى، وارفع عنا كل شكوى، واكشف عنا كل بلوى، وتقبل منا كل نجوى، وألبسنا لباس التقوى، واجعل الجنة لنا مأوى .

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ، وَعَلىَ آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْمِ.
صلاةً تَجْعَلُنَا مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيْرًا، وَرِزْقًا كَثِيْرًا، وَقَلْبًا قَرِيْرًا، وَعِلْمًا غَزِيْرًا، وَعَمَلاً بَرِيْرًا، وَقَبْرًا مُنِيْرًا، وَحِسَابًا يَسِيْرًا، وَمُلْكًا فِي الْفِرْدَوْسِ كَبِيْرًا
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Alamat Yayasan al-Muafah

Jalan Tipar Cakung Rt: 05 Rw 08 NO: 5 Kampung Baru, Cakung Barat, Jakarta Timur 13910


فَأَكْرِمِ اللَّهُمَّ مَنْ أَكْرَمَنَا .:. وَكَثِّرِ الْخَيْرَ لَدَيْهِ وَالْغِنَا
وَأَعْطِهِ مِمَّا رَجَى فَوْقَ الرَّجَا .:. وَاجْعَلْ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجَا
وَافْعَلْ كَذَلِكَ بِكُلِّ مُحْسِنِ .:. اِلَى ذَوِي الْعِلْمِ بِظَنٍّ حَسَنِ
وَاهْدِ جَمِيْعَنَا اِلَى الرَّشَادِ .:. وَلِطَرِيْقِ الْخَيْرِ وَالسَّدَادِ
وَابْسُطْ بِفَضْلِكَ عَلَيْنَا نِعْمَتَكْ .:. وَانْشُرْ عَلَيْنَا فِي الدَّارَيْنِ رَحْمَتَكْ
وَاخْتِمْ لَنَا عِنْدَ حُضُوْرِ الْأَجَلِ .:. بِالْعَفْوِ مِنْكَ وَالرِّضَى الْمُعَجَّلِ
أَمِيْنَ أَمِيْنَ اسْتَجِبْ دُعَانَا .:. وَلاَ تُخَيِّبْ رَبَّـــــنَا رَجَـــــــــــــــــانَا


Minggu, 27 Mei 2018

Doa Nur Nubuwwah (Nurbuat)


Doa Nur Nubuwwah (Nurbuat)

Oleh; H. Rizqi Dzulqornain al-Batawi M.A

بسم الله الرحمن الرحيم

 حمدا له أظهر في الوجود *** نور حقيقة النبي المحمود
وصل يا رب على محمد *** الفاتح الخاتم طه الأمجد
وناصر الحق وهادينا الى *** صراطك القويم نهج الفضلا
وآله بحق قدره الفخيم *** وجاه مقدار مقامه العظيم.

أما بعد:

Doa Nur Nubuwwah (Nurbuat)

اللَّهُمَّ ذَا السُّلْطَانِ الْعَظِيمِ وَالْمَنِّ الْقَدِيْمِ، ذَا الرَّحْمَةِ الْكَرِيْمِ، وَلِيَّ الْكَلِمَاتِ التَّامَّاتِ وَالدَّعَوَاتِ الْمُسْتَجَابَاتِ عَافِ حَسَنًا وَحُسَيْنًا مِنْ أَنْفُسِ الْجِنِّ وَأَعْيُنِ الإِنْسِ

Ya Allah, Yang memiliki kekuasaan yang agung, yang memiliki anugerah yang terdahulu, memiliki wajah (jalan) yang mulia, menguasai kalimat-kalimat yang sempurna, dan doa-doa yang mustajab, sembuhkan Hasan dan Husain, dari kejahatan jin dan pandangan mata manusia yang merusak.

Doa di atas terkenal dengan nama Nurbuat yang berasal dari kata Nur an-Nubuwwah (نور النبوة) yang memiliki arti Cahaya Kenabian. Doa tersebut bersumber dari riwayat yang disebutkan oleh Imam Abul Qasim Ali Ibn Asakir (wafat tahun 571 Hijriyah) rahimahullah dalam Tarikh Dimasyq jilid 24 halaman 460, pada biografi Thirad Bin al-Husain rahimahullah. Bahwa beliau mengutip sebuah riwayat dari Sayyidina Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, sebagai berikut:

أَنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلامُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَافَقَهُ مُغْتَمًّا ، فَقَالَ : يَا مُحَمَّدُ مَا هَذَا الْغَمُّ الَّذِي أَرَاهُ فِي وَجْهِكَ ؟ قَالَ : الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ أَصَابَتْهُمَا عَيْنٌ ، فَقَالَ : يَا مُحَمَّدُ صَدِّقْ بِالْعَيْنِ ، فَإِنَّ الْعَيْنَ حَقٌّ ، ثُمَّ قَالَ : أَفَلا عَوَّذْتَهُمَا بِهَؤُلاءِ الْكَلِمَاتِ ؟ ، قَالَ : وَمَا هُنَّ يَا جِبْرِيلُ ؟ قَالَقُلِ اللَّهُمَّ ذَا السُّلْطَانِ الْعَظِيمِ ، ذَا الْمَنِّ الْقَدِيمِ ، ذَا الْوَجْهِ الْكَرِيمِ ، وَالْكَلِمَاتِ التَّامَّاتِ ، وَالدَّعَوَاتِ الْمُسَتَجَابَاتِ عَافِ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ مِنْ أَنْفُسِ الْجِنِّ وَأَعْيُنِ الإِنْسِ ، فَقَالَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَا يَلْعَبَانِ بَيْنَ يَدَيْهِ ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لأَصْحَابِهِ : عَوِّذُوا نِسَاءَكُمْ وَأَوْلادَكُمْ بِهَذَا التَّعَوُّذِ فَإِنَّهُ لَمْ يَتَعَوَّذِ الْمُتَعَوِّذُونَ بِمِثْلِهِ . .

Sesungguhnya malaikat Jibril datang pada Nabi yang sedang tampak sedih. Jibril bertanya: Wahai Muhammad, kenapa wajahmu tampak sedih? Nabi menjawab: Hasan dan Husain sedang sakit mata. Jibril berkata: sembuhkan matanya karena mata punya hak. Apakah kamu tidak mendoakan keduanya dengan kalimat-kalimat itu? Nabi bertanya: Kalimat apa? Jibril menjawab: Katakan:

اللهم ذا السلطان العظيم ذا المن القديم ، ذا الوجه الكريم ، ولي الكلمات التامات ، والدعوات المستجابات ، عافِ الحسن والحسين من أنفس الجن وأعين الإنس

Kemudian Nabi mengucapkan doa tersebut maka Hasan dan Husain langsung dapat berdiri dan bermain di sekitar Nabi. Nabi bersabda: mintalah perlindungan untuk dirimu, istrimu dan anak-anakmu dengan doa ini.

Bila kita membaca doa di atas untuk pengobatan buat diri kita bacanya seperti ini:

اللَّهُمَّ ذَا السُّلْطَانِ الْعَظِيمِ وَالْمَنِّ الْقَدِيْمِ، ذَا الرَّحْمَةِ الْكَرِيْمِ، وَلِيَّ الْكَلِمَاتِ التَّامَّاتِ وَالدَّعَوَاتِ الْمُسْتَجَابَاتِ عَافنا مِنْ أَنْفُسِ الْجِنِّ وَأَعْيُنِ الإِنْسِ

Jika untuk mengobati orang lain hendaknya membaca seperti ini:

اللَّهُمَّ ذَا السُّلْطَانِ الْعَظِيمِ وَالْمَنِّ الْقَدِيْمِ، ذَا الرَّحْمَةِ الْكَرِيْمِ، وَلِيَّ الْكَلِمَاتِ التَّامَّاتِ وَالدَّعَوَاتِ الْمُسْتَجَابَاتِ عَافِ فلان بن فلان مِنْ أَنْفُسِ الْجِنِّ وَأَعْيُنِ الإِنْسِ

Doa di atas bisa untuk mencegah ataupun mengobati penyakit ghaib yang datang dari kejahatan tukang sihir dan jin.

Adapun sanad doa Nur Buat, alfaqir riwayatkan sebagai berikut:

الحاج رزقي ذو القرنين أصمت البتاوي عن العلامة المسند المعمر السيد أحمد بن أبي بكر بن احمد الحبشي عن الشيخ عمر بن حمدان المحرسي عن الشيخ فالح بن محمد الظاهري عن الشيخ محمد بن علي الخطابي السنوسي عن الحافظ السيد مرتضى الزبيدي عن الشمس محمد سالم الحفني عن عبد العزيز الزيادي عن الشمس محمد بن العلاء البابلي عن الشيخ سالم بن محمد السنهوري عن النجم محمد بن احمد الغيطي عن القاضي زكريا الانصاري عن الحافظ بن حجر عن أبي الحسن بن أبي المجد وأبي هريرة ابن الذهبي عن ابن أبي محمد القاسم بن المظفر بن عساكر عن أبي محمد عبد الله ابن عمر بن حموية عن علي بن الحسن بن هبة الله ابن عساكر قال أخبرنا أبو القاسم أيضا أخبرني الأمير عرس الدولة أبو فراس طراد بن الحسين بن حمدان أنا أبو عبد الله الحسين بن عبد الله بن محمد بن إسحاق بن أبي كامل قراءة عليه أنبأ خال أبي أبو الحسن خيثمة بن سليمان عن سليمان بن حيدرة نا عبيد بن محمد الكشوري نا عبد الله بن عبد ربه البصري عن أبي رجاء عن شعبة عن أبي إسحاق عن الحارث عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه .


Sedangkan doa nurbuat yang terdapat kitab Majmu’ Syarif dan semisalnya. Perhatikanlah, sungguh berbeda antara do’a nurbuat ini dengan do’a yang terdapat dalam riwayat Ibnu Asakir di atas.

اَللّٰهُمَّ ذِى السُّلْطَانِ الْعَظِيْمِ ، وَذِى الْمَنِّ الْقَدِيْمِ ، وَذِي الْوَجْهِ الْكَرِيْمِ ، وَوَلِيِّ الْكَلِمَاتِ التَّآمَّاتِ ، وَالدَّعَوَاتِ الْمُسْتَجَابَةِ ، عَاقِلِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ مِنْ اَنْفُسِ الْحَقِّ ، عَيْنِ الْقُدْرَةِ والنَّاظِرِيْنَ ، وَعَيْنِ الْاِنْسِ وَالْجِنِّ ، وَاِنْ يَّكَادُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَيُزْ لِقُوْنَكَ بِاَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُوْلُوْنَ اِنَّهُ لَمَجْنُوْنَ ، وَمَا هُوَ اِلاَّ ذِكْرٌ لِلْعَالَمِيْنَ ، وَمُسْتَجَابُ لُقْمَانَ الْحَكِيْمِ ، وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَوُدَ عَلَيْهِمَا السَّلَامُ الْوَدُوْدُ ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيْدِ ، طَوِّلْ عُمْرِيْ ، وَصَحِّحْ اَجْسَادِيْ ، وَاقْضِ حَاجَتِيْ ، وَاَكْثِرْ اَمْوَالِيْ وَاَوْلَادِيْ ، وَحَبِّبْ لِلنَّاسِ اَجْمَعِيْنَ ، وَتَبَاعَدِ الْعَدَاوَةَ كُلَّهَا مِنْ بَنِيْ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ ، مَنْ كَانَ حَيًّا وَّيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَي الْكَافِرِيْنَ ، وَقُلْ جَآءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ، اِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا ، وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَاهُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ ، وَلَايَزِيْدُ الظَّالِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ ، وَسَلَامٌ عَلَي الْمُرْسَلِيْنَ ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Ya Allah, Yang memiliki kekuasaan yang agung, yang memiliki anugerah yang terdahulu, memiliki wajah yang mulia, menguasai kalimat-kalimat yang sempurna, dan doa-doa yang mustajab, penanggung Hasan dan Husain dari jiwa-jiwa yang haq, dari pandangan mata yang memandang, dari pandangan mata manusia dan jin.

Dan sesungguhnya orang-orang kafir benar-benar akan menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, ketika mereka mendengar Al-Quran dan mereka berkata: “Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila, dan Tiadalah itu semua melainkan sebagai peringatan bagi seluruh alam. Allah yang mengabulkan do’a Luqmanul Hakim dan mewariskan Sulaiman bin Daud. Allah adalah Zat Yang Maha Pengasih lagi memiliki singgasana yang Mulia, panjangkanlah umurku, sehatlah jasad tubuhku , kabulkan hajatku, perbanyakkanlah harta bendaku dan anakku, cintakanlah semua manusia, dan jauhkanlah permusuhan dari anak cucu Nabi Adam, orang-orang yang masih hidup dan semoga tetap ancaman siksa bagi orang-orang kafir. Dan katakanlah: “Yang haq telah datang dan yang batil telah musnah, sesungguhnya perkara yang batil itu pasti musnah”.

Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan Al-Quran tidak akan menambah kepada orang-orang yang berbuat aniaya melainkan hanya kerugian. Maha Suci Allah Tuhanmu Tuhan Yang Maha Mulia dari sifat-sifat yang di berikan oleh orang-orang kafir.Dan semoga keselamatan bagi para Rasul.Dan segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam.

Selain adanya tambahan redaksi yang tidak diketahui sumbernya, ditinjau dari susunan bahasa yang digunakan dalam doa nurbuat di atas banyak ditemukan rakakah (kejanggalan) karena tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab yang baik dan benar. Beberapa rekan yang saya lihat di dunia maya mengkritik redaksi doa tersebut diantaranya:

 [اللَّهُمَّ ذِى السُّلْطَانِ]

seharusnya, dibaca [ذَا] dengan huruf alif (sebagaimana riwayat Ibnu Asakir) bukan [ذِى] dengan huruf ya’. Karena Munada Mudhaf harusnya mansub bukan majrur. Namun, anehnya, kesalahan semacam ini terjadi secara berulang-ulang, yaitu di bagian ma’thufnya.

Demikian pula pada bagian [وَذِى الـمَنِّ القَدِيم] seharusnya [وَذَا الـمَنِّ القَدِيم], pada bagian [وَذِى الوَجْه الكَرِيم] seharusnya [وَذَا الوَجْه الكَرِيم], dan pada bagian [وَوَلِيِّ الكَلِمَات التآمات] seharusnya [وَوَلِيَّ الكَلِمَاتِ التآمَاتِ] dengan harakat fathah.

Hadis mauḏûʻ (palsu) dapat diketahui dari struktur bahasa atau susunan kata dalam matan hadis yang menjadi objek penelitian tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab. Banyak hadis yang diriwayatkan oleh para pemalsu hadis, ditemukan adanya kejanggalan redaksi yang diriwayatkan seperti menggunakan kata-kata yang mengacaukan makna atau rusak struktur kalimatnya seolah-olah tidak mencerminkan sabda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Apakah naskah majmu' syarif yang beredar salah cetak? Bisa jadi.

Mengenai tambahan redaksi di atas merupakan sisipan dari doa-doa orang shalih. Jika doa tambahan tersebut dibaca boleh-boleh saja, akan tetapi jangan menisbahkan doa itu kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.



Dikutip ulang dari kitab ittihaful amajid bi nafaisil fawaid karya al-Qadhi Abu Mun'yah as-Sakunjiy at-Tijaniy jilid 2 halaman 90.




Khadimul Majlis al-Mu'afah
H. Rizqi Dzulqornain al-Batawiy M.A

Ikuti Kajian Islam:

instagram.com/rizkialbatawi

@rizkialbatawi

https://www.facebook.com/Rizqi-Zulqornain-Albatawi

 ********* ******** ********

يا فالق الحب والنوى، أعط كل واحد من الخير ما نوى، وارفع عنا كل شكوى، واكشف عنا كل بلوى، وتقبل منا كل نجوى، وألبسنا لباس التقوى، واجعل الجنة لنا مأوى .

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ، وَعَلىَ آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْمِ.
صلاةً تَجْعَلُنَا مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيْرًا، وَرِزْقًا كَثِيْرًا، وَقَلْبًا قَرِيْرًا، وَعِلْمًا غَزِيْرًا، وَعَمَلاً بَرِيْرًا، وَقَبْرًا مُنِيْرًا، وَحِسَابًا يَسِيْرًا، وَمُلْكًا فِي الْفِرْدَوْسِ كَبِيْرًا
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Alamat Yayasan al-Muafah

Jalan Tipar Cakung Rt: 05 Rw 08 NO: 5 Kampung Baru, Cakung Barat, Jakarta Timur 13910


فَأَكْرِمِ اللَّهُمَّ مَنْ أَكْرَمَنَا .:. وَكَثِّرِ الْخَيْرَ لَدَيْهِ وَالْغِنَا
وَأَعْطِهِ مِمَّا رَجَى فَوْقَ الرَّجَا .:. وَاجْعَلْ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجَا
وَافْعَلْ كَذَلِكَ بِكُلِّ مُحْسِنِ .:. اِلَى ذَوِي الْعِلْمِ بِظَنٍّ حَسَنِ
وَاهْدِ جَمِيْعَنَا اِلَى الرَّشَادِ .:. وَلِطَرِيْقِ الْخَيْرِ وَالسَّدَادِ
وَابْسُطْ بِفَضْلِكَ عَلَيْنَا نِعْمَتَكْ .:. وَانْشُرْ عَلَيْنَا فِي الدَّارَيْنِ رَحْمَتَكْ
وَاخْتِمْ لَنَا عِنْدَ حُضُوْرِ الْأَجَلِ .:. بِالْعَفْوِ مِنْكَ وَالرِّضَى الْمُعَجَّلِ
أَمِيْنَ أَمِيْنَ اسْتَجِبْ دُعَانَا .:. وَلاَ تُخَيِّبْ رَبَّـــــنَا رَجَـــــــــــــــــانَا