Selasa, 19 November 2013

Tong Kosong Nyaring Bunyinya



 Tong Kosong Nyaring Bunyinya


Imam Ibn Hajar al-Asqallaniy Rahimahullah menceritakan dalam kitabnya Inba al-Gumr Fi Abna al-Umr tentang salah satu kebohongan orang yang sok tahu sebagai berikut: Ada seseorang yang bernama Syamsuddin Ibn A'thaillah al-Raziy al-Harawiy yang wafat pada tahun 887 H. Teman dekat penguasa Timurlank dia pernah mengaku punya daya ingat dan ilmu pengetahuan yang luar biasa mengaku hafal kitab shahih Imam Bukhari dan kitab Shahih Imam Muslim beserta sanad-sanad keduanya. Ia juga mengaku hafal 12.000 hadis lainnya sehingga banyak orang yang mengaguminya. 

         Pada Suatu hari dia mengajar di satu majlis spontan dia mengeluarkan fatwa bahwa shalat Maghrib itu boleh diqoshor dalam perjalanan, hal itu berdasarkan hadis Jabir yang terdapat dalam kitab al-Firdaus karya Imam Abu al-Laits al-Samarqandiy. Para jamaah yang cerdas tidak mempercayainya, mereka pun tidak puas dengan mendengar fatwa nyeleneh Ibn A'tha tersebut. Mereka mencari kitab yang dia sebutkan, tetapi setelah dilihat dalam kitab tersebut, ternyata mereka tidak menemukan hadis Jabir yang disebutkan Ibn A'tha'. Dan sewaktu hal itu diberitahukan kepadanya, Ibn A'tha' menjawab:" Kitab karya Abu al-laits al-Samarqandiy itu ada 3 macam. Yang Kabir (besar), yang Ausath (sedang) dan yang Ashghar (kecil). Dan hadis Jabir itu terdapat dalam kitab yang Kabir (besar), tetapi sayang sudah tidak bisa ditemukan di negri ini. Orang-orang yang hadir di majlis tersebut merasa yakin dengan kebohongannya. Ini sebuah contoh dari kelugasan makna perkataan : "Jika seseorang berbicara tidak dalam kapasitasnya (tanpa ilmu), maka dipastikan dia akan mengeluarkan pendapat yang aneh-aneh."


Sama halnya dengan seorang ustadzah di satu kampung yang mengharamkan Rebana/Hadhrah, dia mengatakan bahwa haramnya Rebana/Hadhrah itu ada hadisnya, tetapi ketika ia ditanya oleh salah seorang jamaahnya tentang hadis tersebut, ia tidak bisa menyebutkan redaksi (lafaz) hadisnya, riwayat siapa? dan di dalam kitab apa? Bahkan, ia hanya bisa memaki jamaahnya yang bertanya itu.


Ustadzah itu malah menyebutkan dalil bikinan bahwa orang tuanya tidak suka dengan Rebana/Hadhrah. Masya Allah kebodohan yang sangat nyata, sejak kapan dalil haramnya sesuatu dalam hukum agama itu didasari oleh ketidaksukaan orang tuanya. Perlu diketahui ketidaksukaan orang tuanya terhadap Rebana/Hadhrah itu hal yang boleh-boleh saja. Tetapi, bukan jadi dalil bahwa Rebana/Hadhrah itu haram. Apakah kemudian bila orang tuanya tersebut tidak suka jengkol, maka hukum makan jengkol jadi haram?


Perhatikanlah keadaan orang yang mengaku-ngaku pintar itu. Karena tidak melihat ada orang lain yang mencela dan menyalahkan tindakannya, dengan leluasa ia asik menikmati sikap sok tahunya. Karena merasa malu kalau sampai tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh orang yang bertanya, sehingga ia tak segan-segan mengada-adakan kebohongan tanpa didasari ilmu. Ia memberikan fatwa dengan menggunakan ilmu Kirata yaitu memikirkan sesuatu yang kira-kira nyata, tanpa mengerti bagaimana mengambil jawaban yang terkandung dalam al-Qur'an dan Hadis. Ia hanya menduga-duga saja, padahal menduga-duga itu adalah ucapan paling dusta. ini sikap orang  yang sok tahu dan hanya punya modal keberanian dan kenekatan. Bagai Ikan teri mengaku ikan Bandeng.


H. Rizqi Zulqornain al-Batawiy 


اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِي جَاءَ بِالْآيَاتِ البَيِّنَاتِ ، وَصَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُؤَيَّدِ بِجَلَائِلِ الْمُعْجِزَاتِ ، وَصَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْقَائِلِ إِنِّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَصَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ السَّاِري سِرُّهُ فِي سَائِرِ الْكَائِنَاتِ،وَصَلِّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَكَفِّرْ بِها عَنَّا السَّيِّئَاتِ ، وَصَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَأَيِّدْنَا بِالْكَرَامَاتِ
 














Minggu, 17 November 2013

Qashidah "Ya Rabbi Hayyi' Lana"



 Qashidah Ya Rabbi Hayyi' Lana
يَا رَبِّ بِالْمُصْطَفى بَلِّغْ مَقَاصِـدَنَا

                         وَاغْفِرْ لَنَا مَا مَضَى يَا وَاسِعَ الْكَرَمِ

Ya Allah, Ya Tuhanku, dengan pangkat Nabi Muhammad al-Musthafa (Nabi yang terpilih), sampaikanlah segala cita-cita kami. Ampunilah dosa-dosa kami yang telah kami lakukan Ya Allah, Yang Maha luas kedermawanan-Nya

يَا رَبِّ هَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْـرِنَا رَشَدًا

                       وَاجْعَلْ مَعُـوْنَتَكَ الْحُسْنى لَنَا مَدَدًا

Ya Allah, aturlah segala urusan kami dengan petunjuk-Mu dan jadikanlah pertolongan-Mu yang mendatangkan kebaikan itu menjadi kekuatan/bantuan bagi kami.

وَلاَ تَكِلْنَا إِلَى تَدْبِيْرِ أَنْفُسِنَا

                        فَالنَّفْسُ تَعْجِزُ عَنْ إِصْلاَحِ مَا فَسَدَا

Janganlah Engkau biarkan kami mengatur diri kami sendiri. Diri ini tak akan mampu untuk memperbaiki sesuatu yang telah rusak.

 أَنْتَ الْعَلِيْمُ وَقَدْ وَجَّهْتُ يَا أَمَلِي

                              إِلَى رَجَائِكَ وَجْهًا سَائِلاً وَيَدًا

Engkaulah Yang Maha Mengetahui, sungguh aku telah hadapkan wajah dan tanganku ini untuk meminta dan berharap kepada-Mu wahai harapanku.

وَلِلرَّجَاءِ ثَوَابٌ أَنْتَ تَعْلَمُهُ

                       فَاجْعَلْ ثَـوَابِي دَوَامَ السِّتْرِ لِي أَبَدًا

Seseorang yang memiliki harapan, akan memperoleh pahala yang telah Engkau ketahui, maka jadikanlah balasan pahalaku menjadi penutup bagi keburukanku selamanya.




Pada pertama kalinya penulis menemukan Qashidah "Ya  Rabbi Hayyi" lana pada kitab Manba' Ushulil Hikmah karya Imam Ahmad  Bin Ali al-Buniy Radhiyallahu Anhu, kemudian belakangan penulis menemukanya dalam kitab Fath al-Malilk al-Majid karya Syekh Imam Ahmad ad-Dairabiy Radhiyallahu Anhu. Imam Ahmad ad-Dairabiy mengutip pendapat para ahli ma'rifah menyatakan keutamaan membaca bait Qashidah ini: Siapa saja yang sering membaca Qashidah "Ya Rabbi Hayyi Lana" maka ia akan mendapatkan ijabah dari Allah Taala akan segala hajatnya.

BY

H. Rizqi Zulqornain al-Batawiy