Minggu, 07 Mei 2017

Rahasia Angka 881438

Rahasia 8 8 1438

Oleh; H. Rizqi Dzulqornain al-Batawiy



بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين


اللهم نسألك أن تصليا *** على حبيبك إمام الأنبيا

صل على الفاتح ما قد أغلق *** محمد الخاتم ما قد سبق

وناصر الحق العلي بالحق *** سيدنا الهادي لكل الخلق

الى صراطك القويم المستقيم *** والأل مقدر قدره العظيم




Dari hitungan adad (angka), Hari Jumat kemarin melahirkan angka-angka cantik baik dari dilihat dari bulan Hijriyah maupun bulan Masehinya.Coba perhatikan empel-empel alus_alus;

Tanggal 8 bulan 8 (Sya'ban) 1438 Hijriyah. Bertepatan tanggal 5 bulan 5 (Mei) 2017 Masehi.

Bila kita siangin (urai satu-satu) angka angkanya menjadi:

8 + 8 = 1 + 4 + 3 + 8

8 + 8 = 16 sama juga dengan jumlah; 1+ 4 + 3 + 8 = 16

5 + 5 = 2 + 0 + 1 + 7

5 + 5 = 10 sama juga dengan jumlah; 2 + 0 + 1 + 7 = 10

Dikutip ulang dari kitab ittihaful amajid bi nafaisil fawaid karya Abu Mun'yah as-Sakunjiy at-Tijaniy jilid 2 halaman 95.


Khadimul Majlis al-Mu'afah

H. Rizqi Dzulqornain al-Batawiy




instagram.com/Zulqornain_Muafiy

@rizkialbatawi


Sabtu, 06 Mei 2017

Laila Majnun (Hikmah Dari Orang Gila)

Laila Majnun

Oleh; H. Rizqi Dzulqornain al-Batawiy

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين


اللهم نسألك أن تصليا *** على حبيبك إمام الأنبيا

صل على الفاتح ما قد أغلق *** محمد الخاتم ما قد سبق

وناصر الحق العلي بالحق *** سيدنا الهادي لكل الخلق

الى صراطك القويم المستقيم *** والأل مقدر قدره العظيم


Kisah legendaries Qais dan Laila lebih dahulu populer dari kisah remeo dan juliet garapan wiliam shakepear tahun 1616 Masehi. Kisah Laila Majnun lebih akrab disebut orang, telah berhasil mengapresiasikan makna cinta sejati. Sosok Qais seorang pria yang telah dibuat mabuk cinta oleh Laila, sampe kepangku julukan Majnun (orang gila).

Ayah Qais bernama al-Mulawwih Bin Muzahim hidup pada masa pemerintahan Abdul Malik Bin Marwan. Qais pria tampan, cerdas sekaligus pencipta puisi-puisi cinta merupakan keturunan darah biru dari Bani Amir. Adapun kekasihnya Qais yang bernama Laila mengalir pada tubuhnya darah keturunan Ka’ab Bin Rabi’ah. Qais wafat pada tahun 68 Hijriyah/688 Masehi.

Imam Ibn Thulun (wafat tahun 953 Hijriyah) membuat karya tentang kisah Laila dan Majnun (Qais) dengan judul kitab:
بسط سامع المسامر في أخبار مجنون بني عامر

Imam al-Ashmu’iy menolak habis-habisan tentang keberadaan tokoh yang bernama Qais dan Laila. Menurut beliau keduanya kisah fiktip.

Ibn al-Kalbiy menyatakan bahwa kisah maupun syair-syair yang dihubungkan kepada tokoh Laila dan Qais merupakan karya seorang pemuda Yahudi dari Bani Umayyah.

Pada suatu hari Qais Bin al-Mulawwih dikejutkan dengan seekor anjing milik Laila yang sekonyong-konyong berjalan di lorong kampung. Qais segera mengukutinya dengan harapan ia menemukan tempat di mana Laila berada. Di tengah perjalanan Qais melewati sekelompok orang kampung sedang shalat berjamaah, tetapi Qais tidak melihat mereka lantaran ia terlalu fokus mengejar anjingnya si Laila.

Setelah Qais pulang, sekelompok orang yang tadi melakukan shalat jamaah bertanya kepada Qais:

Jamaah:

قد مررت بنا ونحن نصلي فلم لم تصل معنا ؟ "

Wahai Qais, tadi kau melewati kami saat kami sedang shalat. Kenapa kau tidak ikut shalat berjamaah dengan kami?

Qais:

والله مارأيتكم ، ووالله لو كنتم تحبون الله كما أحب ليلى لما رأيتموني ، كنتم بين يدي الله ورأيتموني ، وأنا بين يدي كلبها ولم أركم .أعيدوا صلاتكم يرحمكم الله .

Demi Allah, saat kalian sedang shalat berjamaah aku sama sekali tidak melihat kalian. Bila kalian benar-benar cinta kepada Allah sebagai mana diriku kepincut dengan Si Laila, pastilah kalian tidak melihat aku saat kalian shalat. Padahal kalian sedang beraudiensi dengan Allah tetapi mengapa kalian masih bisa memperhatikan diriku. Aku saja yang mengejar anjing kepunyaan Laila pujaan hatiku sama sekali tidak melihat kalian. Sekarang juga, ulang kembali shalat yang tadi kalian kerjakan. Semoga dengan begitu kalian mendapat rahmat Allah.

Terkadang orang yang kita anggap gila, dapat memberikan hikmah besar dalam hidup kita.


Dikutip ulang dari kitab ittihaful amajid bi nafaisil fawaid karya Abu Mun'yah as-Sakunjiy at-Tijaniy jilid 2 halaman 86.


Khadimul Majlis al-Mu'afah

H. Rizqi Dzulqornain al-Batawiy


instagram.com/Zulqornain_Muafiy

@rizkialbatawi




Selasa, 02 Mei 2017

Amalan Bulan Sya'ban (Ampunan 1000 Dosa)

Amalan Bulan Sya'ban

Oleh; H. Rizqi Dzulqornain al-Batawi



بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين


اللهم نسألك أن تصليا *** على حبيبك إمام الأنبيا

صل على الفاتح ما قد أغلق *** محمد الخاتم ما قد سبق

وناصر الحق العلي بالحق *** سيدنا الهادي لكل الخلق

الى صراطك القويم المستقيم *** والأل مقدر قدره العظيم

Di antara tanda seseorang menjadi ahlus saadah (orang yang bahagia dunia akhirat) adalah semangat mengerjakan ibadah wabil khusush di waktu dan tempat yang memiliki keutamaan besar.

Di antara waktu yang sangat banyak kita dapat meraih keutamaan besar adalah bulan Sya'ban. Syekh Muhammad Sukairij rahimahullah seorang ahli sastra, pakar sejarah dan ulama beken dalam Thariqah Tijaniyah (wafat tahun 1385 Hijriyah) dalam kananisynya beliau mengutip bahwa tertulis dalam kitab Taurat dzikir yang dibaca selama bulan sya'ban baik siang dan malam:

لاإله إلا الله و لا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين و لو كره الكافرون .

La ilaha illallahu wa la na'budu illa iyyahu mukhlishina lahuddina walau karihal kafirun.

Artinya; Tiada tuhan selain Allah, kami tidak akan menyembah kecuali kepadaNya dalam keadaan ikhlas dan mengabdikan diri buat agamaNya meskipun orang kafir membenci.

Keutamaan bagi orang yang istiqamah membacanya:

كتب الله له عبادة ألف سنة و محا عنه ذنوب ألف سنة و خرج من قبره و وجهه كالقمر ليلة البدر و كتب عند الله صديقا .

Allah akan berikan catatan pahala ibadah selama 1000 tahun, menggugurkan 1000 macam dosa, bangkit dari kubur wajahnya bercahaya bagaikan bulan purnama dan masuk dalam nominasi ahli shiddiq.

Adapun sanad muttashil kepada Syekh Muhammad Bin al-Haj al-Iyasyiy Sukairij rahimahullah, alfaqir riwayatkan sebagai berikut;

الحاج رزقي ذو القرنين اصمت البتاوي عن فضيلة الدكتور السيد عادل العلمي الادريسي الحسني عن المحدث العلامة السيد ادريس بن محمد بن العابد العراقي عن المؤرخ الاديب سيدي محمد بن الحاج العياشي سكيرج رحمه الله

Imam Abdurrahman as-Shafuriy rahimahullah dalam kitabnya Nuzhatul Majalis Wa muntakhabun Nafais juga mengutip dzikir bulan Sya’ban yang tersebut di atas.




Dikutip ulang dari kitab ittihaful amajid bi nafaisil fawaid karya Abu Mun'yah as-Sakunjiy at-Tijaniy jilid 2 halaman 90.


Khadimul Majlis al-Mu'afah

H. Rizqi Dzulqornain al-Batawiy




instagram.com/Zulqornain_Muafiy

@rizkialbatawi



Senin, 01 Mei 2017

Dalil Tawassul (al-Mushthafa Wa al-Murtadha)

Dalil Tawassul

Oleh; H. Rizqi Dzulqornain La Wa La



بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين


اللهم نسألك أن تصليا *** على حبيبك إمام الأنبيا

صل على الفاتح ما قد أغلق *** محمد الخاتم ما قد سبق

وناصر الحق العلي بالحق *** سيدنا الهادي لكل الخلق

الى صراطك القويم المستقيم *** والأل مقدر قدره العظيم


Imam Syihabuddin Ahmad Bin Salamah al-Qalyubiy (wafat tahun 1069 Hijriyah) menyebutkan dalam kitab Tuhfatur Raghib Fi Sirah Jama’at Min A’yan Ahlil Bait al-Athayib halaman: 53: Keutamaan dua bait Syair yang dapat menolak berbagai macam bala dan juga menjadi terapi segala penyakit. Bait tersebut sebagai berikut:

لي خمسة أطفي بهم * نار الكروب الحاطمة
المصطفى والمرتضى * وابناهما وفاطمة

Li Khomsatun, Uthfi Bihim * Narol Kurubil Hathimah
Al-Mushthofa Wal Murtadha * Wabnahuma Wa Fatimah

Artinya: Aku memiliki 5 wasilah (perantara), dengan sebab mereka Allah Taala izinkan aku dapat memadamkan panasnya segala kesulitan yang menyerang, mereka itu adalah Nabi Muhammad yang terpilih, Sayyidina Ali yang diridhai, Sayyidatuna Fatimah, dan kedua anaknya (Sayidina Hasan dan Sayyidina Husain)".

Siapa yang lazim membaca dua bait di atas, saat menghadapi hal pelik akan Allah Taala berikan solusi dengan segera, berbagai Penyakit ganas pada dirinya akan Allah sembuhkan dan mendapat perlindungan dari wabah penyakit.

Dua bait di atas merupakan apresiasi permohonan seorang hamba kepada Allah Taala yang menjadi maqshad (tumpuan harapan) dengan bertawassul kepada lima makhluq mulia. Bertawassul.

Tawassul memiliki arti dasar “mendekat”, sementara Wasilah adalah media perantara untuk mencapai tujuan. Tawassul yang dimaksud disini adalah mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan menggunakan perantara lain, baik nama-nama Allah (al-Asma’ al-Husna), sifat-sifat Allah, amal shaleh, atau melalui makhluk Allah, baik dengan doanya atau kedudukannya yang mulia disisi Allah.

Dalil Tawassul:

surat Almaidah, ayat 35 :

ياأيها الذين آمنوااتقواالله  وابتغوا إليه الوسيلة

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan."

Suat Al-Isra', ayat 57:

 أُولَـئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُوراً

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. 


Dikisahkan di satu kampung ada orang sok paling islami, paling bener, paling paham tentang al-Qur’an dan Hadist, paling sesuai amalannya dengan salafus shalih, ia sangat benci kepada orang yang berdoa dengan bertawassul kepada para Nabi, wali dan orang shalih. Menurutnya tawassul hanya dibolehkan dengan menyebut nama dan sifat Allah serta amal shalih.

Pada suatu hari, ia datang ke rumah salah satu guru ngaji di daerah Cakung, ingin memaki-maki ustdz kampung tersebut yang telah mengajarkan masyarakat kesesatan. Sesampainya di rumah ustadz terjadi dialog. Sebut saja orang pengingkar tawassul dengan nama Abu al-Komentari:

Abu al-Komentari: Kok ente jadi orang penyebar Bid’ah  bukan pengamal sunnah?

Ustdz Cakung: Eh, kalo ngomong jangan sambawera aja ente, gua tabokin lak-lakan luh baru tau rasa?

Abu al-Komentari: Kalo doa cukup minta sama Allah, kaga usah minta sama Nabi dan para wali, itu semua perbuatan sesat, super neraka !!

Ustadz Cakung: oh, urusan Tawassul. Ente pelajarin al-Qur’an dengan benar, baca kitab-kitab tafsir dengan para ulama. Jangan Cuma rajin ngamalin ibadah tapi goblok kaga ilang-ilang, fanatic buta, gampang menganggap orang lain sesat, kafir musyrik !! kalo ente bener-bener paling faham al-Qur’an ane mau nanya. Ane bukan mau nanya berapa jumlah huruf alif atau wawu ama Ya dalam al-Qur’an. Yang ane mau tanya tentang pemahaman ente terhadap ayat-ayat al-Qur’an terkait tawassul.

Abu al-Komentari: boleh, boleh …

Ustadz Cakung: Siapa yang menganugrahkan anak kepada seseorang?

Abu al-Komentari: loh, kok jadi ustadz pertanyaaannya kaya orang tolol. Jawabannya pasti Allah dong!!

Ustadz Cakung: lalu gimana tentang firman Allah:

: قَالَ إِنَّمَا أَنَا رَسُولُ رَبِّكِ لِأَهَبَ لَكِ غُلَامًا زَكِيًّا

Artinya; sesungguhnya aku ini utusan Tuhanmu, untuk menganugrahkan diri seorang anak yang disucikan.

Abu al-Komentari: Malaikat dalam ayat itu Cuma sebagai perantara

Ustadz Cakung: Siapa yang memberikan hidayah?

Abu al-Komentari: Yang bisa memberi hidayah itu hanya Allah

Ustadz Cakung: Bagaimana memahami ayat:

: وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Artinya: Sesungguhnya engkau Ya Muhammad benar-benar memberi petunjuk (hidayah) ke jalan yang lurus.

Abu al-Komentari: Nabi Muhammad hanya sebagai perantara saja, tidak lebih dari itu.

Ustadz Cakung: Siapa yang member rizki kepada Makhluq di alam ini?

Abu al-Komentari: seluruh makhluq di ala mini, Allah yang memberikan rizkinya

Ustadz Cakung: coba jelaskan ayat:

وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ أُولُو الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينُ فَارْزُقُوهُمْ مِنْهُ

Bila saat pembagian harta (warisan) kerabat, anak yatim dan orang miskin ikut hadir maka berikan mereka rizki ala kadarnya dari harta tersebut.

Abu al-Komentari: mereka Cuma sebagai perantara saja

Ustadz Cakung: Siapa yang menciptakan makhluq di ala mini?

Abu al-Komentari: Semua makhluq di ala mini, Allah yang menciptakannya.

Ustadz Cakung: lalu ayat ini apa maksudnya?

: أَنِّي أَخْلُقُ لَكُمْ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ

Artinya; Nabi Isa berkata aku ciptakan buat kalian dari tanah ini seekor burung.

Abu al-Komentari: Nabi Isa Cuma perantara saja

Ustadz Cakung: Siapa yang mematikan makhluq di ala mini?

Abu al-Komentari: Yang menghendaki kematian bagi makhluq di alam ini Cuma Allah

Ustadz Cakung: Penjelasan ente tentang ayat ini apa?

:قُلْ يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ

Katakanlah Ya Muhammad malaikat maut yang akan mewafatkan kalian.

Abu al-Komentari: Malaikat maut hanya sebagai perantara saja

Ustadz Cakung: Siapa yang memberikan pertolongan kepada orang beriman?

Abu al-Komentari: Allah Maha Penolong, tidak ada pertolongan melainkan pertolongan Allah

Ustadz Cakung: Bagaimana Memahami ayat:

: وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ

Minta tolonglah kalian dengan sabar dan shalat.

Abu al-Komentari: Kalo sabar dan shalat Cuma jadi penyebab saja.

Ustadz Cakung: Dari awal, ente Cuma bilang itu perantara, itu sebab saja.. kalo ente yakin itu semua sebagi perantara dan sebab lalu kenapa kerjaan ente pagi, siang dan malam selalu mengkafirkan dan memusyrikan orang islam kampung, lantaran mereka bertawassul dengan para Nabi, wali dan orang shalih. Padahal ayat-ayat al-Qur’an yang tadi ane sebutkan ente bilang para Nabi dan hamba-hamba Allah Yang shalih sebagai peranta dan sebab tercapainya kehendak Allah Taala. Ente berarti belum gagal paham tawassul atau bener-bener goblok?

Abu al-Komentari: nganu… nganu …. Nganu…. Sebenarnya, tawassul boleh kepada yang masih hidup saja, kalau orang shalih yang sudah meninggal haram dan sesat.

Ustadz Cakung: oh terus yang ente fahami dari Surat Alimron ayat 169

 ( ﻭﻻ ﺗﺤﺴﺒﻦ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻗﺘﻠﻮﺍ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻣﻮﺍﺗﺎ ﺑﻞ ﺃﺣﻴﺎﺀ ﻋﻨﺪ ﺭﺑﻬﻢ ﻳﺮﺯﻗﻮﻥ )

Artinya: jangan engkau menyangka orang yang meninggal di jalan Allah itu mati melainkan mereka  hidup dihadapan Allah dan diberi rizqi

Surat Albaqarah ayat 153 

( ﻭﻻ ﺗﻘﻮﻟﻮﺍ ﻟﻤﻦ ﻳﻘﺘﻞ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻣﻮﺍﺕ ﺑﻞ ﺃﺣﻴﺎﺀ ﻭﻟﻜﻦ ﻻ ﺗﺸﻌﺮﻭﻥ )

Artinya: jangan kau katakan bagi orang yang  meninggal di jalan Allah itu mati melainkan mereka  hidup hanya saja kau tidak merasakannya.

Kalau orang yang berjuang di jalan Allah Taala tidak boleh dibilang mereka mati, maka bagaimana dengan para Nabi?

Kenapa alasannya ente bilang tawassul hanya boleh kepada wali atau ulama yang masih hidup, yang sudah meninggal tidak boleh. Apakah dengan bertawassul kepada yang masih hidup ente punya keyakinan bahwa merekalah yang masih hidup yang mengabulkan doa atau permohonan. Betapa jahil dan sesatnya aqidah ente !! pandangan ahlus sunnah wal jamaah membolehkan bertawassul kepada para wali atau orang shalih baik yang masih hidup atau yang sudah wafat lantaran yang memberikan ta’stir (pengaruh) mendatangkan astar (bekas) secara mutlak adalah Allah Taala,

Abu al-Komentari: Waduh kalau begitu tawassul dengan menyebut pangkat wali atau orang shalih baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal tidak diperbolehkan. Kita tawassul dengan amal shalih saja, karena para Nabi, wali dan orang shalih itu makhluq, cukup kita tawassul dengan amal shalih saja.

Ustadz Cakung: eh, omongan luh muter-muter udah kaya obat nyamuk. Luh bener-bener dach, otak luh ada di tapakan kaki kiri, jadi kesandung dikit langsung gegerotak. Itu amal shalih atau ibadah yang luh kerjain adalah makhluq juga, khan ente yang bilang tawassul dengan makhluq sesat bapaknya musyrik.

Abu al-Komentari diam seribu bahasa seolah-olah mulutnya telah dibungkam batu kali yang besar langsung permisi pulang kaga ngucapin salam.

Adapun Sanad Muttaashil (bersambung) kepada Imam Syihabuddin Ahmad al-Qolyubiy Radhiyallahu Anhu, yang al-Faqir miliki sebagai berikut:

الحاج رزقي ذو القرنين أصمت البتاوي عن العلامة المحدث سيدي عبد الرحمن بن محمد عبد الحي الكتاني عن والده الامام أبي الإسعاد الحافظ مسند الدنيا سيدي محمد عبد الحي بن العارف الأشهر مولانا أبي المكارم الشيخ عبد الكبير الحسني الأدريسي الكتاني عن الشيخ عبد الله بن درويش السكري الحنفي عن محدث الشام المسند وجيه الدين عبد الرحمن بن محمد الكزبري عن الشيخ شهاب الدين العطار عن الشيخ محمد بن عبد الرحمن الغزي عن الشيخ يونس بن احمد الكفراوي المصري (1029-1120 هجرية) عن صاحب كتاب النوادر الامام شهاب الدين احمد بن سلامة القليوبي المصري الشافعي رضي الله عنه المتوفى سنة 1069 هجرية .

Dikutip ulang dari kitab ittihaful amajid bi nafaisil fawaid karya Abu Mun'yah as-Sakunjiy at-Tijaniy jilid 2 halaman 90.


Khadimul Majlis al-Mu'afah

H. Rizqi Dzulqornain Lawala




instagram.com/Zulqornain_Muafiy

@rizkialbatawi




Shalat Orang Buta Plus Tuli Ekstrim

Shalat Orang Buta Dan Tuli Ekstrim

Oleh; H. Rizqi Dzulqornain La Wa La



بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين


اللهم نسألك أن تصليا *** على حبيبك إمام الأنبيا

صل على الفاتح ما قد أغلق *** محمد الخاتم ما قد سبق

وناصر الحق العلي بالحق *** سيدنا الهادي لكل الخلق

الى صراطك القويم المستقيم *** والأل مقدر قدره العظيم




Syekh Abu Khudhair ad-Dimyathiy al-Madaniy dalam kitab Nihayatul Amal Liman Raghiba Shihhatal Aqidah Wal Amal halaman 147, mengutip qaul imam al-Asnawiy mengenai kasus seseorang yang shalatnya hanya sah bila menjadi imam, sedangkan jika ia menjadi ma'mum shalatnya tidak sah?

Jawabannya:

Orang buta plus budeg tingkat tinggi, bila ia jadi ma'mum sudah pasti ia tidak bisa melihat gerakan dan mendengar ucapan imam saat perpindahan rukun-rukun shalat imamnya. Sholat yang ia lakukan dinilai sah manakala ia lakukan sendiri atau jadi imam.

Menurut imam Asnawi solusi shalat orang buta campur budeg stadium atas itu ketika jadi ma'mum, ia kudu shalat di samping orang terpercaya yang dapat ia ketahui dari orang tersebut perpindahan gerakan rukun-rukun shalat imamnya.

Imam as-Suyuthiy membuat pernyataan imam al-Asnawiy berbentuk Lughz (tebak-tebakan) dalam sebuah nazham:

الا خبروني عن صلاة امرئ أتت * يحار بسيط دونها ووجيز 
تصح اذا صلى اماما ومفردا ** وان كان مأموما فليس يجوز

Kasih tahu diriku tentang shalat seseorang yang membuat bingung secara sederhana dan singkat. Shalat yang hanya sah dilakukan bila ia menjadi imam atau shalat sendiri, tetapi tidak boleh dilakukan bila ia menjadi ma'mum?



Dikutip ulang dari kitab ittihaful amajid bi nafaisil fawaid karya Abu Mun'yah as-Sakunjiy at-Tijaniy jilid 2 halaman 90.


Khadimul Majlis al-Mu'afah

H. Rizqi Dzulqornain Lawala




instagram.com/Zulqornain_Muafiy

@rizkialbatawi