Selasa, 26 November 2013

Kemulian Ulama Thariqah Tijaniyah Syekh Muhammad Bin Abdullah al-Ilghiy Radhiyallahu Anhu



Salah satu Ulama papan atas kebanggaan Thariqah Tijaniyah adalah Syekh al-Allamah al-Musnid al-Hafizh al-Faqih Sayyid Muhammad Bin Muhammad bin al-Mahdiy al-Hajujiy al-Idrisiy al-Hasaniy Rahimahullah Wanafaana Bihi Wa Bi Ulumihi. Amin. lahir tahun 1297 H. wafat tahun 1370 H. Dalam magnum opus beliau إتحاف أهل المراتب العرفانية بذكر بعض تراجم رجال الطريقة التجانية sebuah kitab yang mengiventarisir biografi ulama-ulama besar Thariqah Tijaniyah terdiri dari 8 jilid. Beliau menyebutkan nama Syekh Muhammad Bin Abdullah al-Ilghiy at-Tijaniy Radhiyallahu Anhu, sebagai ulama terkemuka yang memiliki kesamaan nama, nasab dan cirri fisik dengan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam.

Syekh Muhammad Bin Abdullah al-Ilghiy Radhiyallahu Anhu pernah berkata: " Aku mendapat kemulian dari Allah Taala diberikan keserupaan dengan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, namaku Muhammad, nama ayahku Abdullah dan nama ibuku Aminah."

Sayyid al-Hafizh al-Faqih Muhammad Bin Muhammad al-Hajujiy Radhiyallahu Anhu menambahkan:" Bahkan di pundak Syekh Muhammad Bin Abdullah al-Ilghiy Radhiyallahu Anhu terdapat tanda seperti khatmun nubuwwah (stempel kenabian) yang ada pada pundak Nabi Muhammad Shallahu Alaihi Wa Sallam. Begitulah penjelasan yang aku dapati dari orang-orang yang pernah melihat dan mencium tanda tersebut pada pundak beliau."

Syekh Muhammad Abdullah al-Ilghiy Radhiyallahu Anhu wafat di kota Marakesy, Maroko pada tahun 1303 H. 



لا والذي خلق القلوب خوافقا * يا سيدّي لولاك لم أك عاشقا

فاطلب لجنبك مضجعاً في مهجتي * إنّي أبوءك المحلّ اللائقا

واستقبل الدنيا بوجه باسم * متهلل وصل المحبّ الصادقا

 فإذا ابتسمت فإنها إشراقة * تذر الوجود مباهجا وحدائقا

 وإذا نطقت فإنها درر إذا * نثرت على سمعي لمعن بوارقا

 وأراك قد سابقت كلّ مكحّل * بالحسن في الدنيا فكنت السابقا

 والعذر في حقّي بحبّك قائم * يا من تربّع في المطالع شارقا

أكرمتني ووصلتني ورعيتني * ووثقت بي ورأيتني بك واثقا

 سكن الهوى وسكنت أنت بمهجتي * فملأتما بالشوق قلباً خافقا

 كيف التقاء الساكنين بمهجة * لا تقبل الكسر المخلّص فارقا

 والله ما خيّرت الا اخترت من * كان الجمال له لسانا ناطقا

 لأكون قيّم روضة الحسن التي * توحي إليّ قوافيا وحقائقا

 وأحوطها وتحوطني وأشمّ من * أزهارها الفيحاء طيباً عابقا

 أرأيت كيف سما بوجهك حسنه * قمراً وحلّ من السماء سرادقا

والحسن من نور الإله وروحه * لولا الحسان لكان صدري ضائقا


السيد محمد أمين كتبي قدس الله سره





H. Rizqi Zulqornain al-Batawiy














 

Minggu, 24 November 2013

Debat Ulama Sunni Dan Ulama Wahhabi (Lapar Campur Malu)



Guru kami Sayyid Abul Fakhr Sanaduddin Ali Bin as-Syarif al-Hasaniy penulis kitab sanad "al-Barqah al-Masyiqah Fi Dzikr al-Masyyukha al-Syariah Wa al-Haqiqah" pernah bercerita: " Pada suatu kesempatan makan malam tak disangka tak dinyana seorang ulama Wahhabiy kepapagan duduk satu meja dengan ulama Sunniy, ketika nampan makanan sudah dihidangkan rupa-rupanya ulama Sunniy yang terlebih dahulu berdoa kemudian menjulurkan tangan untuk meyantap makanan sambil berkata: "Alhamdulillah Rabbil 'Alamin, Allahumma Hadza Minka Wa Min Rasulika Shallallahu Alaihi Wa Sallam" (Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, Ya Allah Tuhan kami, makanan ini merupakan anugrah dari-Mu dan dari Rasulullah).

Mendengar kalimat tersebut ulama Wahhabiy sampai tekelap bagaikan bebek mendengar suara geluduk, sambil berkata: "Ya Syekh Sunniy, apa tidak salah itu kalimat? seolah-olah bagai dodol jatuh di pasir, biar kata masih manis, tapi terasa ngeres kalo dimakan. Kalimat itu mengandung kemusyrikan, ente telah jadikan sekutu bagi Allah !!! 

Ulama Sunni menjawab: "Ya akhi, kalo ngomong jangan samba wera sekata-katanya seenak waduk ente! Dimana letak kemusyrikkannya? Ulama Wahhabiy berkata:" Itu tadi ente sebut "makanan ini merupakan anugrah dari Allah dan Rasulullah." Pake kaga ngaku lagi. Ulama sunniy menjawab: "Bukankah dalam ayat al-Qur'an Allah Taala berfirman:




يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ مَا قَالُوا وَلَقَدْ قَالُوا كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَكَفَرُوا بَعْدَ إِسْلَامِهِمْ وَهَمُّوا بِمَا لَمْ يَنَالُوا وَمَا نَقَمُوا إِلَّا أَنْ أَغْنَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ مِنْ فَضْلِهِ فَإِنْ يَتُوبُوا يَكُ خَيْرًا لَهُمْ وَإِنْ يَتَوَلَّوْا يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ عَذَابًا أَلِيمًا فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَمَا لَهُمْ فِي الْأَرْضِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ .


Artinya: Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam, dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya; dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi. (surat at-Taubah ayat: 74).


Pada ayat lain Allah Taala berfirman:




وَلَوْ أَنَّهُمْ رَضُوا مَا آَتَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ سَيُؤْتِينَا اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَرَسُولُهُ إِنَّا إِلَى اللَّهِ رَاغِبُونَ

Artinya: "Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: "Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah," (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka). (surat at-Taubah ayat: 59)


Ulama Wahhabiy langsung menyangkal: "Demi Allah, karunia itu terjadi di zaman Rasulullah saat beliau masih hidup. Kalau sekarang Rasulullah sudah meninggal, jadi mengatakan karunia dari Rasulullah sudah dikategorikan syirik.


Ulama Sunniy menjawab:" kalau begitu maksud ente, berarti seseorang dibolehkan menyekutukan Allah dengan sesuatu yang hidup, tidak boleh dengan yang sudah meninggal ?? Bejad bangat aqidah ente, kalau sesuatu disebut syirik itu tetap syirik, dengan sesuatu apapun baik dengan yang masih hidup atau yang sudah meninggal!!


Kemudian ulama Wahhabiy itu diam bungkam seribu bahasa seperti cicak nelen kapur, lalu ia permisi meninggalkan tempat itu .. Dalam keadaan lapar campur malu, ulama wahhabiy kabur tanpa dihormat tak ubahnya orang ngelancong kerumah cewe, eh itu cewe kaga demen.



Kue Pancong ada lima
Dibungkus pake kaen
Ngelancong udah lama
Yang nikahin orang laen

Jakarta: 24 November 2013
H. Rizqi Zulqornain al-Batawiy


أيها المعرض عنا *** إن إعراضك منا

لو أردناك جعلنا *** كلَّ ما فيك يردنا

عباد أعرضوا عنا *** بلا جرم ولا معنى

أساؤا ظنهم فينا *** فهلا أحسنوا الظن

فإن خانوا فما خنا *** وإن عادوا فقد عدنا

وإن كانوا قد استغنوا *** فإنا عنهم أغنى

























  Disarikan dari kitab Dzakhiratul Muhtaj Fi Shalawat Ala Shahib al-Liwa Wa at-Taj jilid satu halaman: 392. cetakan kedua penerbit Yayasan al-Muafah 2013